Judul: Surga Retak
Penulis: Syahmedi Dean
Editor: Desmonia Ningrum
Penerbit: Gramedia
Ilustasi sampul: Iksaka Banu
Cetakan pertama, Juli 2013
Halaman: 488
ISBN: 978-979-22-9632-7
SINOPSIS
Anjani Suri dan Fatma (kembarannya) harus melintasi hutan di malam hari bersama Bapak. Suri harus memegang jaket bapak kuat-kuat agar tak terlempar dari sepeda motor. Sementara. Fatma yang sedang demam harus dijaga agar tetap duduk tegak.
Kemiskinan dan kebodohan yang membuat hidup mereka menderita. Bapak
menjual istrinya di meja judi, hingga akhirnya sang istri melarikan diri
ke China untuk bekerja. Suri dan Fatma hanya mendengar kabar dari para
tetangga. Karena sedihnya, Fatma berjanji tak akan bicara sama sekali.
Jadilah Fatma membisu sepanjang waktu.
Setelah menempuh perjalanan malam yang berat, mereka tiba di sebuah rumah kayu kecil, berlantai tanah, dan beratap rumbia. Suri tidak tahu mengapa mereka harus pergi. Meninggalkan rumah, sekolahnya, dan Murad, teman laki-laki yang padanyalah benih rasa cinta Suri tumbuh untuk yang pertama.
Sejak awal pindah, Suri sudah merasakan banyak keanehan di sekitarnya. Bapaknya lebih sering pergi. Ada perempuan lain bernama Tante Nur dan Rohana yang sebaya Suri, yang tiba-tiba menganggap mereka kerabat. Bahkan Bapak sering menginap di rumah Tante Nur. Suri dan Fatrma antara sedih dan nyaman. Sedih karena Bapak sudah mengkhianati ibu. Nyaman karena Tante Nur memperlakukan mereka seperti anak sendiri.
Pindah rumah ternyata tidak membuat kehidupan Suri dan Fatma membaik. Bahkan banyak kejadian mencekam di tepi perkebunan karet itu. Perkelahian hingga penembakan misterius. Orang-orang hanya bergantung pada Nek Ginthuk, seorang wanita tua yang dipercaya dapat menyelesaikan segala persoalan masyarakat di kampung tersebut. Bahkan akhirnya Suri tinggal bersama Nek Ginthuk. Meski banyak orang yang merasa takut pada perempuan tua itu, tapi justru Suri merasa aman dan nyaman. Dari Nek Ginthuk, Suri belajar banyak hal. Suri melihat dunia yang lebih luas hingga berkenalan dengan Wilson, pemuda keturunan China. Wilson lah yang menolong Suri saat berada dalam bahaya. Saat itu, tiba-tiba ada segerombolan orang membunuh Bapak dan berniat membawa Suri. Kampung menjadi kacau. Nek Ginthuk segera menyuruh Suri lari menemui Wilson dan meminta bantuan. Agar lebih aman, Wilson membawa Suri ke rumah Tante Esther di Medan.
Dari sinilah kehidupan Suri berubah. Suri yang naif dan baik, seperti bola yang menggelinding mengikuti kontur tanah tempat dia berada. Menggelinding dari satu tempat ke tempat lain. Dari rumahnya yang tenang menuju rumah baru yang penuh tragedi, berpindah menuju Medan dengan kehidupan yang lebih modern, hingga tiba di negara Singapura dengan segala kemewahan dan kerahasiaannya.
REVIEW
Novel ini berlatar belakang di daerah perkebunan Deli. Mengisahkan kondisi masyarakat di masa orde baru, ketika perkebunan peninggalan Belanda menjadi rebutan para petinggi negara. Banyak peristiwa yang tak jelas ujung dan pangkalnya. Tiba-tiba ada pembunuhan, perampokan, hingga perseteruan menjelang pemilu. Keluarga Suri adalah salah satu contoh masyarakat yang menjadi korban keadaan chaos itu. Bapak mewakili sosok warga yang menggantungkan hidup dari berjudi. Kebiasaan yang ternyata merupakan peninggalan Belanda untuk membodohkan rakyat sekaligus merampok uang mereka diam-diam.
Selain perjudian, tanah Deli juga dipenuhi dengan pelacuran. Murad, anak laki-laki yang belum genap berusia 17 tahun adalah salah satu korban dari sebuah keluarga yang berantakan karena kemiskinan. Bapaknya pergi entah ke mana, dan ibunya karena harus bertahan hidup terpaksa menjual Murad pada para istri orang kaya.
Deli adalah emas bagi Belanda (dahulu) dan para pejabat, tetapi "neraka" bagi penduduk aslinya. Masyarakat Deli juga sangat kompleks karena Belanda mendatangkan orang-orang dari China, Bagelen (Jawa), juga orang-orang India ke tanah Deli.
Sejujurnya saya bingung mereview novel ini. Banyak sekali tokoh yang dilibatkan dalam cerita dan masing-masing tokoh memiliki kisah hidupnya sendiri-sendiri. Main Character memang Suri, tetapi saya justru tidak jatuh simpati pada sosok Suri. Tak ada daya juang dalam diri Suri yang cukup besar. Padahal dengan segala kelebihan yang dimilikinya dan juga perasaan benci, cinta, dan tipu daya orang-orang di sekelilingnya harusnya cukup membuat Suri lebih agresif mengubah nasib dan meraih mimpinya.
Suri seperti boneka yang keberatan peran. Dari peran anak yang ditinggal ibunya, memiliki bapak yang tak peduli, saudara kembar yang membisu, hingga dijadikan alat untuk menceritakan zaman penjajahan Belanda dengan "dibebani" kemampuan melihat dunia lain.
Saya memang tidak menyukai kisah-kisah seperti itu, tetapi lebih disayangkan lagi, karena kemampuan Suri masuk ke dunia lain itu tidak menuju ke mana-mana. Jika dihilangkan pun tidak akan mempengaruhi jalan cerita karena tak ada hubungan dengan konflik yang dialami Suri dan juga tidak membawa penyelesaian. Mungkin akan lebih asyik jika cerita tentang Deli di masa penjajahan Belanda diungkapkan dari berbagai sudut pandang tokoh. Misal dari Nek Ginthuk atau dari Bapak.
Saya hampir menyerah di halaman 200-an, tetapi saya berharap akan ada kejutan di halaman selanjutnya. Jadi, saya bertahan meski banyak yang hanya saya baca sekilas. Setelah halaman 300-an, saya seperti membaca novel Bekisar Merah-nya Ahmad Tohari dengan ending yang lebih metropolis.
Karena penulisnya pernah menjadi wartawan fashion & lifestyle di majalah Femina maka tak kaget jika ada sentuhan fashion dan lifestyle era orde baru di novel Surga Retak. Tas dan sepatu branded ala Channel pun terselip dalam novel ini. Tak heran juga jika ada sosok macam Murad dan gay kita temui.
Jika Murad mengalami transformasi dalam hidupnya, begitu juga dengan Fatma, sayangnya transformasi Suri seakan-akan hanyalah kebetulan. Hanya seperti bola yang mengikuti kontur tanah tempatnya menggelinding.
Meski agak kecewa, tetapi saya jadi lebih tahu tentang Deli dan masyarakatnya juga intrik politik yang terjadi menjelang dan setelah kerusuhan Mei 98.
CATATAN LAIN:
Covernya cukup artistik menurut saya. Font-nya tidak membuat sakit mata untuk novel setebal 488 halaman. Sayangnya, di halaman 240 bagian dalam buku langsung terbelah jadi dua. Hampir semua buku tebal terbitan Gramedia mengalami hal yang sama. Entah terbelah jadi dua atau kertasnya lepas di sana sini.
Saya membeli buku ini karena nama Syahmedi Dean. Saya tertarik dengan tulisannya sejak membaca salah satu dari novel tetralogi fashion-nya.
Showing posts with label Gramedia. Show all posts
Showing posts with label Gramedia. Show all posts
Tuesday, 25 October 2016
Tuesday, 14 April 2015
Survivor in Death, J.D. Robb
Judul: Survivor in Death (Penyintas dalam Kematian) #seri 20
Penulis: J.D. Robb
Penerbit: Gramedia
Penerjemah: Shandy Tan
Terbit: 2014
ISBN: 978-602-03-0915-6
582 hal.
Survivor in Death adalah buku J.D. Robb pertama yang saya baca. Awalnya ragu untuk mengambil buku ini dalam rangka posting bareng subgenre romantic suspense, kaena mengira ini subgenre pararom..
Buku ini adalah salah satu serial In Death, dan ini seri ke-20. Kemarin waktu di GM, ada beberapa pilihan buku seri ini. Karena belum pernah membaca seri ini, jadi saya mengandalkan blurbnya. Dan saya tertarik karena seri ini melibatkan anak kecil.
Setting waktu dalam novel ini adalah tahun 2050-an, dengan gambaran teknologi yang sangat canggih. Misal komputer dengan sensor suara, mobil yang dapat terbang, manusia-manusia hologram, dan sistem komunikasi yang sangat efisien.
Tokoh utama dalam seri In Death adalah Letnan Eve Dalas (yang cantik, dingin, dan jiwa polisinya sangat tajam, sekaligus mengalami trauma) dan Roarke (yang sangat tampan, sangat cerdas, sangat kaya, sangat cinta pada sang Letnan, berambut panjang dan suka dikuncir #bikinklepek-klepek)
Survivor diterjemahkan dengan kata "penyintas". Karena penasaran dengan kata "penyintas" yang belum familiar, saya pun googling. Menurut artikata, penyintas adalah bertahan terus menerus. Wah, nambah kosakata baru nih.
Oke, mari kita bahas kisah Letnan Eve Dallas kali ini.
Tidak ada perselingkuhan. Tidak ada catatan kriminal. Tidak ada DNA yang
tertinggal. Tidak ada petunjuk apa pun. Kasus pembunuhan sadis keluarga
Swisher akan merupakan pembunuhan sempurna... seandainya tidak ada
gadis kecil yang bersembunyi dalam dapur gelap dan menyaksikan semuanya.
Letnan Eve Dallas tahu sang saksi tunggal, Nixie Swisher, belum luput dari bahaya karena cepat atau lambat pelaku akan menyadari kesalahan fatal tersebut. Dallas tahu dirinya harus menyelesaikan kasus ini sampai tuntas. Bukan hanya untuk Nixie. Bukan hanya untuk keadilan. Tapi juga untuk ketenangan batinnya sendiri yang terguncang oleh kenangan kelam dan ketakutan masa lalu seiring berlangsungnya penyelidikan tragedi ini.
Letnan Eve Dallas tahu sang saksi tunggal, Nixie Swisher, belum luput dari bahaya karena cepat atau lambat pelaku akan menyadari kesalahan fatal tersebut. Dallas tahu dirinya harus menyelesaikan kasus ini sampai tuntas. Bukan hanya untuk Nixie. Bukan hanya untuk keadilan. Tapi juga untuk ketenangan batinnya sendiri yang terguncang oleh kenangan kelam dan ketakutan masa lalu seiring berlangsungnya penyelidikan tragedi ini.
Kisah dibuka oleh Nixie Swisher yang mengidam orange fizzy. Karena kesukaannya pada minuman ini, hingga Nixie mengenda-endap ke dapur di tengah malam. Saat itulah, Nixie melihat bayangan hitam yang menyebabkannya kehilangan semua orang yang ia sayangi, termasuk sahabatnya, Linnie, yang saat itu menginap di rumahnya.
Ketika Eve datang ke TKP, Nixie masih bersembunyi di dalam kamar mandi dengan tubuh gemetar hebat. Insting Eve mengatakan bahwa Nixie masih dalam bahaya. Karena itu, Eve menyembunyikannya di kastil Roarke (yang juga jadi tempat tinggal Eve) yang sangat terjamin keamanannya.
Eve tahu dia berhadapan dengan penjahat yang sangat kejam dan profesional. Maka dia mengerahkan semua anak buahnya untuk menelusuri motif pembunuhan tersebut. dalam masa penyelidikan itu, seorang petugas sosial meninggal, dan dua polisi anak buah Eve dihabisi. Eve makin murka. Di sinilah peran Roarke sangat dibutuhkan. Roarke bukan polisi, tapi sepertinya Eve diberi izin oleh atasannya untuk meminta bantuan Roarke, karena Roarke yang mantan pembunuh bayaran itu tahu seluk beluk kejahatan dan orang-orangnya.
Di rumah Roarke yang megah akan kita ketahui berbagai teknologi canggih. Tak hanya komputer, tapi tempat hiburan, dan ruang olahraga yang bisa memunculkan lawan main dalam bentuk manusia hologram hingga setting yang berubah-ubah dari dojo hingga tepi pantai yang indah. Untuk hal ini saya tak bisa membayangkan bagaimana caranya.
Tahap-tahap penyelidikan para polisi sangat menarik diikuti. Bagaiman mereka menghubungkan orang-orang dengan kasus yang terjadi dirangkai dengan asyik. Saya ikut menebak-nebak motif apa yang dimiliki si pembunuh.
Dengan dialog-dialog yang mengalir, kadang lucu, kadang menyentuh pantaslah kalau banyak pembaca yang jadi fans seri In Death. Saya pun ketagihan ingin membaca urut dari seri pertama.
Letnan Eve Dallas digambarkan sebagai polisi yang sangat berdedikasi dan cerdas. Dia akan mengejar musuhnya seperti singa. Karena masa lalunya yang buruk, Eve menjadi dingin dan takut berhadapan dengan anak kecil, seperti Nixie.
Nixie Swisher digambarkan sebagai anak kecil berumur 10 tahun yang cantik, pemberani, kuat, dan cerdas. Nixie, karena didikan yang baik, menjelma menjadi gadis kecil yang penuh kasih sayang dan dewasa.
Sedangkan Roarke adalah sosok suami idaman, baik secara fisik maupun kepribadian. Perhatiannya pada Eve benar-benar membuat hati berdesir.
Sejujurnya saya bingung apa lagi yang harus saya tulis untuk review ini. Pokoknya, saya tak rugi membeli buku ini, meski harganya lumayan.
Salah satu adegan menegangkan tapi saya tertawa dan sangat berkesan adalah ketika Eve memancing tersangka di jalan raya. Eve memerintahkan Trueheart untuk turun dari mobil dan membeli minuman. Eve ingin meyakinkan bahwa mobil van di belakangnya memang membuntuti. Setelah Trueheart masuk mobil, Eve bermanuver untuk mengikuti mobil van itu. Mereka akhirnya berkejaran di jalan dan udara. Meliuk-liuk hingga mengacaukan lalu lintas. Tersangka sempat menembakkan senjata ke mobil Eve. Sayangnya, Eve kehilangan jejak. Dalam kondisi marah, jantung Eve berhenti berdetak ketika melihat baju Trueheart dipenuhi cairan merah. Eve mengira Trueheart terkena tembakan, ternyata fanta yang dibelinya tumpah ketika Eve bermanuver.
Adegan-adegan menegangkan, lucu, romantis, dibumbui dialog-dialog kasar Eve dan polisi lainnya bertebaran di buku ini.Dan itu bikin nagih.
Begitu saja deh reviewnya. Meskipun di bab awal cukup mengerikan dan saya tak berani membacanya saat sendirian, tapi akhirnya saya menuntaskan baca dengan puas.
Saturday, 6 December 2014
Satria November #2
Hai, masih ingat aku, Mima, yang pernah ngalamin petualangan menegangkan tak terlupakan bareng Inov alias Satria November? Namanya, sih, keren, tapi, dia kemarin terlibat dengan kasus narkoba. Kalau lupa, baca dulu kisahku di seri 1. Emm, tapi langsung ke seri 2 juga nggak pa-pa, sih. Nggak bakal bikin bingung, karena di halaman awal ada ringkasan kisahku bareng Inov. Aku kenal Inov karena dia anak sahabat Mama. Supaya jauh dari genk narkoba yang masih mempengaruhi, Inov dititipin ke rumahku. Dan karena itu, aku terlibat dalam petualangan seru bareng Inov.
Jadi, Satria November #2 ini lanjutan dari Satria November--cover lama tanpa #1 dan covernya hijau lembut. Sekarang dicetak lagi dengan cover hijau juga tapi style sama dengan cover Satria November #2. Kemarin ngintip sekilas, font-nya lebih enak. Lebih gede dan nggak rapet-rapet kayak yang edisi lama.
Oya, tahu, kan, yang nulis novel ini MIA ARSJAD? *Tahu lah Buuu, orang di cover ada*. Pinter, deh, berarti nggak usah dijelasin. *ditoyor pakai tulang manusia purba.
Karena Inov, aku sekarang sama Gian resmi jadi pacaran. Tapi, tetap saja aku suka kangen sama Inov. Dia kan udah deket banget dan jadi tempat curhatku, jadi nggak pa-pa, kan, kangen? Biasanya kita suka sms, wa, dan lain-lain, tapi ini sudah dua harian, Inov nggak bales pesanku. Padahal kata Mama, yang telepon sama bundanya Inov, dia baik-baik saja.
Aku, sih, mana percaya?
Dan, aku kaget setengah mati, ketika tahu-tahu Inov muncul di hadapanku. Kapan dia datang ke Bandung? Kenapa dia nggak bales pesanku? Ternyata Inov masih si robot somplak. Ekspresinya masih datar sedatar-datarnya, ngomongnya cuma sepatah kata.
Meski begitu, aku seneng banget akhirnya bisa ketemu Inov. Apalagi dia ngaku sengaja bikin kejutan untuk ultahku. Ih, sweet banget, ya. Tapi ternyata senengnya nggak lama. Inov ternyata menyembunyikan rahasia. Dan dia bohong sama aku, Mama, dan semua orang. Aku jelas kepo dan sok jadi detektif ngikutin Inov. Aku kaget setengah mati, ketika mendapati Inov tinggal di rumah yang kumuh sekumuh-kumuhnya, dan tampak sedang ada urusan dengan orang-orang bertato, berbadan kekar, berwajah bengis sebengis-bengisnya *Hmmmpfttt*.
Jadi, seperti kisahku yang pertama, kali ini karena kekepoanku dan kecerobohanku, aku ikut terlibat langsung dalam sebuah kejahatan dan genk kriminal.Karena sudah ketahuan, Inov harus pura-pura kalau kami pacaran. Aku tak bisa berbuat apa-apa kalau mau Inov, aku, dan Mika--kakak kembarku--selamat.
Sebenarnya nggak masalah aku selalu bersama Inov, tapi ada Gian. Gimana, dong? Dan bisa ditebak, bagaimana marahnya Gian sama aku. Yah yah ... aku paham dia marah. Tapi, aku juga tak bisa bilang jujur karena pertaruhannya nyawa kami. Dan aku juga nggak mau menggagalkan operasi penangkapan Boss Besar dan komplotannya yang sudah dirancang matang oleh kepolisian.
Karena Inov, aku melihat secara langsung adegan kekerasan dan darah yang membuatku gemetar dan mual. Karena Inov, aku harus berbohong, dari satu kebohongan ke kebohongan yang lain. Tapi, ini bukan kesalahan murni Inov. Ini salahku yang suka telat gunain otak.
Tapi, dari pengalaman ini aku belajar agar lain kali nggak kepo akut, mikir dulu baru bertindak.Aku jadi tahu betapa kejamnya dunia hitam, dan betapa mirisnya saat anak-anak seusiaku terperosok ke dalam jurang kejahatan hanya demi gengsi dan uang.
Mia Arsjad pinter banget menuliskan kisahku dengan kalimat-kalimat dan dialog lucu yang bikin aku ngikik sendiri saat baca tulisannya. Makasih ya, Mia, telah menulis kisah ini, dan aku menangis lagi saat membaca halaman-halaman akhir, sebelum ditutup dengan kisah yang serasa ngemut gula.
Covernya aku no comment *bukan sok ngartis*, tapi aku cuma tertarik dengan font judulnya. Ilustrasi lainnya biasa aja, nggak jelek tapi juga nggak bagus yang bikin aku ngeliatin lama. Meskipun syukurlah warna birunya nyala banget waktu dipajang di rak buku. Jadi, kalau nyari nggak susah.
Nah, ini, kenapa di awal-awal banyak typo coba? Ada juga yang keliru nyebut nama. Harusnya yang ngomong A, tapi ditulis B. Secara ini terbitan Gramedia, yang kata seorang editor *kedip-kedip* dia suka takjub dengan zero typo buku-buku Gramedia.
Selain itu, aku merasa nggak rugi, sih, udah ngeluarin uang buat beli buku ini *kisah sendiri, kan, pantas, untuk dikoleksi*. Betuull?
Supaya nggak pada bingung, aku tulis siapa saja tokoh di cerita ini dan karakternya:
Aku (Elmima Srikandi Millenia): kata orang aku tengil, suka merepet kayak betet sampai-sampai semua orang yang aku ajak bicara sering mbekep mulutku biar diam. Tapi aku baik, berani (atau kepo?), dan penuh perhatian--terutama pada Inov.
Inov alias Satria November: robot somplak tanpa ekspresi, nggak bisa ngomong panjang kecuali saat bulan purnama--boong deng--, jangkung, sekarang lebih berisi karena sudah terapi setelah kecanduan narkoba dan paru-parunya membaik, sayang banget sama aku --sepertinya--, heroik, dan nerima aku apa adanya meski suka nyeplos pedas dan nyindir.
Gian: pacar aku , ketua Osis, pintar, berwibawa, selalu rapi pi ... pi ..., bahkan selalu pakai sepatu pantofel yang mengilap, dan berusaha membuat aku jadi cewek feminin dan anggun.
Mika: kakak kembarku, yang tetep suka ngeledek aku tapi kami saling menyayangi. Perannya kurang banyak di seri 2 ini. Soalnya Mika sudah punya cewek, jadi dia sibuk sama ceweknya. Dasar!
Mama: yaah, kayaknya dari Mamalah bakatku merepet dan suka teriak kayak Tarzan.
Teh Julia: asisten di rumah, logat sundanya dicampur Inggris bikin ngakak njengkang. Dia mengaku masakannya jauuuuuh lebih lezat daripada para chef cantik seksi di tv. Terserahlah!
Tante Helena: Bunda Inov. Dia sangat menyayangi Inov.
Kiki, Dena, Reva: sahabatku yang paling baik tapi konyol dan sok-sok berlagak jadi wartawan dan detektif yang hobi menginterogasiku.
Labels:
#Review2014,
Gramedia,
Mia Arsjad,
ngikik,
Teenlit,
terharu
Tuesday, 18 February 2014
The Tale of Despereaux
Cerita tentang
seekor tikus, seorang putri,
sedikit sup, dan
segulung benang
Pemenang Newberry Book 2004Ditulis oleh Kate DiCamillo
Ilustrasi oleh Timothy Basil Ering
Alih bahasa oleh Diniarty Panda
Diterbitkan oleh Gramedia 2005
Buku Pertama
LAHIRNYA SI TIKUS
Dalam bagian ini kita akan membaca kisah lahirnya si Despereaux di sebuah 'rumah' di balik dinding-dinding kastil, dari Dan dimulailah kisah Depereaux Tilling yang bertubuh sangat kecil, dengan telinga yang sangat besar. Dia bukan hanya dapat bertahan hidup dengan tubuh sangat kecilnya, Despereaux bahkan menjadi tikus yang mabuk asmara terhadap Putri Pea, putri Raja Phillip dari Kerajaan Dor. Tikus kecil yang aneh, yang lebih suka membaca daripada mengerikiti kertasnya seperti saudara-saudaranya.
Buku Kedua
CHIAROSCURO
Jika Despereaux adalah tikus kastil yang punya derajat 'mulia' yang menyukai cahaya maka Roscuro adalah tikus got yang tinggal di ruang bawah tanah, yang tak peduli apakah ada cahaya atau gelap. Karena itulah ia diberi nama chiaroscuro. Tapi sejak dia menemukan tali panjang dan mengerikitinya, sehingga Gregory, pemilik tali, itu marah dan menyalakan api tepat di depan mata Roscuro, tiba-tiba saja Roscuro memiliki ketertarikan sangat pada segala yang ber'cahaya'. Cahaya adalah arti kehidupan, begitu pendapat Roscuro.
Dan sejak ia mencintai cahaya, sejak itu pula hidup Roscuro menderita. Tepat seperti perkataan sahabatnya, tikus tua Boticelli Remorso, bahwa arti kehidupan adalah kesedihan, penderitaan, dan kegelapan.
Buku Ketiga
Buset!
Kisah Miggery Sow
Segenggam rokok, selembar taplak meja merah, dan seekor ayam betina, adalah penyebab Miggery Sow (Mig) akhirnya memiliki telinga serupa kembang kol yang menghiasi kedua telinganya. Ditinggal oleh mamanya untuk selamanya, akhirnya Mig yang kebingungan makin bingung ketika papanya pergi dengan segenggam rokok, selembar taplak meja merah yang melilit lehernya, dan seekor ayam betina terkepit di ketiaknya. Pergi meninggalkan Mig pada seorang Paman yang tak hanya mengubah telinganya menjadi kembang kol tapi sekaligus membuat Mig tak bisa mendengar jelas, sehingga Mig terbiasa berteriak jika bicara. Dan setelah melongo saat melihat rombongan istana dengan kereta kuda yang indah dan penumpang yang tak kalah indah, dimulailah petualangan Mig dan satu harapannya yang sangat mustahil terjadi. Buset!
Buku Keempat
Dalam Cahaya Lagi
Di bagian ini, kita akan menemukan semua tokoh dari ketiga cerita di atas saling bertemu, saling berinteraksi. Konflik memuncak di bagian ini. Konflik antara tikus dan manusia dan sup. Di bagian ini kita lebih banyak diajak melihat cahaya dan istana dan dapur yang beraroma lezat.
Tertarik membeli karena ada tulisan Pemenang Newberry Book di sudut bawah, karena covernya yang berupa ilustrasi seekor tikus dengan benang merah melilit tubuhnya dan sebatang jarum terseret di samping tubuhnya, tentu saja tidak akan membuat tangan saya terulur untuk mengambilnya. Tikus, binatang menjijikkan bagi saya.
Tapi, Kate DiCamillo berhasil menyingkirkan rasa jijik itu melalui Despereaux selama membaca kisahnya. Yang ada justru takjub, penasaran, gemas, juga terharu. Bahkan saat Despereaux mencicipi sup dari koki dapur rasa jijik saya menjelma jadi kelegaan dan rasa hangat yang menguar dari kuah sup itu.
Kisah ini unik, dengan narasi yang cantik dan hangat karena penulis sering menyapa pambacanya (anak-anak) dengan kalimat-kalimat seperti:
Anak-anak, kau harus tahu bahwa takdir yang seru ....
Anak-anak aku harus melaporkan bahwa yang dilihat Furlough belumlah seberapa.
Dan sapaan-sapaan langsung sepanjang cerita hingga penutupnya.Saya benar-benar iri karena Kate DiCamillo bisa bercerita tentang tikus sebagus ini. Melalui tokoh-tokoh di sini, kita akan belajar memahami alasan di balik perbuatan mereka masing-masing. Bahkan untuk tokoh antagonis (kalau bisa disebut demikian) seperti Roscuro dan Mig pun kita akan dibawa pada rasa simpati dan memahami perbuatan mereka, bahkan saya bisa memahami mengapa Mig punya impian yang menggelikan semua orang.
Pembagian buku ini menjadi 3 bagian, yang masing-masing menceritakan satu tokoh, membuat karakter tokoh menjadi kuat. Saya menyukai gaya penulisan ini. Fungsi lain dari pembagian ini ternyata dapat menimbulkan efek misteri, sehingga kita (saya) penasaran sekaligus kaget dan lega ketika menemukan korelasi kisah kain merah di penjara bawah tanah dan Mig.
Di bab lima puluh dua, satu bab sebelum penutupnya yang pendek, yang berjudul 'bahagia selamanya' saya dibuat kagum dengan cara Kate mengakhiri cerita bagi semua tokohnya. Bahagia selamanya, yang dibuat oleh penulis bukan bahagia ala Cinderella. Awalnya saya sempat deg-deg-an mengikuti kisah Despereaux dan cintanya pada Putri Pea. Bagaimana seekor tikus berpasangan dengan putri manusia? Tapi, bagaimana kalau si tikus patah hati karena perbedaan mereka, melihat apa yang telah ia lakukan demi Putri Pea. Dan ending di buku ini membuat saya termangu setelah menutup halaman terakhirnya. Penulis bisa membuat saya lega, dengan akhir setiap tokohnya, meski tidak harus seperti harapan mereka semula. Dan akhirnya saya dapat mengembuskan napas dengan lega.
Tentang Miggery Sow
Rupanya Mig menjadi tokoh yang paling disukai Syakira (anak saya). Saat itu, saya coba membacakan kepadanya dan dia dengan antusias mendengarkan. Bahkan kakaknya yang sedang belajar, ikut mendengarkan dan menuntut saya untuk menceritakan lagi nanti. Deskripsi tentang Mig dengan telinga kembang kolnya dan kata 'buset" yang menjadi ciri khas Mig membuat Syakira terbahak-bahak. Bahkan Syakira (anak saya) meminta buku itu untuk dia baca sendiri.
Hah, tiba-tiba saya ingin sekali bisa menulis kisah semenarik cara Kate DiCamillo berkisah.
Kalimat-Kalimat yang Menarik
Sepanjang bukunya, kita akan menemukan banyak kalimat dan ungkapan yang menarik.Beberapa yang saya tulis di bawah ini.
Kalau jadi raja, kau boleh membuat peraturan konyol sebanyak yang kau mau. Itulah enaknya menjadi raja. (Ini tentang Raja Phillip yang memerintahkan agar semua tikus got dibunuh, dan larangannya memasak sup di seluruh kerajaan)
Cinta, seperti yang telah kita bicarakan di depan adalah sesuatu yang kuat, indah, konyol, mampu memindahkan gunung. Dan gulungan benang.
Cerita seperti cahaya.
Typo
Sebenarnya tidak terlalu mengganggu, tapi untuk penerbit Gramedia saya agak takjub jika ada typo
hal 143: taplak meja meja itu lagi (harusnya kata 'meja' hanya satu)
hal 247: ... omonganmu yang ga-ga-gagap (gagap-gagap)
hal 267: "Bunuh aku," kata Roscuro. Ia jatuh berlutut di depan Roscuro (harusnya di depan Despereaux)
FILM
Ternyata sudah ada film animasinya *telat*. Sayangnya saya baru melihat trailernya dan langsung merasa tidak cocok dengan cerita di dalam bukunya. Misalnya Putri Pea, yang dalam bayangan saya masih imut dan dan berpipi gembul dan lembut dan ramah, di animasinya malah tampak dewasa dan jutek.
Begitu pula dengan Mig yang khas dengan telinga kembang kolnya, di film telinganya biasa-biasa saja.
Saat melihat Behind the Scene filmnya ternyata pengisi suara Putri Pea adalah Emma Watson, sedangkan Despereaux diisi oleh Matthew Broderick.
Selama ini saya melihat dubber biasanya hanya duduk atau berdiri di balik peralatannya (alat rekam) tapi saat melihat proses pengisian suara (istilanya apa sih? ) saya mendapat pengalaman baru. Saya baru tahu kalau para pengisi suara ternyata berakting sama dengan kisahnya. Jika harus melempar, dia melempar beneran dan blug! mengenai lawan mainnya :D
Begitu juga dengan gebrakan di meja, pukulan, lemparan alat-alat dapur, semua dilakukan oleh para pengisi suara. Dan suara yang dihasilkan memang menjadi sangat ekspresif. Ow... saya kagum dengan totalitas mereka,
Saturday, 8 February 2014
Mata yang Enak Dipandang
![]() |
| gambar dari goodread |
Terbit pertama kali oleh Gramedia tahun 2013
Desain sampul: eMTe
216 hlm; 20 cm
Saat Dion menawarkan buntelan di grup BBI, bertepatan saya membuka FB, sehingga dengan cepat saya dapat memilih buku ini. Jaminan nama pengarangnya membuat saya tak ragu, apalagi covernya yang kuning terang sangat tertangkap mata. Dan tentu saja judulnya yang biasa, berbentuk kalimat utuh, tak berima, dan menurut saya kurang puitis. Tetapi pada dasarnya Ahmad Tohari memang tidak pernah (setahu saya) menulis dengan kata-kata puitis, meliuk-liuk, sebelum sampai pada maksudnya. Ahmad Tohari itu apa adanya, dan karena itulah saya menyukai karya-karyanya.
Kisah pertama yang diberi judul (1) Mata yang Enak Dipandang seketika membuat hati saya tersinggung. Sungguh. Bayangkan saja bagaimana melalui tokoh Marta yang buta, Ahmad Tohari mempermalukan saya, mempermalukan mata saya yang berharga ini sebagai mata yang tak enak dipandang, karena beberapa kali saat naik kereta api merasa lebih nyaman dan berpihak pada peraturan yang melarang para pedagang, pengamen, apalagi pengemis "seperti Marta" berlalu-lalang di lorong kereta. Mata yang tak peduli, karena berada di kereta yang nyaman dan bersih, pada sosok-sosok Marta, yang menyipit saat melihat mereka.
(2) Bila Jebris Ada di Rumah Kami bercerita tentang Jebris, pelacur, yang tinggal di lahan yang sama dengan Ratib, seorang ustadz kampung. Sama seperti Sar, istri Ratib, saya juga deg-degan untuk mengetahui bagaimana pendapat dan sikap Ratib dengan keberadaan Jebris. Cara Ratib memandang persoalan ini menjadi pelajaran buat kita.
Cerpen keempat membuat saya terpaksa mengeluarkan satu kata yang kami tabukan di rumah, yaitu "Gillaaaaaa!" Berkisah tentang orang-orang yang datang ke rumah kita dengan maksud meminta sumbangan, entah untuk yayasan penderita cacat atau menjual barang-barang yang "ngaku"nya hasil buatan para difable. Mereka memang "mungkin" penipu. Tetapi (3) Penipu yang Keempat, penipu yang jelas lebih pandai itu ternyata adalah saya, bisa juga kamu, atau dia! Ahmad Tohari benar-benar membuat saya terperangah sekali lagi karena "kecaman"nya yang dengan semena-mena menelanjangi saya. Gila!
Pada kisah (4) Daruan, pembaca akan tahu kisah seorang penulis yang puluhan karyanya tak juga tembus penerbit. Hingga suatu hari, atas kebaikan sahabatnya, Muji, Daruan akhirnya dapat melihat karyanya dalam bentuk buku. Penulis mana yang tak sumringah saat melihat karyanya akhirnya dibaca orang. Dan tentu saja seiring dengan itu, harapan akan masa depan yang cerah, tak lagi nebeng hidup pada istri akan segera terjadi. Itu mimpi dan harapan Daruan, dan tentu saja Daruan-Daruan yang lain. Saya dapat merasakan euforia Daruan saat menerima bukunya, serupa menimang bayi yang telah dikandungnya berbulan-bulan sengan susah payah, tak jarang harus begadang, lupa mandi, lupa makan, dan akhirnya lahir. Namun semua euforia itu pupus seketika. Harga diri Daruan yang hancur membuat saya harus selalu ingat untuk bernapas. Bukan saja karena bukunya tidak dijual di toko buku bergengsi, tetapi juga ternyata masih utuh di tangan pedagang asongan, menjadi efek paling menyakitkan dari sebuah perjuangan panjang seorang Daruan (penulis).
Lagi-lagi Ahmad Tohari bercerita tentang kekalahan seorang laki-laki (suami). Dalam (5) Warung Penajem, Kartawi, petani dengan secuil lahan, itu mendapat imbas dari obsesi istrinya untuk menjadi orang kaya. Di cerpen ini, saya serasa ikut menjadi pelanggan Jum dan bergosip tentangnya, saking dekatnya tokoh cerita itu dalam kehidupan sehari-hari.
(6) Paman Doblo Merobek Layang-Layang, padahal dia adalah ikon seorang pahlawan di desanya. Jika mereka mengalami kesulitan maka Paman Doblo akan segera turun tangan dengan senyum yang selalu menghias wajahnya. Sayangnya, kalimat "Untung ada Paman Doblo", itu kini harus ditelan dengan susah dan sedih, semenjak Paman Doblo diangkat sebagai satpam di kilang minyak yang baru dibangun.
Ada sebuah kisah tentang seorang yang telah membunuh 99 orang. Dia pun bertobat dan mencari seseorang yang dapat menunjukkan jalan tobatnya. Namun, orang ke-100 ini tidak seperti yang dia harapkan sehingga dibunuhlah orang ini, dan genaplah dia membunuh 100 orang. Dengan penuh kesedihan, orang ini berjalan untuk menemukan seseorang yang dapat menuntunnya pada sebuah pertobatan. Sayangnya, sebelum dia sampai (bertemu) dengan orang alim tersebut, dia meninggal. Saat itulah malaikat rahmat dan malaikat azab berebut. (7) Kang Saripin Ingin Dikebiri, memiliki pesan yang sama. Lelaki paling konyol dan nekat yang mencari jalan keluar atas nafsunya yang tak dapat ditundukkan. Pesannya adalah "jangan sok menjadi panitia penghitung amal!"
Kisah selanjutnya adalah kisah tentang Kasim yang berusaha menyeberang jalan raya untuk menuju secuil sawahnya yang menunggu dipanen. Namun, arus mudik yang padat membuat Kasim harus menahan kesabaran. Berjam-jam dia menunggu kesempatan dari para pemudik yang hendak bersilaturahim dan bermaaf-maafan, untuk menyeberang. Bayangan akan burung pipit yang rakus menuai duluan, membuat Kasim berani melangkah dengan gagah menyeberang jalan raya. Untuk cerpen ini, sayang endingnya kurang menyentak. Mungkin karena terlalu berat muatan kritiknya, sehingga ketika (8) Akhirnya Kasim Menyeberang Jalan jadi terasa kurang menyentuh.
Pada (9) Sayur Bleketupuk, saya merasa mendapat pesan penting dari Ahmad Tohari melalui prasangka Parsih pada suaminya, Kang Dalbun. Janji Kang Dalbun untuk mengajak anak istrinya naik jaran undar, menjadi awal malapetaka di rumah mereka. Tragis.
Setelah kisah tragis tersebab ketidaksabaran dan prasangka Parsih, pada (10) Rusmi Ingin Pulang, sayangnya terasa datar. Ketakutan Kang Hamim akan kepulangan Rusmi, anaknya, yang menurut desas-desus menjadi pelacur di kota, membuatnya harus memastikan pada Pak RT bahwa anaknya diterima di kampung ini. Dan setelah itu memang tak terjadi apa-apa, selain kedatangan Rusmi yang disusul oleh lelaki baik dan tampak kaya.
(11) Dawir, Turah, dan Totol, tiga nama yang "aneh", juga kisah mereka bertiga yang tak kalah mengherankannya. Tiga sosok manusia yang saling mengikatkan diri di antara kardus-kardus bekas dan tempat sampah. Saya hanya bisa mendesah berat mengikuti kisah tiga tokoh ini.
Sementara Dawir, Turah, dan Totol yang tak tahu besok mau makan apa, sebaliknya Kang Narya memiliki (2) Harta Gantungan, berupa kerbau, yang akan digunakan sebagai imbalan untuk mengurus jenazahnya kelak. Trenyuh, yang saya rasakan saat membaca cerpen ini.
" ... yang gagah, yang cantik, yang mulus, yang bopeng, sama saja. Di mataku mereka akan segera berubah menjadi tengkorak dan tulang-tulang yang berjalan kian kemari ...." Itulah yang dilihat oleh mata Sardupi. Dia bahkan pernah dihajar oleh Pak Braja, hansip pasar, karena tertawa terbahak-bahak saat diajak bicara hansip itu. Masalahnya Sardupi tidak bisa menahan tawanya karena (13) Pemandangan Perut yang dilihatnya. Mata Sardupi, mata yang dapat melihat perut orang-orang berdasarkan tabiat mereka. Sebuah cerpen religius, dengan gaya supranatural.
Cerpen yang juga sama-sama religius, menampilkan hubungan transedental antara Markatab yang mendapat ucapan (14) Salam dari Para Penyangga Langit.
Berbeda dengan keempat belas cerpen di atas yang terdiri dari 9-10 halaman, di (15) Bulan Kuning Sudah Tenggelam, kita akan disuguhi sebuah novelet yang mengisahkan tentang Ayuning Rahadikusumah, anak angkat seorang bupati terhormat, yang harus menentukan pilihan antara ayah angkat yang telah melimpahinya dengan kasih sayang tak terkira atau Koswara, suami tercintanya. Kisah yang sangat menyentuh bagi kita yang memiliki orang tua yang kukuh tinggal di rumah mereka, sendirian, sementara kita berada nun di sana. Membawa serta mereka tak bisa, sementara kita pun punya sejuta satu alasan jika harus tinggal di rumah orang tua. Sebuah masalah pelik, karena dalam sebuah hadits disebutkan, dengan konteks bebas yang intinya "sungguh terlalu mereka yang tidak masuk surga sedang orang tuanya masih ada di sisi mereka". Sungguh sebuah dilema.
Lima belas cerpen yang saya beri 5 bintang ini tak salah menjadi pilihan saya di antara buku lain yang ditawarkan. Terima kasih telah memilih saya menjadi pemilik Mata yang Enak Dipandang.
Friday, 1 February 2013
The Railway Children
The Railway Children: Anak-Anak Kereta Api
Penulis: Edith Nesbit
Alih Bahasa: Widya Kirana
Desain dan Ilustrasi Sampul : Satya Utama Jadi
Penerbit: Gramedia
Tahun Terbit: Juni 2010 (cet. ke-2)
Juml Hal: 312 hal.
Untunglah Ayah pulang, tapi Peter tahu sopan santun, sehingga menunggu Ayah selesai makan malam dan menikmati cerutu-habis-makannya. Saat itulah dua orang pria ingin bertemu Ayah. Sejak saat itu, Ayah pergi hingga keesokan harinya. Mereka terus menunggu, tapi keesokan harinya, dan hari berikutnya, dan setelah itu, Ayah tak juga muncul. Tak ada yang tahu dan tak ada yang mau memberitahu.
Tiba-tiba mereka harus pindah ke sebuah pedesaan, meninggalkan rumah mereka yang nyaman. Sejak itulah kisah seru ketiga anak itu dimulai bersama 'kereta api'.
Mereka harus tinggal di sebuah rumah tua yang dingin dan lembah dan gelap dan tikus. Hari berikutnya niat 'baik' Peter untuk membantu ibunya mendapatkan batubara ternyata tak sebaik akibatnya. Kisah-kisah seru mereka alami. Kisah paling berkesan adalah ketika usaha mereka melambaikan selembar kain setiap hari, setipa kereta api lewat mendapat sambutan dari seorang pria tua, salah satu penumpang kereta.
Edith Nesbit menceritakan mereka sebagaimana adanya seorang anak-anak. Kadang patuh kepada Ibu mereka yang 'sempurna', kadang menimbulkan masalah dan berkelahi sebagaimana layaknya kakak beradik. Kisah mereka manis dan mengharukan.
Setting pedesaan (Yorkshire) dengan padang rumput dan kebun dan bukit khas novel klasik seperti Secret Garden, Heidi, Pollyana, juga the Story Girl.
Rahasia tentang Ayah tersimpan hingga akhir cerita. Edith Nesbit mengakhiri ceritanya dengan sangat manis dan menggemaskan. Gaya penuturan yang ditujukan langsung kepada pembaca membuat saya menutup buku dengan senyuman yang baru memudar setelah beberapa menit.
"Kurasa sebaiknya kita tidak membuka pintu itu dan mengikutinya ke dalam. Kurasa, saat ini, kehadiran kita di sana hanya akan mengganggu. Yang terbaik yang bisa kita lakukan adalah mundur perlahan-lahan, lalu pergi diam-diam ...."
Banyak puisi yang dibuat oleh Ibu untuk ketiga anaknya. Salah satunya puisi yang dibuat ketika Roberta (Bobbie) ultah yang ke-4 dan saya sangat suka. Tak hanya indah tapi ada unsur belajar berhitung di dalamnya :
Ayah sayang, umurku baru empat,
Dan aku tak mau jadi tua
Paling asyik umur empat,
Dua tambah dua atau satu tambah tiga
Aku pilih dua tambah dua
Ibu, Peter, Phil, dan Ayah
Yang Ayah cintai satu dan tiga,
Ibu, Peter, Phil, dan Roberta
Beri aku cium manis
Karena aku pandai membuat puisi.
Kisah-kisah ketiga kakak beradik ini penuh dengan keberanian, tekad, kasih sayang, dan kepedulian dengan bahasa yang mudah dipahami sehingga buku ini cocok untuk pembaca mulai usia 10 tahun.
Kisah lain:
Saya membaca novel ini ketika dalam perjalanan ke Jakarta dengan kereta api bersama suami dan kedua anak saya. Setengah sengaja memilih buku ini untuk menemani perjalanan dan mengambil fotonya di dalam kereta.
Posting ini saya ikutsertakan dalam Reading Challenge Fun Year Event with Children Literature bulan Januari (FMs-1) dengan tema CLASSIC yang diselenggarakan oleh Bacaan B Zee.
Penulis: Edith Nesbit
Alih Bahasa: Widya Kirana
Desain dan Ilustrasi Sampul : Satya Utama Jadi
Penerbit: Gramedia
Tahun Terbit: Juni 2010 (cet. ke-2)
Juml Hal: 312 hal.
Tadinya mereka bukan anak-anak kereta api.
Begitulah cerita ini dimulai. Mereka adalah anak-anak biasa yang tinggal di pinggiran kota bersama Ayah dan Ibu, dan segala macam perlengkapan modern. Perubahan itu datangnya sangat tiba-tiba. Peter sedang berulang tahun yang ke-10. Hadiah paling menarik yang diterimanya adalah si Lokomotif. Saat sedang memainkannya dengan Phyliss, adik perempuannya, si Lokomotif meledak. Tak ada yang bisa memperbaiki, kecuali Ayah.Roberta, kakak perempuan mereka pun tak bisa berbuat apa-apa.Untunglah Ayah pulang, tapi Peter tahu sopan santun, sehingga menunggu Ayah selesai makan malam dan menikmati cerutu-habis-makannya. Saat itulah dua orang pria ingin bertemu Ayah. Sejak saat itu, Ayah pergi hingga keesokan harinya. Mereka terus menunggu, tapi keesokan harinya, dan hari berikutnya, dan setelah itu, Ayah tak juga muncul. Tak ada yang tahu dan tak ada yang mau memberitahu.
Tiba-tiba mereka harus pindah ke sebuah pedesaan, meninggalkan rumah mereka yang nyaman. Sejak itulah kisah seru ketiga anak itu dimulai bersama 'kereta api'.
Mereka harus tinggal di sebuah rumah tua yang dingin dan lembah dan gelap dan tikus. Hari berikutnya niat 'baik' Peter untuk membantu ibunya mendapatkan batubara ternyata tak sebaik akibatnya. Kisah-kisah seru mereka alami. Kisah paling berkesan adalah ketika usaha mereka melambaikan selembar kain setiap hari, setipa kereta api lewat mendapat sambutan dari seorang pria tua, salah satu penumpang kereta.
Edith Nesbit menceritakan mereka sebagaimana adanya seorang anak-anak. Kadang patuh kepada Ibu mereka yang 'sempurna', kadang menimbulkan masalah dan berkelahi sebagaimana layaknya kakak beradik. Kisah mereka manis dan mengharukan.
Setting pedesaan (Yorkshire) dengan padang rumput dan kebun dan bukit khas novel klasik seperti Secret Garden, Heidi, Pollyana, juga the Story Girl.
Rahasia tentang Ayah tersimpan hingga akhir cerita. Edith Nesbit mengakhiri ceritanya dengan sangat manis dan menggemaskan. Gaya penuturan yang ditujukan langsung kepada pembaca membuat saya menutup buku dengan senyuman yang baru memudar setelah beberapa menit.
"Kurasa sebaiknya kita tidak membuka pintu itu dan mengikutinya ke dalam. Kurasa, saat ini, kehadiran kita di sana hanya akan mengganggu. Yang terbaik yang bisa kita lakukan adalah mundur perlahan-lahan, lalu pergi diam-diam ...."
Banyak puisi yang dibuat oleh Ibu untuk ketiga anaknya. Salah satunya puisi yang dibuat ketika Roberta (Bobbie) ultah yang ke-4 dan saya sangat suka. Tak hanya indah tapi ada unsur belajar berhitung di dalamnya :
Ayah sayang, umurku baru empat,
Dan aku tak mau jadi tua
Paling asyik umur empat,
Dua tambah dua atau satu tambah tiga
Aku pilih dua tambah dua
Ibu, Peter, Phil, dan Ayah
Yang Ayah cintai satu dan tiga,
Ibu, Peter, Phil, dan Roberta
Beri aku cium manis
Karena aku pandai membuat puisi.
Kisah-kisah ketiga kakak beradik ini penuh dengan keberanian, tekad, kasih sayang, dan kepedulian dengan bahasa yang mudah dipahami sehingga buku ini cocok untuk pembaca mulai usia 10 tahun.
![]() |
| sumber foto: dokumen pribadi |
Saya membaca novel ini ketika dalam perjalanan ke Jakarta dengan kereta api bersama suami dan kedua anak saya. Setengah sengaja memilih buku ini untuk menemani perjalanan dan mengambil fotonya di dalam kereta.
Posting ini saya ikutsertakan dalam Reading Challenge Fun Year Event with Children Literature bulan Januari (FMs-1) dengan tema CLASSIC yang diselenggarakan oleh Bacaan B Zee.
Saturday, 18 February 2012
Retni Lagi : My Partner

Ouw ... ouw ... surprise banget! Ini satu-satunya metropop yang saya baca yang AMAN dan BERSIH dari adegan kontak fisik dalam menunjukkan romantisme cinta tokohnya। Meskipun novel-novel Retni sebelumnya lumayan minim dalam hal itu dibanding metropop lainnya (yang pernah saya baca).
Sejak pertama membaca karya Retni, dialognyalah yang menjadi magnet sehingga saya bahkan merasa kesal jika tahu-tahu sudah sampai di halaman terakhir. Pinginnya masih ada 500 halaman lagi!
Sayangnya, di novel terbaru ini dialog yang bikin gemas seperti di Pink Project atau Cinta Paket Hemat kurang dimunculkan. Mungkin ini yang menyebabkan karakter Jodik kurang kuat dibanding sosok Sangga (PP) atau Aris (CPH).
Saya menangkap karakter Jodik adalah perpaduan antara Sangga dan Aries. Saat tiba-tiba ia mengirim pesan lewat BB kepada Tita pada tengah malam dengan sedikit "intimidasi romantis", mengingatkan saya pada Sangga yang juga dengan "intimidasi romantis" nya menyuruh Puti Ranin tetap di rumah saat ia datang nanti dan menyuruhnya turun dari kamarnya dengan tegas tanpa basa basi.
Karakter Jodik mengingatkan saya pada Aris saat Jodik dan Tita berdebat dan saling mengolok.
Lalu kenapa saya memberinya 4 bintang?
Selain karena AMAN dan BERSIH itu tadi, kisah keterpurukan Tita karena papanya di penjara akibat korupsi berhasil membuat dada sesak dan pipiku basah berlinang air mata (bahasanya jadul banget yah ;))
Satu lagi, novel ini recomended banget buat pembaca yang alergi dengan adegan ciuman dan kelanjutannya apalagi seks bebas!
Jadi, sebaiknya Mbak Retni meluncurkan novel baru lagi, karena saya telah menjadi penggemarnya. *intimidasi yg nggak romantis*
Info Tambahan
Di dalam novel diceritakan Jodik menyesap root beernya tanpa suara sambil memperhatikan Tita yang diam terpekur. Nah apa sih root beer. Dari hasil googling, root beer itu?Rootbeer merupakan minuman yang dibuat dari ekstraksi akar tanaman sasafras. Di berbagai negara jenis tanaman yang menonjol sebagai bahan pembuat rootbeer adalah sarsaparilla, hingga ada juga yang menamai produk ini sebagai minuman rasa sarsaparilla.
Di Amerika, jenis minuman ini sangatlah populer, konon terdapat ratusan merek produk rootbeer. Namun yang sangat populer antara lain A&W, Barq rootbeer, Mug serta Dads Rootbeer. sumber: http://beverages-solutions.blogspot.com/2010/09/sekilas-minuman-rootbeer.html
Sebenarnya dari bahan pembuatnya minuman ini halal. Info selanjutnya bisa dilihat di http://syahjayasyaifullah.wordpress.com/category/makanan-halal/
Poffertjes
Saat membuat peta di gedung tua bekas rumah Belanda, Tita membayangkan keluarga Belanda dengan kue poffertjes ditemani teh hangat. Apa sih kue poffertjes itu?
Poffertjes adalah kue tradisional yang renyah dari Belanda. Penampilannya mirip panekuk, tetapi lebih kecil dan manis. Berkebalikan dengan panekuk, poffertjes dibalikkan sebelum salah satu sisinya matang sehingga hasilnya lebih lembut.
Tuesday, 31 January 2012
Retni Sb dan Karyanya
Jatuh Cinta pada Bacaan Pertama
Sejak membeli novel Retni Sb Metamorfosa Oase tiba-tiba saya menjadi penggemar novel-novelnya.
Label Juara 3 Lomba Metropop Gramedia di cover depan memang berhasil membuat tangan saya terulur meraihnya di antara tumpukan buku yang lain dalam pameran buku di Assalam Hipermart.
Setelah itu berturut-turut saya membaca karya Retni yang lain: Pink Project, Cinta Paket Hemat, Dimi is Married, dan His Wedding Organizer.
Secara umum, tulisan Retni bisa saya nikmati. Seperti biasa, saya selalu takjub dengan dialog-dialog mengalir yang berhasil diciptakan oleh seorang penulis. Dan Retni pun demikian. Bahkan dialog lucu dan konyol bertebaran di setiap novelnya hingga membuat saya sering terkikik sendirian.
Di antara novel metropop yang saya baca, ada nilai lebih yang saya dapatkan dari karya Retni. Tak sekadar mengusung konflik percintaan, Retni selalu menyisipkan "pesan khusus" yang menambah wawasan dan menyentil kepedulian pembaca. Misalnya tentang gua dalam CPH, kekayaan alam Indonesia dalam Dimi is Married dan HWO, cinta tulus untuk mendampingi anak autis dalam CPH, atau apresiasi terhadap lukisan dalam Pink Project.
Berbeda dengan penulis Metropop lain seperti Ika Natassa, Alia Zalea, dkk, Retni sangat mengindonesia. Baik dari sisi bahasa (jarang memakai bhs asing), setting, tokohnya pun asli Indonesia (kecuali Adra yg sedikit keturunan China-Arab--agak lupa?).

Antara Dimi is Married dan Orange (Windry Ramadhina)Saat membaca DIM saya langsung teringat dengan novel Orange yang kebetulan lebih dulu saya baca. Pertunangan antara Diyan dan Faye (Orange) mirip dengan pertunangan antara Garda dan Dimi. Keduanya sama-sama harus menurut karena paksaan ayah mereka. Sosok Diyan dan Garda juga hampir sama. Anak sulung pewaris kerajaan bisnis, tampan, selalu dikelilngi cewek populer. Keduanya juga sama-sama mempunyai adik laki-laki yang berani menentang dominasi orang tua. Dan kedua adik ini pun sama-sama naksir tunangan kakak mereka.
Faye dan Dimmi juga memiliki karakter hampir sama. Ceria, mandiri, tak begitu mendewakan fisik (termasuk tak begitu tergila-gila dengan tunangan mereka yang supertampan), menyukai alam dan kehidupan sekitar.
Antara Rera (Orange) dan Donna (DIM). Masing-masing adalah mantan pacar kedua tokoh utama pria. Sama-sama cantik, dari kalangan seleb, dan kemunculan mereka kembali menjadi puncak konflik novel-novel itu.
Antara Dimi is Married dan HWOKeduanya menjadikan hutan di Kalimantan sebagai pembuktian cinta sejati mereka.

Bintang 4 untuk Cinta Paket Hemat
Dan di antara kelima novel Retni Sb, CPH menjadi pilihan terbaik saya dari sisi tema. Konflik yang muncul karena harus mengurus Lio yang autis sangat menyentuh. Penggambaran diri Lio dengan kegelapan dan kesunyian gua yang mereka jelajah sungguh cerdas.
Melalui CPH saya mendapat contoh bentuk penulisan yang mengambil sebuah kisah tragis (gempa Jogja) dari sisi yang berbeda. Retni Sb pintar mengambil angel lain dari sebuah peristiwa.
Catatan terakhir: coverSayang sekali cover-cover novel Retni Sb kurang menarik (maaf). Saya tidak bisa memberi alasan yang cukup meyakinkan karena saya buta masalah komposisi warna atau yang berkaitan dengan itu. Sebagaimana Puti Ranin dengan bebas menyatakan apresiasinya terhadap lukisan Pring dari sudut pandang orang awam, saya pun demikian. Metamorfosa Oase bisa dikatakan paling menarik di antara cover yang lain. Artistik, mungkin itu yang bisa saya katakan.
Semoga novel berikutnya (menurut info dari penulis akhir Feb 2012 akan terbit) lebih oke!
Sejak membeli novel Retni Sb Metamorfosa Oase tiba-tiba saya menjadi penggemar novel-novelnya.
Label Juara 3 Lomba Metropop Gramedia di cover depan memang berhasil membuat tangan saya terulur meraihnya di antara tumpukan buku yang lain dalam pameran buku di Assalam Hipermart.Setelah itu berturut-turut saya membaca karya Retni yang lain: Pink Project, Cinta Paket Hemat, Dimi is Married, dan His Wedding Organizer.
Secara umum, tulisan Retni bisa saya nikmati. Seperti biasa, saya selalu takjub dengan dialog-dialog mengalir yang berhasil diciptakan oleh seorang penulis. Dan Retni pun demikian. Bahkan dialog lucu dan konyol bertebaran di setiap novelnya hingga membuat saya sering terkikik sendirian.
Di antara novel metropop yang saya baca, ada nilai lebih yang saya dapatkan dari karya Retni. Tak sekadar mengusung konflik percintaan, Retni selalu menyisipkan "pesan khusus" yang menambah wawasan dan menyentil kepedulian pembaca. Misalnya tentang gua dalam CPH, kekayaan alam Indonesia dalam Dimi is Married dan HWO, cinta tulus untuk mendampingi anak autis dalam CPH, atau apresiasi terhadap lukisan dalam Pink Project.

Berbeda dengan penulis Metropop lain seperti Ika Natassa, Alia Zalea, dkk, Retni sangat mengindonesia. Baik dari sisi bahasa (jarang memakai bhs asing), setting, tokohnya pun asli Indonesia (kecuali Adra yg sedikit keturunan China-Arab--agak lupa?).

Antara Dimi is Married dan Orange (Windry Ramadhina)Saat membaca DIM saya langsung teringat dengan novel Orange yang kebetulan lebih dulu saya baca. Pertunangan antara Diyan dan Faye (Orange) mirip dengan pertunangan antara Garda dan Dimi. Keduanya sama-sama harus menurut karena paksaan ayah mereka. Sosok Diyan dan Garda juga hampir sama. Anak sulung pewaris kerajaan bisnis, tampan, selalu dikelilngi cewek populer. Keduanya juga sama-sama mempunyai adik laki-laki yang berani menentang dominasi orang tua. Dan kedua adik ini pun sama-sama naksir tunangan kakak mereka.
Faye dan Dimmi juga memiliki karakter hampir sama. Ceria, mandiri, tak begitu mendewakan fisik (termasuk tak begitu tergila-gila dengan tunangan mereka yang supertampan), menyukai alam dan kehidupan sekitar.
Antara Rera (Orange) dan Donna (DIM). Masing-masing adalah mantan pacar kedua tokoh utama pria. Sama-sama cantik, dari kalangan seleb, dan kemunculan mereka kembali menjadi puncak konflik novel-novel itu.
Antara Dimi is Married dan HWOKeduanya menjadikan hutan di Kalimantan sebagai pembuktian cinta sejati mereka.

Bintang 4 untuk Cinta Paket Hemat
Dan di antara kelima novel Retni Sb, CPH menjadi pilihan terbaik saya dari sisi tema. Konflik yang muncul karena harus mengurus Lio yang autis sangat menyentuh. Penggambaran diri Lio dengan kegelapan dan kesunyian gua yang mereka jelajah sungguh cerdas.
Melalui CPH saya mendapat contoh bentuk penulisan yang mengambil sebuah kisah tragis (gempa Jogja) dari sisi yang berbeda. Retni Sb pintar mengambil angel lain dari sebuah peristiwa.

Catatan terakhir: coverSayang sekali cover-cover novel Retni Sb kurang menarik (maaf). Saya tidak bisa memberi alasan yang cukup meyakinkan karena saya buta masalah komposisi warna atau yang berkaitan dengan itu. Sebagaimana Puti Ranin dengan bebas menyatakan apresiasinya terhadap lukisan Pring dari sudut pandang orang awam, saya pun demikian. Metamorfosa Oase bisa dikatakan paling menarik di antara cover yang lain. Artistik, mungkin itu yang bisa saya katakan.
Semoga novel berikutnya (menurut info dari penulis akhir Feb 2012 akan terbit) lebih oke!
Subscribe to:
Posts (Atom)






