Showing posts with label Novel Klasik. Show all posts
Showing posts with label Novel Klasik. Show all posts

Saturday, 14 June 2014

White Fang: perjalanan “cinta” serigala bertaring putih.

Cover edisi pertama May, 1906. Kalau dicermati ada dua sosok dalam cover ini. Keren!


source
Kisah yang menakjubkan. Endingnya mengejutkan. Perubahan hidup White Fang dari Northland yang beku ke Southland yang cenderung panas digambarkan dengan sangat bagus dan alami.
Setelah White Fang berada di Santa Clara Valley yang damai, hanya berlari-lari menghindari Collie, anjing betina yang senang mengganggu, sepertinya cerita akan berakhir begitu saja. Entah White Fang beranak pinak atau malah mati tua. Ternyata Jack London tidak membiarkan White Fang mati dalam kedamaian. Dia pintar memainkan alur.

Bahkan ketika cerita dimulai, Jack London masih menyembunyikan White Fang-a wild wolfdog. Cerita dibuka dengan Sebuah Jalur Perburuan yang memberikan kesan sepi, muram, sekaligus menakutkan.
Meskipun awalnya cerita berjalan lambat, tapi akhirnya saya tak bisa berhenti. Sebuah pertarungan antara manusia dan Alam Liar. Mereka saling mengincar. Siapa yang kuat dia yang menang dan berkuasa. Meski kemenangan itu harus selalu disertai sikap waspada. Sekali lengah, mereka yang kelaparan akan siap menerkamnya. Henry dan Bill, harus berjuang mengalahkan serigala dalam perjalanan mereka menuju kota. Tapi, akhirnya Bill menyerah. Dan Henry, keberuntungan bersamanya saat akhirnya ditemukan rombongan suku Indian yang berkelana untuk mencari makanan.

Sementara, serombongan serigala yang mengepung Henry menjauh. Tapi, kelaparan membuat rombongan itu saling mengincar. One Eye, serigala tua abu-abu akhirnya memenangkan rombongan sehingga dia dapat membawa Kiche (serigala-anjing betina) pujaannya. Mereka berdua berburu bersama, hingga akhirnya Kiche melahirkan 5 anak. Kelaparan tak tertahankan di musim salju di daerah Yukon, Sungai Mackenzie, Northland yang tandus itu. Mereka berebut dengan manusia. Akhirnya hanya satu bayi serigala yang dapat bertahan. White Fang, si bayi abu-abu. Alam Liar melakukan seleksinya. Siapa yang kuat dialah yang dapat bertahan. One Eye akhirnya mati. White Fang kecil bingung dan takut ketika akhirnya ibunya pun tak lagi membawakan daging untuk perutnya yang makin menggelantung tipis.
White Fang berjuang. Tapi, dia masih terlalu kecil untuk waspada. Di tangan ‘dewa’ Grey Beaver, White Fang tunduk karena Kiche  (ibunya) tiba-tiba datang dan menurut pada para dewa. Kiche rupanya dulu pernah jadi piaraan mereka tapi melarikan diri.

Pukulan, teriakan, cacian, membentuk insting White Fang, hingga dia menjadi serigala paling menakutkan dan kejam bagi hewan lainnya. Apalagi sejak Kiche tiba-tiba dibawa oleh sebuah kereta luncur dan meninggalkan White Fang menghadapi Lip-lip dan gerombolannya sendirian.
White Fang tak mengerti ketika Kiche dibawa pergi. White Fang hanya mengenal satu cinta. Ibunya. Tapi, semua siksaan paling kejam harus diterimanya ketika White Fang berusaha mengejar ibunya (hal. 140)
White Fang banyak berlajar dari pengalaman. Dia gesit, kejam, dan bijak seperti ayahnya, One Eye.
Karena ketangguhannya berkelahi, geraknya yang efisien, White Fang justru menjadi incaran para ‘dewa’ tetapi musuh bagi kaumnya sesama binatang. Beauty Smith membelinya dari Grey Beaver yang mulai bangkrut karena kecanduan ‘bir’. White Fang dibentuk menjadi petarung profesional. Tak ada yang mengalahkannya. Dia menjadi sumber uang bagi Beauty ‘buruk’ Smith. Hingga ketika White Fang hampir tumbang oleh anjing Cherokee, Weedon Scott dan Matt menyelamatkannya.  

White Fang hidup dalam kekejaman Alam Liar dan pengabdian pada dewa yang kejam, memerintah dengan kejam, menerapkan keadilan dengan sebatang tongkat pemukul, menghukum pelanggaran dengan sakitnya pukulan, dan memberi imbalan atas kehebatan, bukan dengan kebaikan, melainkan dengan menahan pukulan. Dia tak mengenal ‘cinta’ dan ‘kasih sayang’ yang ditawarkan Scott. White Fang hanya tahu hukuman. Jadi, ketika dia menurut pada salah satu dewa, itu karena dia tak ingin mendapat hukuman lebih kejam. Hubungan White Fang dan Scott membuat saya terharu.

Membaca kisah si Taring Putih ini seperti melihat tayangan film National Geographic. Mengingatkan saya pada novel klasik the Yearling dengan detail-detail hutan dan semua tempat yang terdeskripsikan secara “nyata”.

Karakter White Fang yang kuat membuat saya jatuh simpati. Antara kagum dan kasihan. Di halaman 138, saya meneteskan air mata atas perpisahan White Fang dengan ibunya, Kiche.
Alam Liar memang kejam, tetapi ternyata manusia yang disebut dewa oleh White Fang bisa jauh lebih kejam. Hewan mungkin saling membunuh tapi itu untuk bertahan hidup, sedangkan manusia bertindak kejam atas dasar hiburan.

Pengalaman Jack London bekerja di Yukon, yang menjadi setting cerita ini, mungkin yang membuatnya dapat menggambarkan White Fang dengan segala perasaan dan instingnya dengan begitu detail sekaligus menyentuh.
Kisah White Fang menumbuhkan perspektif baru tentang dunia binatang dan cinta yang bisa kita berikan.

Banyak sekali kalimat yang saya sukai. 
Sebuah tawa lebih buruk dari kesedihan—sebuah tawa tanpa kegembiraan bagaikan senyuman sphinx, sebuah tawa sedingin lapisan salju…

Namun Alam Liar tetaplah Alam Liar, dan ibu adalah ibu, selalu sangat protektif, entah di Alam Liar atau bukan. (hal. 86)

Di dunia ini tidak semuanya bebas, bahwa di dalam hidup ada batasan dan kekangan. Seluruh batasan dan kekangan itu merupakan aturan. Mematuhi semua itu merupakan jalan untuk menghindari rasa sakit dan jalan untuk mendapatkan kebebasan. (hal. 88)

White Fang mengetahui bahwa hak unutk menghukum merupakan sesuatu yang hanya dimiliki para dewa dan tidak diberikan pada makhluk-makhluk hina di bawah mereka (hal. 141)

White Fang tahu persis aturan yang berlaku; menindas yang lemah dan mematuhi yang kuat. (hal 164)

Satu-satunya cara untuk mencari tahu adalah dengan mencari tahu. (hal. 244)

Hanya ada sedikit typo dan tidak terlalu mengganggu, sehingga saya abaikan.

Judul: White Fang
Penulis: Jack London
Penerjemah: Haris Permatasari
Penyunting: Jia Effendie
Proofreader: Bernard Batubara
Desain Sampul: Amanta Nathania
Penerbit: GagasMedia
Tebal: 330
Terbit: 2014 (cet. I)
ISBN: 979-780-700-2
Rate: Lima bintang
  
Info tambahan
Ternyata White Fang sudah pernah diadaptasi dalam film pada tahun 1991 oleh WaltDisney dengan judul yang sama dan dibintangi Ethan Hawke. Bahkan ada sekuelnya yaitu White Fang 2: Myth of White Wolf yang dibintangi oleh Scott Bairstow. Kayaknya saya harus mencari filmnya, nih.


Review ini ditulis untuk arisan buku GagasMedia. Terima kasih sudah memberi buku klasik ini. Padahal awalnya saya under estimate bakal dapat menyelesaikan novel ini. Kisah fable bukan pilihan saya, tapi ini benar-benar keren.  

Diikutsertakan dalam:
Kategori Freebies
 

Thursday, 7 February 2013

Resensi Buku: Rumah Kecil di Rimba Besar

Rumah Kecil di Rimba Besar (Little House, #1)
sumber gambar: goodreads


Judul: Rumah Kecil di Rimba Besar #1 (Little House-Seri Laura)
Judul Asli: Little House in the Big Woods
Penulis: Laura Ingalls Wilder
Penerjemah: Djokolelono
Ilustrator: Garth Williams
Tebal: 216 hal.
Penerbit: Libri (pernah diterbitkan dengan judul yang sama oleh BPK Gunung Mulia)
Tahun Terbit: 2011 cet. I
Penghargaan: Laura Ingalls Wilder pernah mendapat Laura Ingalls Wilder Award tahun 1954 dan karyanya dengan judul Little House in the Big Woods ini mendapat Lewis Carroll Shelf Award di tahun 1958.

Dulu sekali, gadis berkepang yang tak pernah diam ini menjadi tokoh favoritku. Dialah Laura, yang diperankan oleh Melissa Gilbert. Lincah, pemberani, dan pintar, juga selalu ceria.  Saat itu hari Minggu adalah hari paling dinanti karena tayangan film ini di TVRI. Meski televisi saat itu hanya menunjukkan dua warna: hitam putih dengan tebaran semut kecil jika angin menggoyangkan antena yang dipasang dengan bambu tinggi-tinggi, kami tetap duduk manis menikmatinya hingga usai.

Tanpa disangka aku menemukan buku Little House in the Prairie di perpustakaan SMP-ku. Buku itu masih rapi, dan sepertinya akulah peminat pertamanya. Saat kelas kami mendapat giliran meminjam, serta merta kupilih buku itu.

Bertahun-tahun kemudian, aku mencari buku itu di toko karena ingin mengenang Laura, tapi tak pernah kutemukan. Syukurlah kini seri Laura bisa didapatkan dengan mudah.
Untuk seri pertamanya ini, jangan berharap akan menemukan konflik yang terjadi antara Laura dan teman-temannya, terutama si rambut bergelombang Nelly, yang cantik tapi judes.

Di seri ini, kita hanya akan menemukan kehidupan tenang Laura, Mary, Carrie bersama Pa dan Ma. Kehidupan yang menyenangkan dan damai di antara pohon-pohon besar, di pinggiran Rimba Besar, daerah Wisconsin, tahun 1870.

Rumah mereka dari balok kayu kelabu, dan makanan mereka tersedia di sekitarnya. Membayangkan cara mereka menimbun makanan untuk musim dingin sangat menyenangkan. Madu yang disimpan di dalam batang pohon yang dibentuk sedemikian rupa, labu-labu, kol, wortel, daging, mentega, dan segala macam persediaan makanan hasil buruan Pa yang ditimbun di loteng.
Cara mereka menabung makanan mengingatkanku pada novel klasik The Yearling.

Sama seperti masyarakat pedesaan Indonesia (khususnya Jawa Tengah) zaman dulu, yang biasanya mempunyai lumbung padi untuk persiapan jika musim panen berakhir. Di atas tungku dapur, bergantungan jagung (masih dengan kulitnya) juga labu (waluh), bahan makanan cadangan selain padi.

Dalam buku pertama seri Laura ini, cerita yang mengesankan adalah saat Pa kebingungan melawan beruang madu di malam hari, yang ternyata hanyalah tonggak kayu.
Jika di televisi, adegan paling mengesankan adalah cara mandi mereka, terutama Laura dan Mary. Biasanya kami akan tertawa terbahak jika melihat Laura diangkat oleh Pa, dicemplungkan ke dalam drum kayu sepinggang Pa yang dipenuhi air.

Kehidupan mereka yang sederhana, dekat dengan alam, mengambil sesuai kebutuhan, sungguh menerbangkanku ke masa kecil di desa tempat kelahiranku. Deskripsi alamnya yang detail hingga kita seakan bisa mencium harumnya gula maple (aku membayangkan gula jawa), cocok untuk anak umur berapa saja. Tetapi jika melihat teks, huruf, dan ketebalannya, sepertinya anak usia 9-10 tahun baru bisa melahapnya tuntas.
Oya, aku suka banget dengan model baju Laura dan topi lebarnya. Sayang sekali tak menemukan fotonya.
sumber foto: http://www.answers.com/topic/little-house-on-the-prairie-tv-series-1.
Pemeran dalam film:

  • Michael Landon as Charles Ingalls (1974–83)
  • Karen Grassle as Caroline Quiner Ingalls (1974–82)
  • Melissa Gilbert as Laura Ingalls Wilder (1974–83)
  • Melissa Sue Anderson as Mary Ingalls Kendall (1974–81)
  • Lindsay and Sidney Greenbush as Carrie Ingalls (1974–82)


  • Resensi ini aku ikutsertakan dalam RC Read a Long with Children Lit dengan tema Laura Ingalls 
    dan Fun Year With Children’s Literature : Fun Months 1 (tema award winner) di blog Bacaan B Zee.


    Kalian masih bisa ikut juga dalam challenge ini. Daftar saja di sini.