Showing posts with label Teenlit. Show all posts
Showing posts with label Teenlit. Show all posts

Monday, 12 October 2015

Mobil, Bokap, Gue

aku, buku, dan kopi
cover
Judul: Mobil, Bokap. Gue
Penulis: Halluna Lina
Penerbit: PlotPoint
ISBN: 978-602-9481-69-3
Terbit: Juli 2014
Tebal: 335 hal.
Harga: 59.000,-
                                 Perjuangan Dinar Menyetir Mobil dan Hidupnya

Dalam hidup, manusia melewati tahapan demi tahapan. Remaja adalah tahapan yang sering mendapat perhatian ekstrabanyak. Mereka telah berkembang cara berpikirnya, tak lagi menelan mentah-mentah omongan orang tua. Mereka mulai kritis dan lebih percaya pada teman-teman sebaya karena dianggap lebih bisa memahami emosi mereka.

Karena kebutuhan inilah maka tercipta peer group, sekumpulan remaja sebaya yang memiliki hubungan erat dan saling tergantung. Dalam peer group, mereka berusaha menemukan identitas dirinya dan teman menjadi tolok ukur dalam  menilai siapa dan bagaimana dirinya.
Peer group memang diperlukan bagi remaja untuk aktualisasi diri dan menambah wawasan. Namun, dalam kelompok ini kadang muncul dua hal: peer pressure negative dan peer pressure positive. Remaja yang cenderung labil ditambah hubungan yang tidak baik dengan orang tuanya, biasanya terjebak pada kelompok yang memberi pengaruh negatif pada dirinya.

Dinar, dalam novel ini adalah representasi dari remaja tersebut. Hubungan dengan ayahnya yang bak kucing dan anjing, membuat Dinar mencari kenyamanan melalui Geng Cantik, geng paling popular di SMA-nya, yang dipimpin Bianca. Demi lolos dari trial member, Dinar rela melakukan apa saja. Dinar merasa dirinya gadis yang terlalu biasa, sehingga dia harus melakukan sesuatu yang membuat Geng Cantik respect padanya.
Ada peer pressure negative yang mengubah Dinar yang baik dan penuh semangat juga apa adanya menjadi Dinar yang melakukan sesuatu demi pujian orang lain, demi menyenangkan Bianca dan Geng Cantik juga Bram. Bahkan Dinar tak bisa menentukan masa depan yang akan dipilihnya.

“Gue belum kepikiran mau jadi apa. Kira-kira kerja apa ya, yang menurut orang keren?” (h. 139)

“Sayang banget tahu nggak? Gue kagum sama lo. Lo itu pekerja keras, tapi lo nggak punya tujuan, kalaupun ada tujuannya juga salah. Kalau usaha keras cuma demi orang lain, itu bakalan sia-sia aja. Hidup kan nggak selalu buat nyenangin orang lain terus-terusan.” 
Ini teguran Riko, cowok sekelas Dinar yang suka nyolot, nyindir, dan sok tahu tapi jago otomatif dan menolong Dinar agar bisa menyetir dengan cepat. (h. 167).

Demi menyenangkan Bianca dan teman-temannya, Dinar berani mencuri soal ulangan dari meja gurunya, dan mengaku jago menyetir. Dinar berhasil mendapat pujian sebagai gadis superb, cool, dan keren. Bahkan, dia berhasil menarik perhatian Bram, cowok tajir dan ganteng, juga pembalap.

Konsekuensi dari kebohongannya, Dinar semakin jauh dari Ayah sekaligus harus menutupi kebohongan dari depan Geng Cantik. Demi menjaga rahasia tentang dirinya yang sebenarnya tak bisa nyetir sama sekali, Dinar melakukan tindakan nekat hingga membahayakan dirinya sendiri dan membuat ayahnya makin marah. Tapi, Dinar tak kapok. Dia tetap rela meminta pada Ayah agar mengajarinya menyetir. Dinar yang suka ngeyel dan tak disiplin harus kuat menghadapi omelan demi omelan dari ayahnya yang galak, disiplin, dan superior. Semua demi Geng Cantik, demi pengakuan akan eksistensinya.

“Pokoknya Ayah gue itu beda. Hobi ngomel dan senang banget bikin gue gugup.” Perkataan Dinar pada Riko. (h. 138).

Tapi, dari sinilah, Dinar mulai memahami bagaimana Ayah yang sebenarnya, ketika diam-diam mendengar percakapan antara Ayah dan Ibu. “Ayah, tuh, khawatir, Bu, sama Dinar. Dinar bisa nggak ya, jadi orang sukses?” (h. 210)

Perasaan Dinar mulai terbelah. Apakah menuruti semua permintaan Geng Cantik dengan segala risikonya atau menjadi dirinya sendiri, tapi siap didepak dari Geng Cantik?
Sindiran-sindiran Riko selama ini yang membuat Dinar sebal dan keki tanpa sadar ikut memberi andil pada keputusan Dinar. Bahkan dengan jujur, Dinar mengakui di depan kelas, saat Pak Agus menyuruh semua murid menulis cita-cita mereka dan membacakan di depan kelas, kalau dia bingung mau jadi apa. Menurutnya semua profesi itu susah. Jadi presiden itu repot, jadi dokter hewan dia alergi kucing, jadi dokter bedah malah akan ninggalin gunting di tubuh pasien.
Tapi, ada kalimat yang dibaca Dinar di depan kelas yang tak hanya membuat terharu tapi juga membuat teman-temannya kagum akan kejujuran Dinar.

“Sekarang saya cuma kepengin bilang, saya memang belum tahu saya mau jadi apa. Namun, saya sudah tahu saya tidak ingin jadi orang seperti apa. Saya tidak mau jadi ‘orang-orangan’. Orang palsu. Orang yang bukan diri sendiri.” (h. 302)

Semua perubahan tentu saja membawa risiko. Jadi, Dinar harus kuat menghadapi ulah Bianca dan teman-temannya setelah itu.

Halluna Lina menyajikan novel dengan bahasa yang mengalir, ringan, dan nyaman diikuti sampai akhir. Banyak hal bisa dipetik dari setiap kejadian yang dialami Dinar. Bukan hanya tentang sikap Dinar dan Geng Cantik, tapi juga hubungan antara ayah-anak, dan bagaimana menjadi diri sendiri dan menghargai apa yang ada pada diri kita.
Cover dan judulnya unik, menjadi daya pikat tersendiri bagi pembaca. Selamat menikmati kisah cinta seorang ayah, cinta seorang anak, dan tentang cinta pertama.

Saturday, 6 December 2014

Satria November #2

Hai, masih ingat aku, Mima, yang pernah ngalamin petualangan menegangkan tak terlupakan bareng Inov alias Satria November? Namanya, sih, keren, tapi, dia kemarin terlibat dengan kasus narkoba. Kalau lupa, baca dulu kisahku di seri 1. Emm, tapi langsung ke seri 2 juga nggak pa-pa, sih. Nggak bakal bikin bingung, karena di halaman awal ada ringkasan kisahku bareng Inov. Aku kenal Inov karena dia anak sahabat Mama. Supaya jauh dari genk narkoba yang masih mempengaruhi, Inov dititipin ke rumahku. Dan karena itu, aku terlibat dalam petualangan seru bareng Inov.

Jadi, Satria November #2 ini lanjutan dari Satria November--cover lama tanpa #1 dan covernya hijau lembut. Sekarang dicetak lagi dengan cover hijau juga tapi style sama dengan cover Satria November #2. Kemarin ngintip sekilas, font-nya lebih enak. Lebih gede dan nggak rapet-rapet kayak yang edisi lama.

Oya, tahu, kan, yang nulis novel ini MIA ARSJAD? *Tahu lah Buuu, orang di cover ada*. Pinter, deh, berarti nggak usah dijelasin. *ditoyor pakai tulang manusia purba.

Karena Inov, aku sekarang sama Gian resmi jadi pacaran. Tapi, tetap saja aku suka kangen sama Inov. Dia kan udah deket banget dan jadi tempat curhatku, jadi nggak pa-pa, kan, kangen?  Biasanya kita suka sms, wa, dan lain-lain, tapi ini sudah dua harian, Inov nggak bales pesanku. Padahal kata Mama, yang telepon sama bundanya Inov, dia baik-baik saja.
Aku, sih, mana percaya?
Dan, aku kaget setengah mati, ketika tahu-tahu Inov muncul di hadapanku. Kapan dia datang ke Bandung? Kenapa dia nggak bales pesanku? Ternyata Inov masih si robot somplak. Ekspresinya masih datar sedatar-datarnya, ngomongnya cuma sepatah kata.

Meski begitu, aku seneng banget akhirnya bisa ketemu Inov. Apalagi dia ngaku sengaja bikin kejutan untuk ultahku. Ih, sweet banget, ya. Tapi ternyata senengnya nggak lama. Inov ternyata menyembunyikan rahasia. Dan dia bohong sama aku, Mama, dan semua orang. Aku jelas kepo dan sok jadi detektif ngikutin Inov.  Aku kaget setengah mati, ketika mendapati Inov tinggal di rumah yang kumuh sekumuh-kumuhnya, dan tampak sedang ada urusan dengan orang-orang bertato, berbadan kekar, berwajah bengis sebengis-bengisnya *Hmmmpfttt*.

Jadi, seperti kisahku yang pertama, kali ini karena kekepoanku dan kecerobohanku, aku ikut terlibat langsung dalam sebuah kejahatan dan genk kriminal.Karena sudah ketahuan, Inov harus pura-pura kalau kami pacaran. Aku tak bisa berbuat apa-apa kalau mau Inov, aku, dan Mika--kakak kembarku--selamat.

Sebenarnya nggak masalah aku selalu bersama Inov, tapi ada Gian. Gimana, dong? Dan bisa ditebak, bagaimana marahnya Gian sama aku. Yah yah ... aku paham dia marah. Tapi, aku juga tak bisa bilang jujur karena pertaruhannya nyawa kami. Dan aku juga nggak mau menggagalkan operasi penangkapan Boss Besar dan komplotannya yang sudah dirancang matang oleh kepolisian.
Karena Inov, aku melihat secara langsung adegan kekerasan dan darah yang membuatku  gemetar dan mual. Karena Inov, aku harus berbohong, dari satu kebohongan ke kebohongan yang lain. Tapi, ini bukan kesalahan murni Inov. Ini salahku yang suka telat gunain otak.

Tapi, dari pengalaman ini aku belajar agar lain kali nggak kepo akut, mikir dulu baru bertindak.Aku jadi tahu betapa kejamnya dunia hitam, dan betapa mirisnya saat anak-anak seusiaku terperosok ke dalam jurang kejahatan hanya demi gengsi dan uang.

Mia Arsjad pinter banget menuliskan kisahku dengan kalimat-kalimat dan dialog lucu yang bikin aku ngikik sendiri saat baca tulisannya. Makasih ya, Mia, telah menulis kisah ini, dan aku menangis lagi saat membaca halaman-halaman akhir, sebelum ditutup dengan kisah yang serasa ngemut gula.

Covernya aku no comment *bukan sok ngartis*, tapi aku cuma tertarik dengan font judulnya. Ilustrasi lainnya biasa aja, nggak jelek tapi juga nggak bagus yang bikin aku ngeliatin lama. Meskipun syukurlah warna birunya nyala banget waktu dipajang di rak buku. Jadi, kalau nyari nggak susah.

Nah, ini, kenapa di awal-awal banyak typo coba? Ada juga yang keliru nyebut nama. Harusnya yang ngomong A, tapi ditulis B. Secara ini terbitan Gramedia, yang kata seorang editor *kedip-kedip* dia suka takjub dengan zero typo buku-buku Gramedia.

Selain itu, aku merasa nggak rugi, sih, udah ngeluarin uang buat beli buku ini *kisah sendiri, kan, pantas, untuk dikoleksi*. Betuull?


Supaya nggak pada bingung, aku tulis siapa saja tokoh di cerita ini dan karakternya:

Aku (Elmima Srikandi Millenia): kata orang aku tengil, suka merepet kayak betet sampai-sampai semua   orang yang aku ajak bicara sering mbekep mulutku biar diam. Tapi aku baik, berani (atau kepo?), dan penuh perhatian--terutama pada Inov.

Inov alias Satria November: robot somplak tanpa ekspresi, nggak bisa ngomong panjang kecuali saat bulan purnama--boong deng--, jangkung, sekarang lebih berisi karena sudah terapi setelah kecanduan narkoba dan paru-parunya membaik, sayang banget sama aku --sepertinya--, heroik, dan nerima aku apa adanya meski suka nyeplos pedas dan nyindir.

Gian: pacar aku , ketua Osis, pintar, berwibawa, selalu rapi pi ... pi ..., bahkan selalu pakai sepatu pantofel yang mengilap, dan berusaha membuat aku jadi cewek feminin dan anggun.

Mika: kakak kembarku, yang tetep suka ngeledek aku tapi kami saling menyayangi. Perannya kurang banyak di seri 2 ini. Soalnya Mika sudah punya cewek, jadi dia sibuk sama ceweknya. Dasar!

Mama: yaah, kayaknya dari Mamalah bakatku merepet dan suka teriak kayak Tarzan.

Teh Julia: asisten di rumah, logat sundanya dicampur Inggris bikin ngakak njengkang. Dia mengaku masakannya jauuuuuh lebih lezat daripada para chef cantik seksi di tv. Terserahlah!

Tante Helena: Bunda Inov. Dia sangat menyayangi Inov.

Kiki, Dena, Reva: sahabatku yang paling baik tapi konyol dan sok-sok berlagak jadi wartawan dan detektif yang hobi menginterogasiku.

Tuesday, 23 September 2014

Rahasia Hujan

diambil dari blog penulisnya
 Judul: Rahasia Hujan
Penulis: Adham T Fusama
Penyunting: J. Fisca
Pendesain sampul: Fahmi Fauzi
Penerbit: Moka Media
Tebal : 272 hlmn.
Cet. Pertama 2014
ISBN 979-795-857-4
Sinopsis

Pandu satu-satunya murid yang berhasil membuat Anggi, muid dari Jepang, mau sedikit bicara dan tersenyum. Anggi adalah cewek misterius, dan asosial. Pandu, sebagai teman sebangku, berusaha bersikap ramah pada Anggi. Usaha Pandu sedikit berhasil. Paling tidak, Pandu dapat membujuk Anggi mengirim lukisannya yang indah pada Nadine, pacar Pandu sekaligus pemred mading sekolah mereka.
Tapi, Mamet, sahabat Pandu, merasakan keanehan pada sikap Anggi. Aneh yang membuat bulu kuduk meremang.
Ternyata kecurigaan Mamet mulai mempengaruhi Pandu. Beberapa hal aneh terjadi. Ada paket parfum mahal datang ke rumah Pandu, ponsel Mamet lenyap, hingga tahi kucing di ruang redaksi yang membuat Nadine gusar.
Di pesta ulang tahun Anggi sekaligus perayaan tahun baru, yang diadakan di rumah Anggi peristiwa mencekam terjadi. Nyawa mereka menjadi taruhan. Pandu harus bertindak, di tengah hujan deras dan petir, melawan tubuhnya yang lemah dan ketakutan.

My opinion:
Saya baru tahu kalau boneka-boneka gundul yang digantung dan menjadi cover buku ini disebut teru-teru bozu. Sejak melihat covernya, saya sudah curiga kalau ceritanya bakal menyeramkan. Makanya, saya tak berani membacanya saat sendirian, dan inilah alasan kenapa lama sekali saya menyelesaiakannya.
Sebenarnya kalau saya baca blurb belakangnya dengan cermat saya tak perlu curiga bakal menemukan cerita-cerita mistis. Hihihi. Di sana tertulis kalau novel ini bergenre thriller, dan genre ini saya sukai, asal tidak terlalu berdarah-darah.

Pada awal bab, aura dingin dan misterius Anggi sangat terasa. Syukurlah, kehadiran Mamet dan Nadine yang cantik membuat novel ini tidak selalu muram. Saya suka karakter mereka berdua, meski bukan tokoh utama.

Ceritanya mengalir cukup lancar dan enak diikuti. Hanya saja, menurut saya aura Anggi jadi kurang terasa 'dingin' dan greget di akhir cerita. Apalagi dengan adegan-adegan 'vulgar' --dari sudut mata saya--malah membuat rasa mencekam yang saya harapkan sejak pesta ulang tahun jadi lepas.
Tapi, tetap saja Adham T Fusama mampu membuat saya menangis pada adegan *spoiler indicated* sampai di adegan di rumah sakit.

Satu hal lagi yang saya harapkan ada penjelasan yang lebih kuat, adalah latar belakang Anggi hingga memiliki perilaku menyimpang seperti itu. Patah hati yang dialami Anggi tidak cukup kuat untuk meyakinkan saya sebagai penyebab satu-satunya.
Tema novel ini sarat pelajaran dan pesan buat remaja dan sekolah, dan semoga novel Adham lainnya bisa saya nikmati lagi.
Kali ini saya tidak digoda dengan typo. Yeay ...! Selamat buat penulis, editor, dan proofreadernya.

*TRIVIA
Teru-teru bozu adalah boneka tradisional Jepang yang terbuat dari kain putih atau kertas yang digantung di tepi jendela dengan benang. Jimat ini diyakini memiliki kekuatan ajaib untuk mencerahkan hari dan mencegah hujan turun. 
Teru-teru bozu juga ada nyanyiannya. Di novel ini, Anggi sering menyanyikan lagu teru-teru bozu.

Thursday, 28 August 2014

Cinta/Pergi

Ketika kehilangan menjadi awal dari segalanya.
Dan perubahan adalah keniscayaan. Tak ada yang abadi di dunia, kecuali perubahan itu sendiri.Seperti itu juga rasa cinta. Kadang rasa itu pergi, kadang menetap di hati hingga mati.  

gambar dari realitas juno
Judul buku   : Cinta/Pergi
Penulis         : Herjuno Tisnoaji
Editor          : Dedik Priyanto
Pendesain sampul    : Henz Sinelir
Penerbit:      Moka Media
Cetakan Pertama, 2014
Tebal          : 181 hal.
ISBN: 978-979-795-864-0 

Reizo Maruta Cendekia (Rei), murid SMA yang suka bolos, berandalan, dan hobi tawuran. Itu dulu. Sebelum seorang gadis 'aneh' membuntutinya ke mana-mana. Karena jengah, Rei akhirnya sepakat untuk membiarkan Florina, gadis 'aneh' itu membuntutinya selama sepekan. Sejak saat itu Florina bahkan lebih dekat dari bayang-bayang Rei sendiri #ingat komik luckyluke
Menurut pengakuan Flo, dia akan membuat novel dan tokohnya adalah cowok kayak Rei. Jadi, Flo butuh mencatat semua tingkah laku Rei, kebiasaannya, tempat nongkrongnya, sampai apa yang ada di kamarnya.
Meskipun jengkel, Rei harus menepati janji. Dan Rei adalah orang yang paling benci sama orang yang ingkar janji. Nah, masalahnya, papanya termasuk kriteria orang itu. Sifat papanya membuat keluarga mereka broken. Mama hidup sendiri, sementara Rei tinggal bersama papanya seperti dua orang asing. 
Hubungan Rei dan papanya semakin buruk, hingga akhirnya Rei kabur dari rumah. Bisa nebak siapa yang nolong? Florina! Dia nolong Rei karena sebelumnya Rei menyelamatkan Flo saat mereka terjebak tawuran. Saat itu, Rei malah kena lemparan batu dan pingsan.

Waktu dapat buku ini, saya senang banget karena tokoh utamanya cowok dan ditulis oleh cowok juga. Bisa dihitung penulis cowok yang bukunya sudah saya baca. Syahmedi Dean, John Green, Alfred Hitchcock. Jarang, ya, kecuali penulis buku-buku sastra seperti Pak Sapardi, Ahmad Tohari, dkk.
Jadi kenapa saya senang? Karena karakter tokoh cowok jadi 'pas" di tangan kaum mereka sendiri mestinya. Rei di sini adalah cowok pendiam, asosial, korban broken home, punya kebiasaan unik (aneh) memandangi langit dari atap kamarnya atau atap gudang sekolah. Analoginya pas menurut saya. Rei merasa semua meninggalkannya, semua telah berubah. Dan hanya langit yang tetap, tak berubah, setia menemaninya.

Analogi remaja dengan kembang wijaya kusuma juga saya sukai. Idenya bagus. Kebetulan saya pernah melihat wijaya kusuma saat mekar. Benar-benar ketika malam sudah larut. Kami memandanginya dengan takjub. Mekar sebentar, kemudian redup. Setuju dengan Juno dalam hal ini. Masa remaja memang hanya sebentar. Masa paling bahagia. Sekaligus masa paling penuh godaan. Makanya banyak nasihat, contoh, hikmah yang tertera dalam Al-Qur'an dan Hadits tentang masa muda.
Selain bunga, ada satu lagi analogi usia dengan kembang api. (hal. 89)

Ceritanya cukup mengalir. Karakter dingin dan pendiam Rei bertemu karakter Flo yang ceria jadi terasa manis. Kalimat yang dipakai Juno (penulis) pendek-pendek, dari sudut pandang Aku (Rei) enak diikuti. Gaya bahasanya juga pas. Ringan, khas remaja.

Judulnya unik, meskipun sampai sekarang saya masih belum bisa menafsirkan secara tepat tanda garis miring di antara dua kata itu #merenung lebih dalam

Konflik tidak terlalu tajam, dan penyelesaiannya cukup smooth. Efek dramatisnya jadi kurang, tapi enggak apa-apa, deh, karena dalam kehidupan nyata pun tidak semua konflik menjadi dramatis. #kayak hidup saya

Nah, ada ganjalan tentang pengakuan Flo di akhir cerita. Apakah berarti Flo diselamatkan dua kali? Kalau iya, akan lebih baik jika di awal mereka bertemu ada sedikit 'kode' yang mengarah ke situ.
Terus kenapa Flo tiba-tiba pergi *waduh potensi spoiler ini*. Tapi, asli ini bikin saya jadi mikir. Alasan Flo kurang kuat menurut saya.

Sebelumnya saya minta maaf untuk penilaian poin terakhir, yaitu masalah PENYUNTINGAN. Hmmm ... saya sampai curiga file yang dicetak adalah file aslinya. Begitukah? Editor juga manusia, punya salah juga lupaaa *nyanyi* Semoga cetakan berikutnya sudah ada perbaikan.

Btw, selamat buat Juno untuk debut pertamanya sebagai penulis novel. Rasanya nano-nano, ya. :D Novel berikutnya saya tunggu. Lempar sini biar saya review #dicelupin kaleng cat


Tuesday, 8 July 2014

Limit, sebuah batas antara kau dan dia

          
               Judul            : Limit
Penulis          : Triani Retno
Penerbit        : Ice Cube-KPG
Jumlah Halaman: 189
ISBN              : 978-979-91-0678-0
Terbit              : Cetakan I, Februari 2014

Beberapa tahun terakhir ini kita sering mendengar istilah indigo children atau anak nila. Anak indigo adalah mereka yang memiliki kelebihan yang sangat spesifik dibanding anak-anak lainnya. Salah satu contoh adalah mereka memiliki kemampuan supranatural.
Beberapa pendapat menyebutkan bahwa ada satu kecerdasan lain selain 8 multiple intelligences, yaitu kecerdasan supranatural atau pseudoscience. Pada anak indigo, mereka memiliki kemampuan melihat hal-hal gaib, bahkan ada yang bisa berinteraksi dengan makhluk halus. Beberapa menyebutkan sebagai memiliki indra keenam.  

Limit adalah cerita tentang Keala, murid SMA yang dapat berinteraksi dengan makhluk lain. Sejak kepindahannya dari Banjarmasin ke Bandung, Keala beberapa kali mengalami gangguan kepala, seakan ditusuk jarum, dan mendengar berbagai suara berdengung di telinganya.

Keala makin galau karena nilai-nilai ulangannya hancur. Seandainya dulu Keala bukan si juara sekolah, si murid berprestasi, semua tak jadi masalah. Tapi, sejak kepindahannya dari Banjarmasin ke Bandung, dan sejak dia pindah sekolah ke SMA 79 Bandung, Keala si juara merasa jadi pecundang.

Bukan hanya malu pada diri sendiri, Keala lebih tak tega pada bundanya. Hidup Bunda sangat menderita sejak Ayah berubah hingga harus masuk penjara. Karena itu, Keala sangat ingin membuat Bunda bahagia. Bagaimana bisa kalau nilai ulangannya saja cuma empat koma. Satu lagi, Bunda dulu adalah salah satu murid pintar di sekolah ini!
Bunda bangga menjadi salah satu alumnusnya (hal. 22)
Aku? Apa aku bisa bangga? Apa sekolah ini bisa bangga punya murid seperti aku? Apa yang bisa dibanggakan dari aku? I’m nobody! (hal. 22)

Karena terus-menerus memikirkan susahnya bersaing dengan para the winner di SMA top seperti Kevin yang suka berkelahi tapi selalu sempurna untuk nilai Maematika, Arya pelajar teladan , atau Tasya yang tak hanya pintar tapi juga sangat cantik, Keala jadi sakit karena stres. Maag-nya bermasalah.
“Sakit maag nggak cuma karena terlambat atau nggak teratur makan, lho,” lanjut dr. Citra. “Bisa juga karena banyak pikiran dan stres.” (hal. 45)

Di saat hidup Keala jungkir balik bak roller coaster, muncul Eizel Augusta, cowok jangkung berkacamata yang siap menolong Keala. Kakak kelasnya yang cerdas dan penuh perhatian itu menyebabkan Keala berhasil move on dari nilai rapornya yang jelek.

Kevin, teman sekelas Keala yang punya otak cemerlang, diam-diam cemburu sehingga berniat mengetahui siapa si Eizel yang selalu diceritakan Keala. Dengan bantuan Ninna, sahabat Keala, Kevin menyelidiki Eizel Augusta yang telah berhasil mencuri hati Keala.
Nama Eizel Augusta tak ada dalam daftar absen semua kakak kelas mereka. Mungkinkah itu nama samaran? Kevin makin curiga kalau Eizel punya niat buruk pada Keala. Dia harus bertindak, demi Keala, cewek manis yang mencuri perhatiannya.
Siapa pun Eizel, berani macam-macam sama Keala, aku nggak segan-segan bikin kamu babak belur! (hal. 146). Itulah janji Kevin untuk Keala.

Tentu saja Keala jadi bingung. Tapi, Keala tetap percaya, Eizel tidak seperti yang dituduhkan Kevin. Apalagi, Eizel sering mengatakan “semua akan baik-baik saja, Ke” (hal 88). “Aku akan menunggu kamu di sini … Wherever you go, whatever you do, I’ll be right here waiting for you, whatever it takes or how my heart breaks, I will be right her waiting for you … (hal 89). Lagu milik Richard Marx yang baru didengar Keala dari bibir Eizel.
Endingnya cukup mengejutkan, meskipun di sepertiga bab terakhir saya sudah mulai bisa menebak siapa Eizel sebenarnya. 

Limit adalah novel teenlit yang terpilih sebagai salah satu dari 10 naskah pilihan editor di Lomba Novel Bluestroberi Penerbit Ice Cube-KPG. Berbeda dengan seri Bluestroberi lainnya yang memiliki cover berkesan girly, Limit tampil dengan font dan ilustrasi seperti komik.
Sedikit unik dari Lomba Novel Bluestroberi adalah mereka meminta sad ending dari para pesertanya. Karena itu, bagi yang suka hepi ending (kayak saya), pasti mikir dulu kalau mau baca. :)
Syukurlah meskipun sad ending, tapi Limit tidak bikin galau, dan saya suka penyelesaiannya.


Triani berhasil memberikan kisah Keala-Eizel, yang berpotensi membuat air mata keluar, sekaligus membuat novel ini terasa manis dan segar karena tokoh Ninna dan Kevin. Dialog-dialog dalam novel ini juga sering membuat saya senyum-senyum.
“Kalem, Ke! Gue cuna ngingetin. Nggak baek ngelamun di sini.”
“Oh, jadi bagusnya kalau ngelamun di mana?”
“Di hati aku aja,”Kevin tersenyum lebar. (hal. 100)

Hampir sembilan puluh persen, setting novel ini di sekolah SMA 79, tetapi tidak membuat pembaca bosan. Perpustakaan menjadi salah satu setting yang paling sering muncul. Perpustakaan sepertinya menjadi tempat favorit Triani, karena dia bahkan hafal nomor-nomor rak dan segala istilah di perpustakaan.
Saya tidak menemukan typo dari novel setebal 189 ini. Kesabaran dan ketelitian dari editor dan proofreader-nya patut diacungi jempol.

Beberapa pertanyaan yang mampir di kepala saya adalah tentang percakapan dan interaksi Keala dan Eizel. Apakah tak satu pun murid di sekolah tidak pernah memergoki Keala, mengingat jumlah murid SMA di Bandung ini tentu tidak sedikit, sehingga tak ada yang curiga dengan tingkah Keala?
Satu lagi kejangggalan yang saya rasakan adalah adegan Kevin marah-marah di perpustakaan, mengapa Pak Dede (petugas perpustakaan) atau yang lain seakan tidak tahu?

 Terlepas dari semua kelebihan dan beberapa kejanggalan, tapi Limit memiliki ide yang unik. Karena itulah, penulis kukuh mempertahankan Limit menjadi judul novelnya. Karena Limit memang didasarkan pada sebuah ide dasar tentang kalkulus. Limit fungsi. Mendekati. Batas. Mendekati tapi tak bisa meraih. Itulah Limit yang membuat kisah Keala dan Eizel menjadi unik.