Showing posts with label Romance-Domestik. Show all posts
Showing posts with label Romance-Domestik. Show all posts

Wednesday, 11 June 2014

(Bukan) Salah Waktu - Nastiti Denny

  Novel Pemenang "Lomba Novel Wanita dalam Cerita" oleh Bentang Pustaka
dibela-belain nanggung malu di depan penjaga kraton mangkunegaran :D

 Setelah beberapa bulan hiatus, akhirnya aku bisa posting lagi. Tapi, karena review kali ini aku ikutkan lomba, jadi postingannya saya letakkan di http://sapto-rini.blogspot.com/2014/06/bukan-salah-waktu-nastiti-denny.html



Sunday, 28 July 2013

Perjalanan Hati

"Menapaki jejak rasa dalam sebuah perjalanan hati"
Perjalanan Hati  Penulis: Riawani Elyta - Editor & proof.: Dewi Fita - Perancang sampul: Dwi Annisa A - Penerbit: RakBuku - Cet I-2013 - Tebal: 194 hal. 




Maira berniat melakukan backpacker ke anak gunung Krakatau, bukan sekadar karena rindu dengan hobinya sebelum menikah, tetapi ada yang harus dia lakukan untuk menguji hatinya. Meski berat, tapi Yudha aka suaminya mengizinkan. Yudha pun menyadari bahwa ini bukan sekadar backpacker bagi Maira tetapi istrinya punya tujuan tertentu. Dan itu berkaitan dengan "dosa" masa lalu Yudha.
Dalam tour yang diadakan oleh agen perjalanan milik adiknya sendiri (Ibra), Maira pun bertemu (dan memang ini tujuannya) dengan Andri. Mereka berdua pernah menjadi pasangan paling serasi dalam dunia "anak gunung".
Sayangnya, Andri bukan tipe pria yang mudah menentukan tujuan hidup. Maka, setelah mereka lulus, Maira tak lagi bisa menemukan sosok Andri, bahkan kabarnyapun tidak. Hingga akhirnya Maira menerima Yudha yang juga sama-sama anak mapala sebagai suaminya.
Perjalanan rumah tangga mereka ternyata tak berjalan mulus. Setahun setelah pernikahan, sebentuk masa lalu terkuak dan siap meledakkan rumah tangga mereka hingga hancur. 
Dan dengan caranya sendiri, Maira berusaha menyelesaikan persoalannya, terutama menanyakan tentang hatinya, ke mana arah yang akan dia tuju.

Membaca novel Perjalanan Hati ini mengingatkan saya pada novel Silang Hati-nya Sanie B Kuncoro. Tak hanya suasana dan gaya narasi, tapi juga tokoh-tokohnya yang "anak gunung" keduanya memiliki persamaan. Tetapi, tak heran karena akhir-akhir ini, sepertinya para backpacker kembali menjadi tokoh idola para penulis. Pertama kali saya membaca tokoh pendaki adalah karya Izzatul Jannah dengan novelnya Apa Kabar Cinta? saat novel-novel FLP sedang booming.

Saya suka dengan tema yang diangkat Riawani Elyta. Tentang Maira dan Yudha yang berusaha menyelesaikan persoalan rumah tangganya dengan cara mereka masing-masing.

Menjalani pernikahan memang penuh liku. Meskipun begitu, sayang sekali jika sampai perceraian menjadi penyelesaian. Dan kita semakin sering melihat dan mendengar akhir cinta seperti ini di sekitar kita. Miris jika mendengar kisah pasangan yang bercerai padahal usia pernikahan mereka baru beberapa bulan. Tetapi tak habis pikir pula saat mendengar perceraian dari pasangan yang menikah lebih dari 20 tahun. Saya tak hendak menjustifikasi, karena bagaimanapun takdir turut bicara.
Hanya saja, usaha mengupayakan cinta memang wajib dilakukan bagi pasangan. Karena seiring berjalannya waktu, cinta bisa tererosi tanpa benar-benar kita sadari. Saya senang ketika penulis menjadikan Maira sosok yang menyelesaikan persoalan dengan kepala dingin.
Karakter seperti Andri memang berpotensi membuat seorang perempuan jatuh pada kasus CLBK :) Apalagi saat rumah tangga yang baru dibangun mulai goyah. Jika saya Maira, kemungkinan juga akan sulit untuk kembali ke jalan yang benar #eh
Untuk itulah sebuah pernikahan harus memiliki fondasi yang kuat dan tujuan yang lebih dalam daripada sekadar tujuan duniawi. #Jadi pingin share janji akad nikah supaya tak sekadar jadi ritual aja, tapi benar-benar dipahami dan diamalkan :D

Dialog via chatt antara Donna dan Yudha di halaman 57 sangat bagus sebagai pengingat bahwa masa lalu memang telah dan biarkan berlalu, tetapi ada hal yang amat sangat penting yang harus menjadi perhatian jika tak ingin terjebak pada kesalahan baru di generasi berikutnya. Saya tak bisa menulisnya di sini, kecuali akan diteriaki dengan yel-yel "spoiler".

Bagaimana ya, seandainya Donna bersikap sebaliknya terhadap Yudha? Apa yang akan dilakukan oleh Yudha? Poin ini sebenarnya yang membuat saya tak memberikan bintang lima pada novel Perjalanan Hati. Karena sikap Donna memudahkan Yudha menyelesaikan masalahnya dengan Maira. Jadi, Donna lah yang menurut saya menjadi kunci penyelesai konflik ini.
Oya, tentang Dody, kenapa harus menjadi pengidap hemofilia? Menurut saya terlalu dramatis. Dan ini membuat saya agak heran dengan keputusannya memilih diam dan tinggal di Australia. Bukankah saat-saat seperti itu justru butuh dukungan terutama dari orang yang punya hubungan paling dekat?

Novel ini memang agak berbeda dengan novel Riawani Elyta yang pernah saya baca. Dari pengakuan penulis di blog-nya, dia menggarap naskah ini dengan diksi yang lebih dalam. Oke, saya setuju dan saya bisa merasakannya.
Perkara cover, kali ini saya tak bisa komentar. Tidak jelek tapi juga tidak sangat menarik perhatian. Sudah, gitu aja #meme raditya dika


Wednesday, 15 August 2012

Yang Kedua



“Kalau boleh tahu, apa yang mendorongmu langsung masuk ke lift? Hanya spontanitas belaka karena mendengar teriakan minta tolong? Atau kamu tahu bahwa aku yang ada di di dalam lift?"
“Yang kedua!”
Ini adalah dialog antara Vienna dan Dave, sesaat setelah terjadi insiden di dalam lift. Sepertinya jawaban itulah yang kemudian dijadikan sebagai judul novel ini: Yang Kedua.
Vienna dan Dave bertemu dalam sebuah festival menyanyi berskala provinsi, di kota Batam. Setelah menyabet juara I (Dave) dan II (Vienna), mereka diminta ikut Festival Song Couple di Singapura. Bermula dari sini, hubungan mereka semakin dekat. Apalagi setelah akhirnya mereka dikontrak untuk menjadi penyanyi duet. Promo demi promo untuk lagu mereka, menjadi percik air yang menyegarkan hubungan keduanya. Begitupun, Vienna, harus bertahan sekuat tenaga menepis perasaannya yang terus tumbuh seiring perhatian tulus Dave padanya. Vienna sudah memiliki ikatan yang tak mungkin diabaikan apalagi diputus begitu saja demi seorang Dave, seberapapun menawannya dia. Ada Haris di ujung sana. Lelaki yang telah mengubah statusnya menjadi istri sejak 5 tahun yang lalu.
Tapi, jika Haris hanya memanfaatkan jerih payahnya dan menganggapnya sebagai sapi perah, haruskah dia melepaskannya, meninggalkannya, atau bertahan dalam kesucian dan kesakralan sebuah institusi bernama pernikahan?

Poligami, menjadi tema yang sering mengemuka sejak seorang publik figur--Aa Gym—melakukannya beberapa tahun yang lalu. Berbagai pendapat muncul, baik yang kontra, mendukung penuh, tapi banyak juga yang mendukung tapi menyimpan kekhawatiran dahsyat dalam hati.
Inilah yang pertama kali saya kira ingin diceritakan dalam novel Yang Kedua milik Riawani Elyta. Itulah mengapa saya lama memutuskan untuk membawanya ke kasir ketika jalan-jalan ke toko buku.
Ternyata perkiraan saya meleset! Ide novel ini lahir justru dari kasus KDRT –seperti yang saya intip dari blog pribadi penulis. Selama ini KDRT mungkin lebih dipersepsikan kekerasan dalam bentuk fisik (pukulan, tamparan, pun caci maki). Tetapi apa yang dilakukan Haris terhadap Vienna bisa termasuk dalam kasus KDRT. Menjadikan istri sebagai tulang punggung keluarga, mengganti peran suami sebagai pencari nafkah utama.

Fenomena seperti ini tidak sedikit, bahkan di lingkungan saya yang notabene memahami bahwa suamilah yang berkewajiban mencari nafkah. Alih-alih ingin menjalankan perannya, saya beberapa kali mendengar para pria memilih gadis yang sudah mapan (dalam arti sudah memiliki pekerjaan tetap), kalau perlu yang sudah menjadi PNS untuk menjadi istrinya. Menurut saya mereka bukan tipe pria gentleman! Tak masalah sebenarnya, jika si istri ikhlas dan hanya menambal kekurangan suami (dan hanya sementara). Pengecualian pada kasus tertentu, misalnya suami sakit parah atau cacat seumur hidup.

Kembali ke Yang Kedua, Haris yang bekerja di perusahaan asuransi dengan penghasilan tak seberapa (tergantung seberapa banyak nasabah yang berhasil ia gaet), terlalu memanfaatkan bahkan cenderung menekan Vienna untuk terus menerima job demi job menyanyi. Bahkan ketika Vienna sakit karena kelelahan dan stress, Haris seakan tak peduli. Dengan enteng dia mengirim sms-sms yang memberitahu bahwa hari ini ia menarik uang sekian puluh juta untuk membeli meubelier, hari berikutnya lagi untuk tagihan angsuran mobil, berikutnya lagi … dan lagi …. *Pingin nonjok Haris*
Lalu jika kemudian ada Dave yang selalu siap menjadi dewa penolong, bagaimana Vienna harus tetap mempertahankan Haris di hatinya?

Tema KDRT memang bukan hal baru dalam novel, tetapi masing-masing penulis memiliki sudut pandang yang menarik untuk terus diikuti.
Gaya bahasa khas Riawani Elyta dengan narasinya yang panjang dan minim dialog.
Tokoh Vienna mengingatkan saya pada karakter Icha dalam novel sebelumnya Hati Memilih. Sama-sama pendiam, bersahaja, bermata bulat, dan langsing. Khusus kata langsing, sepertinya semua tokoh perempuan Riawani Elyta selalu memiliki proporsi tubuh seperti itu. J
Kali ini entah mengapa, Dave tidak berhasil membuat saya jatuh cinta. Bukan berarti buruk, justru menurut saya Dave terlalu sempurna: tampan, kaya, bersuara bagus, ciamik memainkan piano, juga baik, dan tidak gampang tergoda oleh perempuan cantik. *Tidak menantang untuk ditaklukkan hatinya … jiaaahhhh!
Padahal sejak Dave bertemu Vienna di toilet –dan Vienna salah masuk ke toilet pria--dan dengan iseng Dave menjawab, “Never mind. Saya juga tercipta … untuk perempuan, bukan?” saya berharap akan menemukan Dave yang iseng, seenaknya, sedikit konyol, atau sombong jutek tapi baik hati hingga akhir.
Atau mungkin karakter Dave akan lebih kuat jika ada scene Dave dikerubuti fans cewek atau ada sedikit insiden antara Vienna dan salah satu cewek yang jatuh cinta berat pada Dave, misalnya. IMHO.
Meskipun begitu, saya terharu dan terenyak juga saat mengetahui keputusan Dave di akhir cerita. Dan saya suka karena Riawani tak membuat Dave menjadi tokoh yang terjebak dalam cinta butanya, tetapi terus merenung dan berpikir tentang berbagai kemungkinan juga konflik yang bakal timbul, hingga akhirnya menemukan makna cinta sejati setelah menemui Paman Goh Kee. So touching!
Hei … tentang Paman Goh Kee, apakah itu real atau karangan saja? Jika real, aku ingin juga bertemu dengannya.


Beberapa hal yang menurut saya masih perlu dijelaskan, misalnya:
1. Tentang Vienna yang terasa begitu mudah mendapatkan posisi juara dan lagu duet mereka booming. Memang Vienna punya bakat menyanyi, tetapi seperti yang sering saya tonton dalam ajang Indonesia Idol, sebut saja Yodha. Secara bakat dan materi vokal, ia sudah memegangnya. Tetapi ternyata karena tehnik bernyanyi Yodha kurang baik, saya sebagai orang awam pun bisa melihat kelemahannya. Begitupun dengan peserta lain, ternyata mereka tak "ujug-ujug" nangkring di posisi 20 besar.
Sedikit penjelasan tentang usaha Vienna mungkin bisa mengembalikan kernyitan heran di dahi saya *peace Dek Ria
2. Tentang CV yang didirikan Haris, saya tidak berhasil menemukan jawaban--meski berulang saya baca--jenis usaha apa yang ia geluti, dengan adanya mesin cetak. Apakah penerbitan, percetakan, atau tetap tidak jauh dari profesi lamanya sebagai agen asuransi?

Hanya sedikit TYPO, tetapi tak lengkap rasanya kalau tak menyertakan dalam review saya, terutama karena saya sendiri sangat menyukai profesi proof reader:
hal. 108: “ …. Dia nggak bisa bahasa Inggris, meski hanya Singlish tempatan…” (maksudnya?)
hal.125: “Aku nggak tahu apa (yang) akan terjadi kalau kamu nggak ada di sana.”
hal. 141-142: bukankah tidak ada sesuatu yang tidak ada sesuatu yang mengancam …

Secara keseluruhan saya cukup menikmati novel ini, meskipun harus memakan waktu dua hari, karena ada prioritas bacaan yang harus segera saya selesaikan. Maklum Ramadhan ;)
Well … well … pembaca yang suka novel bernuansa tenang, santun, lembut-romantis, dan “religius”, Yang Kedua ini bisa jadi pilihan.

NB. Untuk penulisnya:
“Sssttt … apa kabarnya Zoch dan Opera Rumah Singgah? Kapan-kapan bikin tokoh seperti dia, asyik kayaknya.” ;)

Judul: Yang Kedua
Penulis: Riawani Elyta
Editor:Widyawati Oktavia
Proofreader: Dewi Fita
Desainer Sampul: Danish
Penata Letak: Gigitz
Penerbit: Bukune
Cet: ke-2 Juni2012