Jumat, 12 September 2014

Kaliluna, Luka di Salamanca

Kaliluna, gadis pemanah dari Jogja yang membawa luka ke Salamanca.
Mimpi Kaliluna sebagai atlet panahan berakhir setelah jiwa dan raganya tergores di sebuah malam kelam. Ia percaya satu-satunya tempat yang dapat menyembuhkan jiwanya yang pecah adalah tempat yang asing, seperti Salamanca, Spanyol.
Tetapi berada di kota yang Sungai Tormes mengalir dan cuche memanjakan lidah, tak kunjung membuat jiwa Kali tenang. Ia harus berhadapan dengan Frida, ibu yang meninggalkannya saat kecil dan Ibai, pemuda berdarah Vasco dengan sejuta mimpi dan sebuah rahasia.
Di antara desau dedaunan pohon ceri dan harapan yang tergantung pada gembok Pozo de los Deseos, dapatkah Kali kembali memanah bintang seperti dalam dongeng masa kecilnya atau haruskah ia remuk terinjak seperti semak conyza di pinggir dermaga?

Pertama kali melihat cover ini diunggah di FB saya langsung tertarik dengan judulnya. Covernya juga tak kalah bagus. Lebih menonjolkan judul. Saya memberikan apresiasi tinggi untuk penulis yang menggunakan judul dengan Bahasa Indonesia. Kaliluna, Luka di Salamanca enak diucapkan karena berima dan puitis.
Nama Ruwi Meita memang jaminan untuk masalah diksi. Sejak lembar pertama saya sudah siap mendapatkan taburan diksi yang indah dalam narasinya.

Jadi, novel ini bercerita tentang seorang gadis Jogja bernama Kaliluna. Biasa disapa Kali. Dia pemanah yang hebat. Suatu malam, saat sedang berlatih untuk persiapan SEA GAMES, terjadi peristiwa yang sangat tragis. Dari sinilah berawal semua luka yang dibawa Kali hingga Salamanca. Trauma yang dibawanya sangat parah, hingga Kali akan histeris hanya melihat busur panah.

Kali memilih Salamanca, karena di sana tinggal Frida, ibu kandung yang meninggalkannya saat kecil demi seorang pria berdarah Vasco, Gorka.Tapi, bukan untuk memeluk dan mencurahkan lukanya, Kali justru memilih Frida karena dia menganggap Frida adalah orang asing, tetapi dapat menopang hidupnya selama di Salamanca.

Di dermaga Higuera, di tepi Sungai Thormes, Kaliluna bertemu Ibai. Kali merasa ketenangannya terusik, karena dia ingin sendirian, merenung, dan meresapi lukanya. Tapi, bukan Ibai kalau menyerah begitu saja. Selalu ada cara untuk menyusup dalam jiwa Kaliluna.
Saat akhirnya Kaliluna berhasil menaklukkan monster dalam jiwanya, Arya datang menjemput. Arya, kekasihnya di Jogja.
Kaliluna harus memutuskan, meskipun keputusan apapun akan sama-sama membuat luka.

Saya menikmati setiap kata yang tertera, bukan hanya tentang kisah Kaliluna. Setting Spanyol tidak diumbar, sehingga justru membuat saya merasa ini ditulis oleh salah satu penduduk Salamanca. Justru penulis menawarkan Spanyol dari hal-hal kecil seperti corynza, pepinillo, aroma kota, atau hal-hal kecil dari Spanyol dan penduduknya. Saya suka dengan adegan pesta kehamilan Margarita yang dimeriahkan dengan pembacaan puisi oleh suaminya, dan peserta pesta melantunkan puisi bersama-sama. Keromantisan Spanyol terasa semakin kental. Saya sangat menikmatinya.

Olahraga memanah di novel ini bukan poin utama yang diangkat, seperti novel Betang-nya Shabrina WS. Pembaca hanya akan menemui istilah-istilah dan beberapa teknik yang biasa dipakai dalam memanah. Panahan di sini lebih terasa sebagai latar bagi karakter Kaliluna.Namun, kedua novel itu sama manisnya dan sama indahnya dalam diksi. Mereka berdua jadi penulis favorit saya berikutnya.

Ada satu adegan yang mengingatkan saya pada sosok Katnis di Hunger Games, adalah saat Kaliluna berjalan di keramaian kota Salamanca dengan busur dan panah di punggungnya. Sayangnya, deskripsi fisik masing-masing tokoh masih terasa samar bagi saya. Misalnya, Kali hanya diungkapkan sebagai gadis cantik dari Asia, demikian juga dengan Ibai, dan tokoh yang lain. Namun, 'kekurangan' ini tertutupi dengan deskripsi karakter tokoh dari sisi nonfisik.

Ada satu tokoh di novel ini, seorang gadis bernama Pilar, yang muncul di awal-awal bab, tapi sayangnya peran Pilar kurang signifikan, selain hanya sebagai teman Ibai dan salah satu atlet panahan di Spanyol. Saya pikir Pilar akan menjadi gadis yang 'ada di antara' hubungan Ibai dan Kali.

Salah satu kebiasaan orang Spanyol yang terkenal adalah siesta (tidur siang). Mengingat Spanyol pernah berada di bawah pemerintahan muslim, tidak menutup kemungkinan kebiasaan ini dibawa oleh muslim. Salah satu sunnah Nabi Muhammad, yang sayangnya banyak dilupakan dan ditinggalkan oleh umatnya adalah siesta, yang dalam bahasa Arab adalah qailulah.  Nabi dan para Sahabat melakukan qailulah, yaitu tidur siang sejenak atau istirahat sejenak di siang hari. Dari segi medis, ternyata qailulah ini sangat bermanfaat bagi kesehatan.

Novel setebal 270 ini nyaman dibaca dengan pemilihan font yang pas dengan mata saya. Editing juga cukup rapi, meski masih ada beberapa typo, misalnya:

Terserah kamu sajalah, Aku  ke rumah ... (tanda koma harusnya titik.) --hal 96
... Frida berangkat lebih pagi, Dia tahu ... (tanda koma seharusnya titik) --- hal 90
raning --(ranting) ---hal 123
puih --(putih) ---hal 140
mengira-ira --- (mengira-ngira) ---hal 158
ke lima ---(kelima) ---hal 188
Kaliluna "Entahlah," kata Kaliluna ... (?) ---hal. 196
... kucing itu itu berjingat -- (kucing itu berjingkat) --- hal 246
Dengan uang penjualan yang besar Pablo bisa merenovasi toko permen mamanya ---(sepertinya yang merenovasi toko itu Ibai, bukan Pablo, kan?) ---hal 267

Karena settingnya Spanyol, maka pembaca akan dikenalkan dengan beberapa cuplikan puisi Pablo Neruda. Kalimat yang paling saya suka adalah yang diucapkan Ibai pada Kaliluna
Aku ingin melakukan denganmu apa yang musim semi lakukan dengan pohon ceri. (petikan puisi Pablo Neruda)
Sayang sekali font yang dipilih untuk puisi dalam bahasa aslinya sulit dibaca.

Terakhir, terima kasih telah mengenalkan saya pada Kaliluna, Salamanca, sungai Thormes, dan panah.
Membaca novel ini mengingatkan saya pada grup vokal kesayangan  saya Il Divo. Dan salah satu lagu yang cocok untuk mengiringinya adalah Una Noche


Ada Book Trailer yang bisa dinikmati sebelum membaca novelnya:

http://www.youtube.com/watch?v=qRrphevpWH8

gambar dari goodreads
Judul  : Kaliluna, Luka di Salamanca
Penulis : Ruwi Meita
Penyunting : Dyah Utami
Proofreader : Sasa
Desainer sampul : Fahmi Fauzi
Penerbit : Moka Media
Cetakan I : 2014
ISBN : 979-795-854-X
Juml. Halaman : 270 hal.

Kamis, 28 Agustus 2014

Cinta/Pergi

Ketika kehilangan menjadi awal dari segalanya.
Dan perubahan adalah keniscayaan. Tak ada yang abadi di dunia, kecuali perubahan itu sendiri.Seperti itu juga rasa cinta. Kadang rasa itu pergi, kadang menetap di hati hingga mati.  

gambar dari realitas juno
Judul buku   : Cinta/Pergi
Penulis         : Herjuno Tisnoaji
Editor          : Dedik Priyanto
Pendesain sampul    : Henz Sinelir
Penerbit:      Moka Media
Cetakan Pertama, 2014
Tebal          : 181 hal.
ISBN: 978-979-795-864-0 

Reizo Maruta Cendekia (Rei), murid SMA yang suka bolos, berandalan, dan hobi tawuran. Itu dulu. Sebelum seorang gadis 'aneh' membuntutinya ke mana-mana. Karena jengah, Rei akhirnya sepakat untuk membiarkan Florina, gadis 'aneh' itu membuntutinya selama sepekan. Sejak saat itu Florina bahkan lebih dekat dari bayang-bayang Rei sendiri #ingat komik luckyluke
Menurut pengakuan Flo, dia akan membuat novel dan tokohnya adalah cowok kayak Rei. Jadi, Flo butuh mencatat semua tingkah laku Rei, kebiasaannya, tempat nongkrongnya, sampai apa yang ada di kamarnya.
Meskipun jengkel, Rei harus menepati janji. Dan Rei adalah orang yang paling benci sama orang yang ingkar janji. Nah, masalahnya, papanya termasuk kriteria orang itu. Sifat papanya membuat keluarga mereka broken. Mama hidup sendiri, sementara Rei tinggal bersama papanya seperti dua orang asing. 
Hubungan Rei dan papanya semakin buruk, hingga akhirnya Rei kabur dari rumah. Bisa nebak siapa yang nolong? Florina! Dia nolong Rei karena sebelumnya Rei menyelamatkan Flo saat mereka terjebak tawuran. Saat itu, Rei malah kena lemparan batu dan pingsan.

Waktu dapat buku ini, saya senang banget karena tokoh utamanya cowok dan ditulis oleh cowok juga. Bisa dihitung penulis cowok yang bukunya sudah saya baca. Syahmedi Dean, John Green, Alfred Hitchcock. Jarang, ya, kecuali penulis buku-buku sastra seperti Pak Sapardi, Ahmad Tohari, dkk.
Jadi kenapa saya senang? Karena karakter tokoh cowok jadi 'pas" di tangan kaum mereka sendiri mestinya. Rei di sini adalah cowok pendiam, asosial, korban broken home, punya kebiasaan unik (aneh) memandangi langit dari atap kamarnya atau atap gudang sekolah. Analoginya pas menurut saya. Rei merasa semua meninggalkannya, semua telah berubah. Dan hanya langit yang tetap, tak berubah, setia menemaninya.

Analogi remaja dengan kembang wijaya kusuma juga saya sukai. Idenya bagus. Kebetulan saya pernah melihat wijaya kusuma saat mekar. Benar-benar ketika malam sudah larut. Kami memandanginya dengan takjub. Mekar sebentar, kemudian redup. Setuju dengan Juno dalam hal ini. Masa remaja memang hanya sebentar. Masa paling bahagia. Sekaligus masa paling penuh godaan. Makanya banyak nasihat, contoh, hikmah yang tertera dalam Al-Qur'an dan Hadits tentang masa muda.
Selain bunga, ada satu lagi analogi usia dengan kembang api. (hal. 89)

Ceritanya cukup mengalir. Karakter dingin dan pendiam Rei bertemu karakter Flo yang ceria jadi terasa manis. Kalimat yang dipakai Juno (penulis) pendek-pendek, dari sudut pandang Aku (Rei) enak diikuti. Gaya bahasanya juga pas. Ringan, khas remaja.

Judulnya unik, meskipun sampai sekarang saya masih belum bisa menafsirkan secara tepat tanda garis miring di antara dua kata itu #merenung lebih dalam

Konflik tidak terlalu tajam, dan penyelesaiannya cukup smooth. Efek dramatisnya jadi kurang, tapi enggak apa-apa, deh, karena dalam kehidupan nyata pun tidak semua konflik menjadi dramatis. #kayak hidup saya

Nah, ada ganjalan tentang pengakuan Flo di akhir cerita. Apakah berarti Flo diselamatkan dua kali? Kalau iya, akan lebih baik jika di awal mereka bertemu ada sedikit 'kode' yang mengarah ke situ.
Terus kenapa Flo tiba-tiba pergi *waduh potensi spoiler ini*. Tapi, asli ini bikin saya jadi mikir. Alasan Flo kurang kuat menurut saya.

Sebelumnya saya minta maaf untuk penilaian poin terakhir, yaitu masalah PENYUNTINGAN. Hmmm ... saya sampai curiga file yang dicetak adalah file aslinya. Begitukah? Editor juga manusia, punya salah juga lupaaa *nyanyi* Semoga cetakan berikutnya sudah ada perbaikan.

Btw, selamat buat Juno untuk debut pertamanya sebagai penulis novel. Rasanya nano-nano, ya. :D Novel berikutnya saya tunggu. Lempar sini biar saya review #dicelupin kaleng cat