Sabtu, 06 Desember 2014

Satria November #2

Hai, masih ingat aku, Mima, yang pernah ngalamin petualangan menegangkan tak terlupakan bareng Inov alias Satria November? Namanya, sih, keren, tapi, dia kemarin terlibat dengan kasus narkoba. Kalau lupa, baca dulu kisahku di seri 1. Emm, tapi langsung ke seri 2 juga nggak pa-pa, sih. Nggak bakal bikin bingung, karena di halaman awal ada ringkasan kisahku bareng Inov. Aku kenal Inov karena dia anak sahabat Mama. Supaya jauh dari genk narkoba yang masih mempengaruhi, Inov dititipin ke rumahku. Dan karena itu, aku terlibat dalam petualangan seru bareng Inov.

Jadi, Satria November #2 ini lanjutan dari Satria November--cover lama tanpa #1 dan covernya hijau lembut. Sekarang dicetak lagi dengan cover hijau juga tapi style sama dengan cover Satria November #2. Kemarin ngintip sekilas, font-nya lebih enak. Lebih gede dan nggak rapet-rapet kayak yang edisi lama.

Oya, tahu, kan, yang nulis novel ini MIA ARSJAD? *Tahu lah Buuu, orang di cover ada*. Pinter, deh, berarti nggak usah dijelasin. *ditoyor pakai tulang manusia purba.

Karena Inov, aku sekarang sama Gian resmi jadi pacaran. Tapi, tetap saja aku suka kangen sama Inov. Dia kan udah deket banget dan jadi tempat curhatku, jadi nggak pa-pa, kan, kangen?  Biasanya kita suka sms, wa, dan lain-lain, tapi ini sudah dua harian, Inov nggak bales pesanku. Padahal kata Mama, yang telepon sama bundanya Inov, dia baik-baik saja.
Aku, sih, mana percaya?
Dan, aku kaget setengah mati, ketika tahu-tahu Inov muncul di hadapanku. Kapan dia datang ke Bandung? Kenapa dia nggak bales pesanku? Ternyata Inov masih si robot somplak. Ekspresinya masih datar sedatar-datarnya, ngomongnya cuma sepatah kata.

Meski begitu, aku seneng banget akhirnya bisa ketemu Inov. Apalagi dia ngaku sengaja bikin kejutan untuk ultahku. Ih, sweet banget, ya. Tapi ternyata senengnya nggak lama. Inov ternyata menyembunyikan rahasia. Dan dia bohong sama aku, Mama, dan semua orang. Aku jelas kepo dan sok jadi detektif ngikutin Inov.  Aku kaget setengah mati, ketika mendapati Inov tinggal di rumah yang kumuh sekumuh-kumuhnya, dan tampak sedang ada urusan dengan orang-orang bertato, berbadan kekar, berwajah bengis sebengis-bengisnya *Hmmmpfttt*.

Jadi, seperti kisahku yang pertama, kali ini karena kekepoanku dan kecerobohanku, aku ikut terlibat langsung dalam sebuah kejahatan dan genk kriminal.Karena sudah ketahuan, Inov harus pura-pura kalau kami pacaran. Aku tak bisa berbuat apa-apa kalau mau Inov, aku, dan Mika--kakak kembarku--selamat.

Sebenarnya nggak masalah aku selalu bersama Inov, tapi ada Gian. Gimana, dong? Dan bisa ditebak, bagaimana marahnya Gian sama aku. Yah yah ... aku paham dia marah. Tapi, aku juga tak bisa bilang jujur karena pertaruhannya nyawa kami. Dan aku juga nggak mau menggagalkan operasi penangkapan Boss Besar dan komplotannya yang sudah dirancang matang oleh kepolisian.
Karena Inov, aku melihat secara langsung adegan kekerasan dan darah yang membuatku  gemetar dan mual. Karena Inov, aku harus berbohong, dari satu kebohongan ke kebohongan yang lain. Tapi, ini bukan kesalahan murni Inov. Ini salahku yang suka telat gunain otak.

Tapi, dari pengalaman ini aku belajar agar lain kali nggak kepo akut, mikir dulu baru bertindak.Aku jadi tahu betapa kejamnya dunia hitam, dan betapa mirisnya saat anak-anak seusiaku terperosok ke dalam jurang kejahatan hanya demi gengsi dan uang.

Mia Arsjad pinter banget menuliskan kisahku dengan kalimat-kalimat dan dialog lucu yang bikin aku ngikik sendiri saat baca tulisannya. Makasih ya, Mia, telah menulis kisah ini, dan aku menangis lagi saat membaca halaman-halaman akhir, sebelum ditutup dengan kisah yang serasa ngemut gula.

Covernya aku no comment *bukan sok ngartis*, tapi aku cuma tertarik dengan font judulnya. Ilustrasi lainnya biasa aja, nggak jelek tapi juga nggak bagus yang bikin aku ngeliatin lama. Meskipun syukurlah warna birunya nyala banget waktu dipajang di rak buku. Jadi, kalau nyari nggak susah.

Nah, ini, kenapa di awal-awal banyak typo coba? Ada juga yang keliru nyebut nama. Harusnya yang ngomong A, tapi ditulis B. Secara ini terbitan Gramedia, yang kata seorang editor *kedip-kedip* dia suka takjub dengan zero typo buku-buku Gramedia.

Selain itu, aku merasa nggak rugi, sih, udah ngeluarin uang buat beli buku ini *kisah sendiri, kan, pantas, untuk dikoleksi*. Betuull?


Supaya nggak pada bingung, aku tulis siapa saja tokoh di cerita ini dan karakternya:

Aku (Elmima Srikandi Millenia): kata orang aku tengil, suka merepet kayak betet sampai-sampai semua   orang yang aku ajak bicara sering mbekep mulutku biar diam. Tapi aku baik, berani (atau kepo?), dan penuh perhatian--terutama pada Inov.

Inov alias Satria November: robot somplak tanpa ekspresi, nggak bisa ngomong panjang kecuali saat bulan purnama--boong deng--, jangkung, sekarang lebih berisi karena sudah terapi setelah kecanduan narkoba dan paru-parunya membaik, sayang banget sama aku --sepertinya--, heroik, dan nerima aku apa adanya meski suka nyeplos pedas dan nyindir.

Gian: pacar aku , ketua Osis, pintar, berwibawa, selalu rapi pi ... pi ..., bahkan selalu pakai sepatu pantofel yang mengilap, dan berusaha membuat aku jadi cewek feminin dan anggun.

Mika: kakak kembarku, yang tetep suka ngeledek aku tapi kami saling menyayangi. Perannya kurang banyak di seri 2 ini. Soalnya Mika sudah punya cewek, jadi dia sibuk sama ceweknya. Dasar!

Mama: yaah, kayaknya dari Mamalah bakatku merepet dan suka teriak kayak Tarzan.

Teh Julia: asisten di rumah, logat sundanya dicampur Inggris bikin ngakak njengkang. Dia mengaku masakannya jauuuuuh lebih lezat daripada para chef cantik seksi di tv. Terserahlah!

Tante Helena: Bunda Inov. Dia sangat menyayangi Inov.

Kiki, Dena, Reva: sahabatku yang paling baik tapi konyol dan sok-sok berlagak jadi wartawan dan detektif yang hobi menginterogasiku.

Selasa, 23 September 2014

Rahasia Hujan

diambil dari blog penulisnya
 Judul: Rahasia Hujan
Penulis: Adham T Fusama
Penyunting: J. Fisca
Pendesain sampul: Fahmi Fauzi
Penerbit: Moka Media
Tebal : 272 hlmn.
Cet. Pertama 2014
ISBN 979-795-857-4
Sinopsis

Pandu satu-satunya murid yang berhasil membuat Anggi, muid dari Jepang, mau sedikit bicara dan tersenyum. Anggi adalah cewek misterius, dan asosial. Pandu, sebagai teman sebangku, berusaha bersikap ramah pada Anggi. Usaha Pandu sedikit berhasil. Paling tidak, Pandu dapat membujuk Anggi mengirim lukisannya yang indah pada Nadine, pacar Pandu sekaligus pemred mading sekolah mereka.
Tapi, Mamet, sahabat Pandu, merasakan keanehan pada sikap Anggi. Aneh yang membuat bulu kuduk meremang.
Ternyata kecurigaan Mamet mulai mempengaruhi Pandu. Beberapa hal aneh terjadi. Ada paket parfum mahal datang ke rumah Pandu, ponsel Mamet lenyap, hingga tahi kucing di ruang redaksi yang membuat Nadine gusar.
Di pesta ulang tahun Anggi sekaligus perayaan tahun baru, yang diadakan di rumah Anggi peristiwa mencekam terjadi. Nyawa mereka menjadi taruhan. Pandu harus bertindak, di tengah hujan deras dan petir, melawan tubuhnya yang lemah dan ketakutan.

My opinion:
Saya baru tahu kalau boneka-boneka gundul yang digantung dan menjadi cover buku ini disebut teru-teru bozu. Sejak melihat covernya, saya sudah curiga kalau ceritanya bakal menyeramkan. Makanya, saya tak berani membacanya saat sendirian, dan inilah alasan kenapa lama sekali saya menyelesaiakannya.
Sebenarnya kalau saya baca blurb belakangnya dengan cermat saya tak perlu curiga bakal menemukan cerita-cerita mistis. Hihihi. Di sana tertulis kalau novel ini bergenre thriller, dan genre ini saya sukai, asal tidak terlalu berdarah-darah.

Pada awal bab, aura dingin dan misterius Anggi sangat terasa. Syukurlah, kehadiran Mamet dan Nadine yang cantik membuat novel ini tidak selalu muram. Saya suka karakter mereka berdua, meski bukan tokoh utama.

Ceritanya mengalir cukup lancar dan enak diikuti. Hanya saja, menurut saya aura Anggi jadi kurang terasa 'dingin' dan greget di akhir cerita. Apalagi dengan adegan-adegan 'vulgar' --dari sudut mata saya--malah membuat rasa mencekam yang saya harapkan sejak pesta ulang tahun jadi lepas.
Tapi, tetap saja Adham T Fusama mampu membuat saya menangis pada adegan *spoiler indicated* sampai di adegan di rumah sakit.

Satu hal lagi yang saya harapkan ada penjelasan yang lebih kuat, adalah latar belakang Anggi hingga memiliki perilaku menyimpang seperti itu. Patah hati yang dialami Anggi tidak cukup kuat untuk meyakinkan saya sebagai penyebab satu-satunya.
Tema novel ini sarat pelajaran dan pesan buat remaja dan sekolah, dan semoga novel Adham lainnya bisa saya nikmati lagi.
Kali ini saya tidak digoda dengan typo. Yeay ...! Selamat buat penulis, editor, dan proofreadernya.

*TRIVIA
Teru-teru bozu adalah boneka tradisional Jepang yang terbuat dari kain putih atau kertas yang digantung di tepi jendela dengan benang. Jimat ini diyakini memiliki kekuatan ajaib untuk mencerahkan hari dan mencegah hujan turun. 
Teru-teru bozu juga ada nyanyiannya. Di novel ini, Anggi sering menyanyikan lagu teru-teru bozu.