Tuesday, 31 December 2013

Reading Challenge 2014












List Buku untuk Reading Challenge 2014:

JANUARI
1.      Fabel : the Tale of Despereaux
2.      Tebak SS : Sweet Misfortune

FEBRUARI
     3. Historical Fiction Indonesia : ?
     4. Kuliner : apapun yg bertema kuliner  Posbar 28 Februari 2014
     5. Betang : Shabrina Ws (IRRC)
      6. Kisah Langit: (IRRC)

MARET
      7. Oprah’s Book Club : Posbar 27 Maret 2014
       8. Puisi : Hujan Bulan Juni  Posbar 28 Maret 2014
       9. Semusim dan Semusim Lagi (IRRC)
      10. Kabul Beauty School (TBRR)

APRIL
        11. Tema Perempuan : The Help by Kathryn Stockett, The Good Wife by Jane Porter, Posbar 29   April 2014
        12. Travel :Ciao Italia! (+ 14 Lucky)
Posbar 30 April 2014
        13. Rinai (IRRC)
        14. Clockword (TBRR)

MEI
       15. Kathulistiwa Literary Award 2013 : Pulang?  Posbar 30 Mei 2014
       16. Humor dan komedi : Posbar 31 Mei 2014
        17. Entrok (IRRC)
        18. The Scarscrow (TBRR)

JUNI
       19. Sastra Asia : Boleh Sastra Asia Timur. Genre bebas,  Posbar 26 Juni 2014
       20. Fairy Tales : Kisah fiksi dongeng berisi karakter-karakter fantasi semacam peri, goblin, penyihir, dll seperti The Iron King by Julie Kagawa, The Tales of Beedle the Bard by J.K. Rowling  Posbar 27 Juni 2014
        21. Gerimis di Arc de Triomp (IRRC) (14 Lucky)
         22. Resep Perkawinan Sempurna (TBRR)

JULI
       23. Buku tentang masalah remaja/keluarga seperti Please Look After Mom by Kyung-Shook Shin, dll. Posbar 24 Juli 2014
       24. Buku Sicklit: Buku-buku tentang karakter yang sakit/sekarat. The Fault Our Stars  . Posbar 25 Juli 2014
       25. Rose (IRRC)
       26. Home (IRRC)

AGUSTUS
      27. Tema Lokal/Nusantara: Buku-buku budaya, wayang, mitos/dongeng, sejarah, cerita rakyat apapun yang ada unsur daerah maupun nusantara. Posbar 28 Agustus 2014
      28. Buku Baru Indonesia yang terbit tahun 2014, bukan cetak ulang. Genre bebas, boleh fiksi maupun non-fiksi dan tentunya ditulis oleh pengarang lokal. Posbar 29 Agustus 2014
       29. Altitude (IRRC)
       30. Oksimoron (TBRR)

SEPTEMBER
       31. Buku Silat : Sesekali ayo kita coba buku (graphic novel, novel diperbolehkan) genre silat seperti Musashi by Eiji Yoshikawa, dll. List by GR: https://www.goodreads.com/genres/cerita-silat Posbar 29 September 2014
       32. Buku dengan rating rendah di Goodreads (1-2 bintang) : Tentunya kita penasaran mengapa buku itu bisa mendapat rating rendah, bukan? Ayo kita telusuri apa alasannya dengan menulis review buku tersebut. Posbar 30 September 2014
        33. Memory  (IRRC)
         34. Phantom of the Opera (TBRR)

OKTOBER
        35. Buku-buku terbitan Balai Pustaka. Mari kita dukung Balai Pustaka dengan membaca buku-buku mereka. Jika kesulitan mencari bukunya, langsung pesan online saja ke http://www.balaipustakaonline.com/ Posbar 30 Oktober 2014
        36. Buku yang diterbitin bertepatan dengan tahun kita lahir. Buku ini bisa tentang apa aja, bebas pilih genre, penulis, maupun terbitan nusantara maupun mancanegara. Yang penting pertama kali diterbitkan bertepatan dengan tahun kelahiran XD. Posbar 31 Oktober 2014
        37. Looking for Mr. Kim (IRRC)
         38. Weird Sister (TBRR)

NOVEMBER
       39. Newbery Book List: Buku-buku yang terdaftar dalam list Newbery Medal and Honor Books seperti Where the Mountain Meets the Moon  by Grace Lin, A Single Shard by Linda Sue Park, dll list Http://www.ala.org/alsc/awardsgrants/bookmedia/newberymedal/newberyhonors/newberymedal Posbar 27 November 2014
       40. Buku yang ada unsur angka: 99 Cahaya di Langit Eropa (+ 14 Lucky):  Posbar 28 November 2014
        41. Kim (TBRR)
        42. The Adventure of Huckelberry (TBRR)

DESEMBER  
       43. Vote for your own choice!! Kita baca bareng serentak buku yang sama, satu judul yang sama.. are you ready? Posbar 30 Desember 2014
        44. Norwegian Wood

Tambahan:1. Pada Suatu Hari Nanti dan Malam Wabah
2. Committed
3. Shophaholic Ties Knot
4. Jane Eyre
5. American Gods
6. Linda Howard ?
7. Serial Lima Sekawan

Tuesday, 24 December 2013

2014 TBBR Pile--a Reading Challenge

 

Ini RC ke-2 yang bakal saya ikuti di tahun 2014. Berani-beraninya! Bener, sih. Tapi RC ini sangat membantu saya menghabiskan tumpukan buku di rak timbunan, jadi apa salahnya kalau ikut. Lagi pula, ternyata beberapa kategori bisa beriringan dengan RC yang lain.
Yang penting NIAT! Perkara nanti di jalan bagaimana-bagaimana, yaah pasrah, deh *kayak apa aja

Oh ya, RC kali ini tak hanya sekadar membaca tapi harus mereview juga. Makanya TBRR itu singkatan dari To-Be-Read-Review.

Tantangan Utama dalam TBRR Pile ini adalah membaca buku minimal 1/bulan. Jadi, dalam setahun minimal kita membaca 12 buku *ah gampang :p

Nah, selain Tantangan Utama ada lagi Tantangan Tambahan. Dari kategorinya, sih, menarik. Tapi, demi kebaikan diri sendiri sebaiknya saya enggak kemaruk *acungin kemoceng ke muka sendiri

Jadi, buku apa saja yang kira-kira bisa mengurangi timbunan di rak saya:

1.    Kabul Beauty School -- Deborah Rodriguez

2.   Clockwork --Philip Pullman

3.   The Scarecrow & His Servant --Philip Pullman

4.   Resep Perkawinan Sempurna --Kate Kerrigan

5.   Oksimoron -- Isman H. Suryaman

6.   The Phantom of the Opera --Gaston Leroux

7.   The Weird Sisters --Eleanor Brown

8.   Kim --Rudyard Kipling

9.   The Adventures of Huckleberry Finn --Mark Twain

10. Norwegian Wood --Haruki Murakami

11.  Entrok -- Okky Madasari

12. The Tale of Despareaux -- Kate Dicamillo

Saya bertahan di 12 buku dulu. Nanti kalau berhasil menyelesaikan dan masih ada waktu insya Allah akan ikut Tantangan Tambahan-nya.
Kalau kalian tertarik dan ingin ikut, lihat prosedurnya di LemariHobbyBuku.

Friday, 20 December 2013

Secret "Lotus" Santa-ku, Siapa Dirimu Sebenarnya?

Jadi begini. Di klub BBI itu setiap bulan Desember ada event Secret Santa. Jangan salah sangka. Ini  hanya acara seru-seruan antaranggota BBI. Saling mengirim buku dengan merahasiakan pengirimnya alias si Santa.

 
Tahun ini adalah pertama kali saya ikut. Kayaknya sih, ini tahun ketiga Secret Santa.
Nah, saat akhirnya ditentukan siapa target saya alias si X, tiba-tiba saja saya jadi grogi. Saya, kan, nggak banyak kenal member BBI, kecuali yang di Solo plus sedikit member Semarang. Uh, niat mau membatalkan diri ke Oky yang jadi panitianya.

Tapi, ya sudahlah, kalaupun tak bisa menebak, yo ra po-po, to. Nggak ada hukuman, kok. Cuma hilang kesempatan mendapatkan undian penebak jitu :) *kayaknya, sih

Ketika teman-teman sudah laporan kalau buku dari SS sampai, saya jadi deg-degan karena belum dapat juga. Akhirnya malah berpikir kalau SS ku mau ngasih buku Cucko's Calling *jiah kepedean* jadi ngirimnya telat. Kan, buku itu baru terbit beberapa hari kemudian :)

Di suatu siang yang ramai--saat itu di rumah sedang berkumpul bapak dan para kakak saya--pak kurir datang. Kotak tebal saya terima. Seketika senyum saya merekah lebar. Oh, begini ya dapat kado buku dari seseorang yang tak kita ketahui :D


Alhamdulillah, dikado 2 buku *peluk santa lotus-ku















Begitu melihat nama pengirimnya, saya langsung berkata "JEBAKAN BETMEN"! Iya, meskipun saya nggak kenal banyak member BBI, tapi saya hobi blogwalking, lho. Jadi, saya cukup familiar dengan nama-nama mereka.Dan nama itu belum pernah saya lihat.
Teka-teki yang ditulis ada dalam buku berupa dua kertas warna merah.


Riddle 1 adalah:

Caffe and cakes are best for Christmas, don't you think?
Santa loves them, too!
And Santa loves Red Lotus for her coat!
 
 
riddle 1















Riddle 2 adalah:

Search this and you might find me. (ada tanda panah ke atas, ke pojok buku yang ada nama pemiliknya: Phoebe Yuu's Book) :D
hohohohoho
Good luck
Lotus Santa

Terus di kertas paling bawah ada tulisan lagi:

This is kinda ironic, isn't it!














Jadi, siapa Lotus Santa-ku yang baik hati ini? 

Friday, 29 November 2013

Lucky no.14 Reading Challenge




Nekat! Iya, bener banget. Sebenarnya saya sudah nggak berniat ikut RC, kecuali yang di Goodread. Ketahuan saya nggak konsisten mereview buku yang sudah dibaca, plus nggak konsisten menepati list buku yang harus dibaca. Tapi, saat BW dan nemu Lucky No. 14 ini kok membuat saya tertarik ikut. Syaratnya asyik dan gampang. Jadi, saya putuskan untuk ikut RC yang di-host oleh Astrid Lim di blog Book Share-nya.

Period of the Challenge: January 1, 2014 – December 31, 2014

Sebaiknya mencoba mencarinya dalam tumpukan buku kita saja.Tapi, jika ingin beli, ya nggak pa-pa kok. Bagus juga, tuh.

Here are the 14 Categories:

1. Visit The Country: Read a book that has setting in a country that you really want to visit in real life. Make sure the setting has a big role in the book and it can make you know a little bit more about your dream destination.

Kota yang ingin saya kunjungi adalah Italia. Banyak bangunan yang masih asli. Bahkan bangunan terbaru katanya dibangun 100 tahun yang lalu. Itu kereeen! Selain juga penghuninya yang terkenal punya ras indah (bilang aja prianya ganteng-ganteng *batuk). Jadi, saya akan baca:

CIAO, ITALIA
+Gerimis di Arc de Tromphe (setting Paris. Tambahan krn sudah punya bukunya)


2. Cover Lust: Pick a book from your shelf that you bought because you fell in love with the cover. Is the content as good as the cover?

Suka karena covernya? Emm ... belum nemu, ntar dicari di rak.

3. Blame it on Bloggers: Read a book because you’ve read the sparkling reviews from other bloggers. Don’t forget to mention the blogger’s names too!

Kayaknya sih banyak, tapi lupa dari review siapa, Dicari dulu, deh. Tapi ada satu yang direkomendasikan oleh B-Zee (Busyra). Untuk sementara saya mau baca:

PADA SUATU HARI NANTI DAN MALAM WABAH (Sapardi Djoko Damono)



4. Bargain All The Way: Ever buying a book because it’s so cheap you don’t really care about the content? Now it’s time to open the book and find out whether it’s really worth your cents.

Beli karena muraaah? Banyaaak banget. Secara saya biasanya beli pas ada diskon segede tampah. Oke, saya list satu dulu, ya.

COMMITTED -- Elizabeth Gilbert (beli murah pas ada lelang di FB)

5. (Not So) Fresh From the Oven: Do you remember you bought/got a new released book last year but never had a chance to read it? Dig it from your pile and bring back the 2013.

Jarang, sih, beli buku yang baru terbit. Takut kecewa, karena belum dapat rekomendasi dari teman-teman bloger buku dan goodreads. Tapi ada juga saya beli, misalnya karena tertarik dengan predikat lomba atau sudah pernah baca tulisannya dan suka. Nah, ini list-nya:

SEMUSIM DAN SEMUSIM LAGI --
Betang, Cinta yang Tumbuh dalam Diam (Shabrina, WS.)
Home (Ifa Afianty)

6. First Letter’s Rule: Read a book which title begins with the same letter as your name. Remember: Articles like “a”, “an” or “the” doesn’t count:)

Buku yang judulnya diawali dengan huruf yang sama dengan namaku? S ... Oke, saya pilih ini:

SHOPAHOLIC TIES THE KNOT.... Sophie Kinsella


7. Once Upon a Time: Choose a book that’s been published for the first time before you were born (not necessarily has to be a classic book, just something a little bit older than you is okay. You can read the most recent edition if you want to)

Duh, nggak pernah liat kapan terbitnya. Cari dicari dulu di rak. Semoga nemu. Ternyata ada. Tapi saya jadi ingat satu novel yang pernah diceritakan oleh "guru" saya, tapi belum juga kebeli, yaitu

JANE EYRE -- Charlotte Bronte

8. Chunky Brick: Take a deep breath, and read a book that has more than 500 pages. Yep, the one that you’ve always been afraid of!

Buku bantal? Siapa takut! Oke, ini pilihannya:

AMERICAN GODS ---Neil Gaiman

9.  Favorite Author: You like their books, but there are too many titles. This is your chance, choose a book that’s been written by your fave author but you haven’t got time to read it before.

Pengarang favorit untuk saat ini ada beberapa. Tapi, biar nggak maruk, saya baca ini saja:

HEART OF FIRE ---Linda Howard

10. It’s Been There Forever: Pick up a book that has been there on your shelf for more than a year, clean up the dust and start to read it now :) 

Hihi ... kena banget. Oke, siap merangkak di antara buku berdebu. Dan saya menemukan ini (aslinya yang lain banyak):

PHANTHOM OF THE OPERA


11. Movies vs Books: You’ve seen the movie adaptation (or planned to see it soon) but never had time to read the book. It’s time to read it now, so you can compare the book vs the movie.

Buku yang diadaptasi dalam film? haduh, jarang nonton pilem, nih. Tapi, mau mencoba buku ini:

LIFE OF PIE -- Yan Martel  atau
99 CAHAYA DI LANGIT EROPA -- Hanum Rais

12. Freebies Time: What’s the LAST free book you’ve got? Whether it’s from giveaway, a birthday gift or a surprise from someone special, don’t hold back any longer. Open the book and start reading it now :D

Buku yang didapat karena ultah, GA, dari seseorang. Sayangnya, akhir-akhir ini jarang ikut kuis dan GA. Oke, buku ini kayaknya yang terakhir saya dapat. Dari sebuah penerbit yang dulu saya bekerja di sana.

ALTITUDE 3676 -- Azzura Dayana

13. Not My Cup of Tea: Reach out to a genre that you’ve never tried (or probably just disliked) before. Whether it’s a romance, horror or non fiction, maybe you will find a hidden gem!

Sampai saat ini belum bisa tertarik membaca buku fantasy. Kalau film sih, oke. Dan ternyata saya punya beberapa buku jenis ini:

THE SCARECROW AND HIS SERVANT (Si Boneka Jerami dan Pelayannya) -- Philip Pullman

14. Walking Down The Memory Lane: Ever had a book that you loved so much as a kid? Or a book that you wish you could read when you were just a child? Grab it now and prepare for a wonderful journey to the past :) Comic books or graphic novels are allowed!

Buku kesukaan masa kecil? Apalagi kalau bukan tulisan Enid Blyton! Jadi, ini yang akan saya baca.

SERIAL LIMA SEKAWAN -- Enid Blyton (judulnya belum ditentukan, ya.)

 
Nah, kalian tertarik untuk ikut? Baca di sini RULES-nya

Saturday, 21 September 2013

Sejenak Hening

Review teaser buku Sejenak Hening karya Adjie Silarus


Menjalani hidup dengan sabar, sederhana, dan bahagia.

Sabar, sederhana, bahagia. Tiga kata yang sangat sering kita dengar, bahkan sering kita ucapkan, tapi paling sulit untuk direalisasikan.
Membaca sejenak hening membuat saya sejenak terpekur. Tiba-tiba saya seperti mendengar suara bapak yang tegas saat menasihati atau mengomentari keriuhan dunia saat ini. Biasanya saat kami sedang bepergian, Bapak selalu berkomentar melihat kendaraan di jalan yang semuanya melaju kencang, seakan-akan ada yang memburu, hingga mereka harus berlari  kencang tunggang langgang.
Saat membaca halaman pertamanya yang dipenuhi endorsement dari para public figure, saya justru melewatinya, karena saya ingin membacanya tanpa dipengaruhi oleh komentar mereka yang tentu saja berisi banyak pujian.
Syukurlah, sejak membaca bab pertama yang diberi judul Menutup Jendela, justru hati saya langsung terbuka untuk menerima tuturan Adjie Silarus yang menyentil-nyentil hati.

gambar dari sini
Sepanjang saya membaca teaser bukunya ini yang hanya berjumlah 54 halaman  saya terus tersenyum dan mengangguk-angguk. Katarsis, inilah yang saya rasakan sesungguhnya. Adjie seperti mewakili pikiran dan hati saya.
Ada 20 bab yang bisa saya baca sebelum terbit buku cetaknya. Awalnya saya bingung karena merasa naskahnya tidak lengkap. Lalu teman saya bilang, kalau semua dikirim ntar bisa dibajak dong. Ah, baru sadar saya *maklum nggak pernah niat jadi plagiator #etsah
Diawali dengan Menutup Jendela yang mengajak kita untuk "pulang", menampik keriuhan di luar yang menyakiti jiwa kita. Dilanjutkan dengan Menikmati Momen Sekarang, Menunda Bahagia, Celana Pendek Kolor, Sebuah Kehadiran yang mengingatkan kita pada pertemuan-pertemuan dengan seseorang yang kita hadiri tetapi hanya secara fisik, karena pikiran kita entah berada di mana. Adjie Silarus juga mengajak kita untuk Melatih Senyum, memakai Sepatu Baja, menghindari Stress Digital, dan lain-lain.
 Bab mana yang paling menarik dari tulisan Adjie? Semua, kalau kata saya. Makanya saya malah bingung mencari spot paling menarik untuk saya tuliskan, karena memang membuat saya ingin menceritakan semua kepada pembaca. *asli bukan promosi, karena saya memang tak kenal dengan Adjie Silarus.
Di antara 20 bab yang dikirimkan kepada saya, ada satu bab yang mengingatkan pada tausiah ustadz saya yang sudah almarhum, yaitu Menunda Bahagia. Jika di dalam bukunya Adjie menggambarkan keinginan kita pada gadget yang terus berganti setiap saat, maka ustadz saya menggambarkannya dengan kendaraan.
“Saat kita hanya bisa berjalan kaki untuk menuju suatu tempat, kita berharap punya sepeda dan kita yakin pasti bahagia. Begitu punya sepeda, kita merasa bahagia jika punya sepeda motor. Setelah itu kita merasa bahagia jika punya mobil, begitu seterusnya, kita ingin pesawat, lalu pesawat pribadi, lalu jet, lalu apa lagi?”
Memang begitulah “nafsu” manusia. Padahal jika tercapai belum tentu mendatangkan bahagia, pun jika gagal memperolehnya, tak mustahil bunuh diri menjadi solusinya. Keinginan manusia tak akan berhenti hingga dia mati. Memang meraih sesuatu yang kita inginkan itu mudah tetapi yang  sulit justru mensyukurinya.
Karena itu Adjie Silarus mengajak kita  untuk hening sejenak, mensyukuri apa yang kita miliki sekarang, menutup jendela jika angin terlalu kencang dan air hujan menggigilkan.
Tutup sejenak jendela facebook, twitter, BB, dan segala social media jika keriuhannya sudah membuat kita terseret terlalu jauh, hingga lupa pada tujuan semula. Membuat kita gelisah hingga lupa melangkah.


 Nikmati apa yang kita miliki, hikmati apa yang yang sedang kita hadapi. When walking, walk. When eating, eat.
Jika bisa demikian kita tentu tak harus mengalami kisah celana kolor seperti yang dialami Adjie. Begitu obsesifnya dia untuk meraih impian, hingga tak menyadari bahwa dia masih memakai celana kolor saat hendak meeting bersama klien.
Mengangguk, diam, tertawa, tersenyum, merenung, begitulah suasana hati saya selama menikmati tulisan Adjie yang meditatif.
Dua puluh bab yang saya terima berisi kisah-kisah sehari-hari yang patut kita renungkan, ditulis dengan bahasa ringan dan mengalir. Kita tak harus membaca secara urut, karena masing-masing bab berdiri sendiri. Di setiap bab diakhiri dengan quote-quote yang menarik.
Buku yang dibuka dengan bab Menutup Jendela ini diakhiri dengan kisah perjalanan hidup Adjie yang dipenuhi kegagalan dalam bab Saya Bukan Siapa-Siapa.
Sebelum mereview bukunya, saya sempat mengulik profilnya di sini. Foto-foto yang diberi judul SanaSiniSila, mengingatkan saya pada pose duduk dalam gerakan yoga.
Adjie Silarus rupanya adalah seorang meditator (ahli meditasi) dan menjadi corporate trainer sejak 2010 sampai sekarang dengan membagikan beragam materi seputar meditasi dan happiness dalam bentuk pelatihan, seminar, dan konsultasi mengenai cara mengurangi stres, cerdas emosi, fokus, konsentrasi, hidup sadar, lebih damai dan bahagia.

Mari hening sejenak, sebelum beranjak.

Monday, 16 September 2013

Pertama Kali Ikut Lelang Buku #Kalap-1


Beberapa waktu yang lalu saya sempat niat mengikuti meme book haul atau buying sunday. Tapi mengingat saya tak bisa konsisten menulis di blog, jadi saya buat saja sendiri. Kebetulan di blog saya yang lain yang berisi macam-macam tulisan saya pernah membuat label kalap buku juga. Karena sekarang punya blog khusus buku, jadi sekarang masalah buku saya posting di sini.

Saya sengaja memberi judul kalap buku karena saat membeli memang biasanya dalam kondisi kalap, tak sadar bahwa masih ada setimbun dosa di rak buku dan berbagai tempat di rumah.

Sebenarnya sejak awal tahun 2013 sudah beberapa kali saya mengalami kalap. Tapi untuk postingan di label ini, saya mulai saja sejak sebulan yang lalu, yaitu bulan Agustus (pas bulan puasa). Bulan-bulan sebelumnya sudah lupa apa saja, dan belum sempat mengambil fotonya.

Pada bulan puasa kemarin, Mbak Rahmadiyanti mengadakan lelang buku-buku koleksinya di FB-nya dalam rangka mengumpulkan dana untuk munas FLP di Bali. Karena harga awal lelang sungguh bikin ngences hingga tak sadar membuka dompet lebar-lebar, saya pun tersihir untuk ikut.

Inilah hasil lelang yang berhasil saya menangkan. Lumayan menguras kantong bulan Ramadhan :(


Sunday, 28 July 2013

Perjalanan Hati

"Menapaki jejak rasa dalam sebuah perjalanan hati"
Perjalanan Hati  Penulis: Riawani Elyta - Editor & proof.: Dewi Fita - Perancang sampul: Dwi Annisa A - Penerbit: RakBuku - Cet I-2013 - Tebal: 194 hal. 




Maira berniat melakukan backpacker ke anak gunung Krakatau, bukan sekadar karena rindu dengan hobinya sebelum menikah, tetapi ada yang harus dia lakukan untuk menguji hatinya. Meski berat, tapi Yudha aka suaminya mengizinkan. Yudha pun menyadari bahwa ini bukan sekadar backpacker bagi Maira tetapi istrinya punya tujuan tertentu. Dan itu berkaitan dengan "dosa" masa lalu Yudha.
Dalam tour yang diadakan oleh agen perjalanan milik adiknya sendiri (Ibra), Maira pun bertemu (dan memang ini tujuannya) dengan Andri. Mereka berdua pernah menjadi pasangan paling serasi dalam dunia "anak gunung".
Sayangnya, Andri bukan tipe pria yang mudah menentukan tujuan hidup. Maka, setelah mereka lulus, Maira tak lagi bisa menemukan sosok Andri, bahkan kabarnyapun tidak. Hingga akhirnya Maira menerima Yudha yang juga sama-sama anak mapala sebagai suaminya.
Perjalanan rumah tangga mereka ternyata tak berjalan mulus. Setahun setelah pernikahan, sebentuk masa lalu terkuak dan siap meledakkan rumah tangga mereka hingga hancur. 
Dan dengan caranya sendiri, Maira berusaha menyelesaikan persoalannya, terutama menanyakan tentang hatinya, ke mana arah yang akan dia tuju.

Membaca novel Perjalanan Hati ini mengingatkan saya pada novel Silang Hati-nya Sanie B Kuncoro. Tak hanya suasana dan gaya narasi, tapi juga tokoh-tokohnya yang "anak gunung" keduanya memiliki persamaan. Tetapi, tak heran karena akhir-akhir ini, sepertinya para backpacker kembali menjadi tokoh idola para penulis. Pertama kali saya membaca tokoh pendaki adalah karya Izzatul Jannah dengan novelnya Apa Kabar Cinta? saat novel-novel FLP sedang booming.

Saya suka dengan tema yang diangkat Riawani Elyta. Tentang Maira dan Yudha yang berusaha menyelesaikan persoalan rumah tangganya dengan cara mereka masing-masing.

Menjalani pernikahan memang penuh liku. Meskipun begitu, sayang sekali jika sampai perceraian menjadi penyelesaian. Dan kita semakin sering melihat dan mendengar akhir cinta seperti ini di sekitar kita. Miris jika mendengar kisah pasangan yang bercerai padahal usia pernikahan mereka baru beberapa bulan. Tetapi tak habis pikir pula saat mendengar perceraian dari pasangan yang menikah lebih dari 20 tahun. Saya tak hendak menjustifikasi, karena bagaimanapun takdir turut bicara.
Hanya saja, usaha mengupayakan cinta memang wajib dilakukan bagi pasangan. Karena seiring berjalannya waktu, cinta bisa tererosi tanpa benar-benar kita sadari. Saya senang ketika penulis menjadikan Maira sosok yang menyelesaikan persoalan dengan kepala dingin.
Karakter seperti Andri memang berpotensi membuat seorang perempuan jatuh pada kasus CLBK :) Apalagi saat rumah tangga yang baru dibangun mulai goyah. Jika saya Maira, kemungkinan juga akan sulit untuk kembali ke jalan yang benar #eh
Untuk itulah sebuah pernikahan harus memiliki fondasi yang kuat dan tujuan yang lebih dalam daripada sekadar tujuan duniawi. #Jadi pingin share janji akad nikah supaya tak sekadar jadi ritual aja, tapi benar-benar dipahami dan diamalkan :D

Dialog via chatt antara Donna dan Yudha di halaman 57 sangat bagus sebagai pengingat bahwa masa lalu memang telah dan biarkan berlalu, tetapi ada hal yang amat sangat penting yang harus menjadi perhatian jika tak ingin terjebak pada kesalahan baru di generasi berikutnya. Saya tak bisa menulisnya di sini, kecuali akan diteriaki dengan yel-yel "spoiler".

Bagaimana ya, seandainya Donna bersikap sebaliknya terhadap Yudha? Apa yang akan dilakukan oleh Yudha? Poin ini sebenarnya yang membuat saya tak memberikan bintang lima pada novel Perjalanan Hati. Karena sikap Donna memudahkan Yudha menyelesaikan masalahnya dengan Maira. Jadi, Donna lah yang menurut saya menjadi kunci penyelesai konflik ini.
Oya, tentang Dody, kenapa harus menjadi pengidap hemofilia? Menurut saya terlalu dramatis. Dan ini membuat saya agak heran dengan keputusannya memilih diam dan tinggal di Australia. Bukankah saat-saat seperti itu justru butuh dukungan terutama dari orang yang punya hubungan paling dekat?

Novel ini memang agak berbeda dengan novel Riawani Elyta yang pernah saya baca. Dari pengakuan penulis di blog-nya, dia menggarap naskah ini dengan diksi yang lebih dalam. Oke, saya setuju dan saya bisa merasakannya.
Perkara cover, kali ini saya tak bisa komentar. Tidak jelek tapi juga tidak sangat menarik perhatian. Sudah, gitu aja #meme raditya dika


Wednesday, 26 June 2013

The Espressologist

The Espressologist: Temukan Cinta dalam Secangkir Kopi Favoritmu!
Penulis : Kristina Springer
Penerjemah: I Gusti Nyoman Ayu Sukerti
Desainer sampul: iggafix
Cetakan I: Januari 2012
Penerbit: Qanita
ISBN: 978-602-9225-26-6

doc.pribadi
Jika kamu mendapati seseorang tengah mencecap Large Nonfat Four-Shot Coffee Latte, jangan pernah memilihnya menjadi pasangan. Menurut catatan Jane Turner, salah satu barista Wired Joe’s yang masih duduk di kelas akhir SMA, kopi itu pilihan cowok jablay berotak ngeres dan dangkal. Tingkat kecerdasan jongkok. Postur tubuh biasa-biasa saja dan sangat perlu berolahraga. Punya penampilan yang urakan. Matanya jelalatan memelototi cewek seksi yang barusan masuk. Lama-lama lehernya bakal patah karena diputar untuk meliriknya. *uwo…uwo*

Jane Turner, yang sangaaat bosan mengikuti pelajaran di kelas, lebih suka membolos dan bekerja sebagai barista. Dia selalu mencatat kopi pilihan pelanggan dan semua tipe dan karakternya. Lama-lama, Jane bisa menebak kopi yang akan dipesan pelanggan sebelum dia mengatakannya. “Penelitiannya” dijadikan Jane sebagai proyek kecilnya. Hobi uniknya ini berlanjut hingga dia bisa menebak peminum kopi apa cocok berpasangan dengan peminum kopi tertentu. Filosofi Jane adalah “minuman pilihanmu mencerminkan siapa dirimu”. Mungkin karena dia lahir dari orang tua yang berjodoh karena kopi juga, makanya Jane punya aura kopi yang kental J

Proyek pertamanya yang berhasil adalah menjodohkan antara pecinta kopi  Medium iced vanilla latte  dengan medium dry cappucinno. Dan itu antara Gavin (yang tampan dan baik hati) dan Simone (cewek manis, terlihat pintar dan apa adanya. Gayanya asyik. Bajunya juga sempurna).

Lama-lama catatan rahasianya ini diketahui oleh Derek, bosnya. Tapi, justru dari sini muncul ide untuk membuatnya menjadi ajang promo. Dan di setiap malam Jum’at, Jane harus menjadi  espressologist, menjodohkan seorang pelanggan dengan pelanggan lainnya didasarkan pada kopi mereka.
Konfliknya adalah, Jane sendiri ternyata menyukai cowok yang sebenarnya kalau dia mau jujur tak cocok dengan kopinya.

Ceritanya memang asyik, seasyik karakter Jane yang ceria, polos, jujur, easy going, dan tipe sahabat yang baik, meski sering kalah jika menghadapi tipe cewek sok cantik kayak Melissa.  

Endingnya juga cukup mengejutkan, paling tidak saya dibuat ragu saat menebak tentang Will (yang supertampan dan jadi pelanggan setia Jane sampai-sampai kena tegur karena tanpa sadar dia memberi kopi gratis seminggu sekali).

Setting yang digunakan benar-benar terbatas hanya di kedai kopi, sedikit di dalam kelas, lalu apartemen. Untunglah karena bahasanya mengalir, ini tak jadi masalah. Dan anehnya kenapa saya selalu membayangkan kalau kedai itu di bandara ya. Hah! Baru sadar karena sebelumnya saya memang mengedit naskah yang settingnya di bandara.

Perkara cover, sebenarnya saya suka. Tapi untuk ceritanya yang ceria dan masuk kategori YA, menurut saya agak terlalu serius. Jadi, saya kaget saat membaca halaman pertama. Nah, memang don't judge a book by its cover, tapi penting juga membuat cover yang sesuai dengan isinya, kan. Minimal, pembaca tidak salah kira.

 Di akhir-akhir halaman, ada beberapa resep kopi dari Wired Joe’s, obrolan dengan penulis, dan glosarium tentang jenis-jenis kopi. Memang recommended banget untuk penyuka kopi tapi minim pengetahuan tentang nama-nama kopi seperti saya. 

NB. Kalau penyuka kopi instant (dengan jenis apa saja yang tersedia di warung) kira-kira pasangan yang cocok penyuka kopi apa, ya? Pinginnya, sih, yang suka medium toffee nut latte :p . Menurutmu, Jane?

Thursday, 7 February 2013

Resensi Buku: Rumah Kecil di Rimba Besar

Rumah Kecil di Rimba Besar (Little House, #1)
sumber gambar: goodreads


Judul: Rumah Kecil di Rimba Besar #1 (Little House-Seri Laura)
Judul Asli: Little House in the Big Woods
Penulis: Laura Ingalls Wilder
Penerjemah: Djokolelono
Ilustrator: Garth Williams
Tebal: 216 hal.
Penerbit: Libri (pernah diterbitkan dengan judul yang sama oleh BPK Gunung Mulia)
Tahun Terbit: 2011 cet. I
Penghargaan: Laura Ingalls Wilder pernah mendapat Laura Ingalls Wilder Award tahun 1954 dan karyanya dengan judul Little House in the Big Woods ini mendapat Lewis Carroll Shelf Award di tahun 1958.

Dulu sekali, gadis berkepang yang tak pernah diam ini menjadi tokoh favoritku. Dialah Laura, yang diperankan oleh Melissa Gilbert. Lincah, pemberani, dan pintar, juga selalu ceria.  Saat itu hari Minggu adalah hari paling dinanti karena tayangan film ini di TVRI. Meski televisi saat itu hanya menunjukkan dua warna: hitam putih dengan tebaran semut kecil jika angin menggoyangkan antena yang dipasang dengan bambu tinggi-tinggi, kami tetap duduk manis menikmatinya hingga usai.

Tanpa disangka aku menemukan buku Little House in the Prairie di perpustakaan SMP-ku. Buku itu masih rapi, dan sepertinya akulah peminat pertamanya. Saat kelas kami mendapat giliran meminjam, serta merta kupilih buku itu.

Bertahun-tahun kemudian, aku mencari buku itu di toko karena ingin mengenang Laura, tapi tak pernah kutemukan. Syukurlah kini seri Laura bisa didapatkan dengan mudah.
Untuk seri pertamanya ini, jangan berharap akan menemukan konflik yang terjadi antara Laura dan teman-temannya, terutama si rambut bergelombang Nelly, yang cantik tapi judes.

Di seri ini, kita hanya akan menemukan kehidupan tenang Laura, Mary, Carrie bersama Pa dan Ma. Kehidupan yang menyenangkan dan damai di antara pohon-pohon besar, di pinggiran Rimba Besar, daerah Wisconsin, tahun 1870.

Rumah mereka dari balok kayu kelabu, dan makanan mereka tersedia di sekitarnya. Membayangkan cara mereka menimbun makanan untuk musim dingin sangat menyenangkan. Madu yang disimpan di dalam batang pohon yang dibentuk sedemikian rupa, labu-labu, kol, wortel, daging, mentega, dan segala macam persediaan makanan hasil buruan Pa yang ditimbun di loteng.
Cara mereka menabung makanan mengingatkanku pada novel klasik The Yearling.

Sama seperti masyarakat pedesaan Indonesia (khususnya Jawa Tengah) zaman dulu, yang biasanya mempunyai lumbung padi untuk persiapan jika musim panen berakhir. Di atas tungku dapur, bergantungan jagung (masih dengan kulitnya) juga labu (waluh), bahan makanan cadangan selain padi.

Dalam buku pertama seri Laura ini, cerita yang mengesankan adalah saat Pa kebingungan melawan beruang madu di malam hari, yang ternyata hanyalah tonggak kayu.
Jika di televisi, adegan paling mengesankan adalah cara mandi mereka, terutama Laura dan Mary. Biasanya kami akan tertawa terbahak jika melihat Laura diangkat oleh Pa, dicemplungkan ke dalam drum kayu sepinggang Pa yang dipenuhi air.

Kehidupan mereka yang sederhana, dekat dengan alam, mengambil sesuai kebutuhan, sungguh menerbangkanku ke masa kecil di desa tempat kelahiranku. Deskripsi alamnya yang detail hingga kita seakan bisa mencium harumnya gula maple (aku membayangkan gula jawa), cocok untuk anak umur berapa saja. Tetapi jika melihat teks, huruf, dan ketebalannya, sepertinya anak usia 9-10 tahun baru bisa melahapnya tuntas.
Oya, aku suka banget dengan model baju Laura dan topi lebarnya. Sayang sekali tak menemukan fotonya.
sumber foto: http://www.answers.com/topic/little-house-on-the-prairie-tv-series-1.
Pemeran dalam film:

  • Michael Landon as Charles Ingalls (1974–83)
  • Karen Grassle as Caroline Quiner Ingalls (1974–82)
  • Melissa Gilbert as Laura Ingalls Wilder (1974–83)
  • Melissa Sue Anderson as Mary Ingalls Kendall (1974–81)
  • Lindsay and Sidney Greenbush as Carrie Ingalls (1974–82)


  • Resensi ini aku ikutsertakan dalam RC Read a Long with Children Lit dengan tema Laura Ingalls 
    dan Fun Year With Children’s Literature : Fun Months 1 (tema award winner) di blog Bacaan B Zee.


    Kalian masih bisa ikut juga dalam challenge ini. Daftar saja di sini.

    Sunday, 3 February 2013

    Jurnal Jo vs So B. it

    So B. It (Biarkan Berlalu)
    sumber: goodreads
    Jurnal Jo
    sumber: goodreads



     Sering sekali, kan, kita menemukan cover buku yang mirip satu sama lain. Aku tidak hendak menjustifikasi atau menganggap itu buruk atau sebaliknya. Jujur saja aku sekadar tertarik dengan hal ini. Kalau bisa, sih, ingin tahu apakah memang sengaja dibuat mirip atau cover A menjadi ide dasar dari sang desainer cover saja atau bahkan sama sekali tak ada hubungannya, bahkan si desainer tak tahu menahu soal cover yang ternyata mirip itu.
    Misteri sebuah ide. Sama seperti konten sebuah novel, tak sekali dua kali saya menemukan hal-hal yang mirip, bahkan beberapa teman penulis pernah kaget karena ternyata apa yang ia tulis mirip dengan penulis yang lain, padahal ia sama sekali belum membaca atau mendengar cerita itu.
    Jadi begitulah sebuah ide, kita tak bisa begitu saja memberikan justifikasi bahwa si A mencontek si B. Jadi saya lebih suka jika menikmatinya saja sebagai sebuah kreativitas.

    Posting pertamaku tentang Cover Mirip adalah antara novel So B. it dan Jurnal Jo.
    Keduanya sama-sama novel teenlit terbitan Gramedia. Aku baru membaca Jurnal Jo. Ceritanya asyik, meskipun itu ditujukan untuk anak SMP (yeah ... pantas utk anakku beberapa tahun lagi :D ) tetapi aku bisa menikmatinya. Justru bisa digunakan sebagai pegangan menyelami dunia anak sekarang.

    Sayangnya So B. it tidak jadi aku beli, hanya kutimang-timang lalu kuletakkan kembali. Jika ketemu lagi mungkin sebaiknya aku beli untuk mengetahui apakah isinya pun mirip.

    Friday, 1 February 2013

    The Railway Children

    The Railway Children: Anak-Anak Kereta Api
    Penulis: Edith Nesbit
    Alih Bahasa: Widya Kirana
    Desain dan Ilustrasi Sampul : Satya Utama Jadi
    Penerbit: Gramedia
    Tahun Terbit: Juni 2010 (cet. ke-2)
    Juml Hal: 312 hal.

    Tadinya mereka bukan anak-anak kereta api.
    Begitulah cerita ini dimulai. Mereka adalah anak-anak biasa yang tinggal di pinggiran kota bersama Ayah dan Ibu, dan segala macam perlengkapan modern. Perubahan itu datangnya sangat tiba-tiba. Peter sedang berulang tahun yang ke-10. Hadiah paling menarik yang diterimanya adalah si Lokomotif. Saat sedang memainkannya dengan Phyliss, adik perempuannya, si Lokomotif meledak. Tak ada yang bisa memperbaiki, kecuali Ayah.Roberta, kakak perempuan mereka pun tak bisa berbuat apa-apa.

    Untunglah Ayah pulang, tapi Peter tahu sopan santun, sehingga menunggu Ayah selesai makan malam dan menikmati cerutu-habis-makannya. Saat itulah dua orang pria ingin bertemu Ayah. Sejak saat itu, Ayah pergi hingga keesokan harinya. Mereka terus menunggu, tapi keesokan harinya, dan hari berikutnya, dan setelah itu, Ayah tak juga muncul. Tak ada yang tahu dan tak ada yang mau memberitahu.

    Tiba-tiba mereka harus pindah ke sebuah pedesaan, meninggalkan rumah mereka yang nyaman. Sejak itulah kisah seru ketiga anak itu dimulai bersama 'kereta api'.
    Mereka harus tinggal di sebuah rumah tua yang dingin dan lembah dan gelap dan tikus. Hari berikutnya niat 'baik' Peter untuk membantu ibunya mendapatkan batubara ternyata tak sebaik akibatnya. Kisah-kisah seru mereka alami. Kisah paling berkesan adalah ketika usaha mereka melambaikan selembar kain setiap hari, setipa kereta api lewat mendapat sambutan dari seorang pria tua, salah satu penumpang kereta.

    Edith Nesbit menceritakan mereka sebagaimana adanya seorang anak-anak. Kadang patuh kepada Ibu mereka yang 'sempurna', kadang menimbulkan masalah dan berkelahi sebagaimana layaknya kakak beradik. Kisah mereka manis dan mengharukan.
    Setting pedesaan (Yorkshire) dengan padang rumput dan kebun dan bukit khas novel klasik seperti Secret Garden, Heidi, Pollyana, juga the Story Girl.   

    Rahasia tentang Ayah tersimpan hingga akhir cerita. Edith Nesbit mengakhiri ceritanya dengan sangat manis dan menggemaskan. Gaya penuturan yang ditujukan langsung kepada pembaca membuat saya menutup buku dengan senyuman yang baru memudar setelah beberapa menit.
    "Kurasa sebaiknya kita tidak membuka pintu itu dan mengikutinya ke dalam. Kurasa, saat ini, kehadiran kita di sana hanya akan mengganggu. Yang terbaik yang bisa kita lakukan adalah mundur perlahan-lahan, lalu pergi diam-diam ...."

    Banyak puisi yang dibuat oleh Ibu untuk ketiga anaknya. Salah satunya puisi yang dibuat ketika Roberta (Bobbie) ultah yang ke-4 dan saya sangat suka. Tak hanya indah tapi ada unsur belajar berhitung di dalamnya :
    Ayah sayang, umurku baru empat,
    Dan aku tak mau jadi tua
    Paling asyik umur empat,
    Dua tambah dua atau satu tambah tiga

    Aku pilih dua tambah dua
    Ibu, Peter, Phil, dan Ayah
    Yang Ayah cintai satu dan tiga,
    Ibu, Peter, Phil, dan Roberta

    Beri aku cium manis
    Karena aku pandai membuat puisi.

    Kisah-kisah ketiga kakak beradik ini penuh dengan keberanian, tekad, kasih sayang, dan kepedulian dengan bahasa yang mudah dipahami sehingga buku ini cocok untuk pembaca mulai usia 10 tahun.

    sumber foto: dokumen pribadi
    Kisah lain:
    Saya membaca novel ini ketika dalam perjalanan ke Jakarta dengan kereta api bersama suami dan kedua anak saya. Setengah sengaja memilih buku ini untuk menemani perjalanan dan mengambil fotonya di dalam kereta.


    Posting ini saya ikutsertakan dalam Reading Challenge Fun Year Event with Children Literature bulan Januari (FMs-1) dengan tema CLASSIC yang diselenggarakan oleh Bacaan B Zee.