Monday, 16 September 2013
Pertama Kali Ikut Lelang Buku #Kalap-1
Beberapa waktu yang lalu saya sempat niat mengikuti meme book haul atau buying sunday. Tapi mengingat saya tak bisa konsisten menulis di blog, jadi saya buat saja sendiri. Kebetulan di blog saya yang lain yang berisi macam-macam tulisan saya pernah membuat label kalap buku juga. Karena sekarang punya blog khusus buku, jadi sekarang masalah buku saya posting di sini.
Saya sengaja memberi judul kalap buku karena saat membeli memang biasanya dalam kondisi kalap, tak sadar bahwa masih ada setimbun dosa di rak buku dan berbagai tempat di rumah.
Sebenarnya sejak awal tahun 2013 sudah beberapa kali saya mengalami kalap. Tapi untuk postingan di label ini, saya mulai saja sejak sebulan yang lalu, yaitu bulan Agustus (pas bulan puasa). Bulan-bulan sebelumnya sudah lupa apa saja, dan belum sempat mengambil fotonya.
Pada bulan puasa kemarin, Mbak Rahmadiyanti mengadakan lelang buku-buku koleksinya di FB-nya dalam rangka mengumpulkan dana untuk munas FLP di Bali. Karena harga awal lelang sungguh bikin ngences hingga tak sadar membuka dompet lebar-lebar, saya pun tersihir untuk ikut.
Inilah hasil lelang yang berhasil saya menangkan. Lumayan menguras kantong bulan Ramadhan :(
Sunday, 28 July 2013
Perjalanan Hati
"Menapaki jejak rasa dalam sebuah perjalanan hati"
Dialog via chatt antara Donna dan Yudha di halaman 57 sangat bagus sebagai pengingat bahwa masa lalu memang telah dan biarkan berlalu, tetapi ada hal yang amat sangat penting yang harus menjadi perhatian jika tak ingin terjebak pada kesalahan baru di generasi berikutnya. Saya tak bisa menulisnya di sini, kecuali akan diteriaki dengan yel-yel "spoiler".
![]() | |||||
| Perjalanan Hati Penulis: Riawani Elyta - Editor & proof.: Dewi Fita - Perancang sampul: Dwi Annisa A - Penerbit: RakBuku - Cet I-2013 - Tebal: 194 hal. |
Maira berniat melakukan backpacker ke anak gunung Krakatau, bukan sekadar karena rindu dengan hobinya sebelum menikah, tetapi ada yang harus dia lakukan untuk menguji hatinya. Meski berat, tapi Yudha aka suaminya mengizinkan. Yudha pun menyadari bahwa ini bukan sekadar backpacker bagi Maira tetapi istrinya punya tujuan tertentu. Dan itu berkaitan dengan "dosa" masa lalu Yudha.
Dalam tour yang diadakan oleh agen perjalanan milik adiknya sendiri (Ibra), Maira pun bertemu (dan memang ini tujuannya) dengan Andri. Mereka berdua pernah menjadi pasangan paling serasi dalam dunia "anak gunung".
Sayangnya, Andri bukan tipe pria yang mudah menentukan tujuan hidup. Maka, setelah mereka lulus, Maira tak lagi bisa menemukan sosok Andri, bahkan kabarnyapun tidak. Hingga akhirnya Maira menerima Yudha yang juga sama-sama anak mapala sebagai suaminya.
Perjalanan rumah tangga mereka ternyata tak berjalan mulus. Setahun setelah pernikahan, sebentuk masa lalu terkuak dan siap meledakkan rumah tangga mereka hingga hancur.
Dan dengan caranya sendiri, Maira berusaha menyelesaikan persoalannya, terutama menanyakan tentang hatinya, ke mana arah yang akan dia tuju.
Membaca novel Perjalanan Hati ini mengingatkan saya pada novel Silang Hati-nya Sanie B Kuncoro. Tak hanya suasana dan gaya narasi, tapi juga tokoh-tokohnya yang "anak gunung" keduanya memiliki persamaan. Tetapi, tak heran karena akhir-akhir ini, sepertinya para backpacker kembali menjadi tokoh idola para penulis. Pertama kali saya membaca tokoh pendaki adalah karya Izzatul Jannah dengan novelnya Apa Kabar Cinta? saat novel-novel FLP sedang booming.
Saya suka dengan tema yang diangkat Riawani Elyta. Tentang Maira dan Yudha yang berusaha menyelesaikan persoalan rumah tangganya dengan cara mereka masing-masing.
Menjalani pernikahan memang penuh liku. Meskipun begitu, sayang sekali jika sampai perceraian menjadi penyelesaian. Dan kita semakin sering melihat dan mendengar akhir cinta seperti ini di sekitar kita. Miris jika mendengar kisah pasangan yang bercerai padahal usia pernikahan mereka baru beberapa bulan. Tetapi tak habis pikir pula saat mendengar perceraian dari pasangan yang menikah lebih dari 20 tahun. Saya tak hendak menjustifikasi, karena bagaimanapun takdir turut bicara.
Menjalani pernikahan memang penuh liku. Meskipun begitu, sayang sekali jika sampai perceraian menjadi penyelesaian. Dan kita semakin sering melihat dan mendengar akhir cinta seperti ini di sekitar kita. Miris jika mendengar kisah pasangan yang bercerai padahal usia pernikahan mereka baru beberapa bulan. Tetapi tak habis pikir pula saat mendengar perceraian dari pasangan yang menikah lebih dari 20 tahun. Saya tak hendak menjustifikasi, karena bagaimanapun takdir turut bicara.
Hanya saja, usaha mengupayakan cinta memang wajib dilakukan bagi pasangan. Karena seiring berjalannya waktu, cinta bisa tererosi tanpa benar-benar kita sadari. Saya senang ketika penulis menjadikan Maira sosok yang menyelesaikan persoalan dengan kepala dingin.
Karakter seperti Andri memang berpotensi membuat seorang perempuan jatuh pada kasus CLBK :) Apalagi saat rumah tangga yang baru dibangun mulai goyah. Jika saya Maira, kemungkinan juga akan sulit untuk kembali ke jalan yang benar #eh
Untuk itulah sebuah pernikahan harus memiliki fondasi yang kuat dan tujuan yang lebih dalam daripada sekadar tujuan duniawi. #Jadi pingin share janji akad nikah supaya tak sekadar jadi ritual aja, tapi benar-benar dipahami dan diamalkan :D
Dialog via chatt antara Donna dan Yudha di halaman 57 sangat bagus sebagai pengingat bahwa masa lalu memang telah dan biarkan berlalu, tetapi ada hal yang amat sangat penting yang harus menjadi perhatian jika tak ingin terjebak pada kesalahan baru di generasi berikutnya. Saya tak bisa menulisnya di sini, kecuali akan diteriaki dengan yel-yel "spoiler".
Bagaimana ya, seandainya Donna bersikap sebaliknya terhadap Yudha? Apa yang akan dilakukan oleh Yudha? Poin ini sebenarnya yang membuat saya tak memberikan bintang lima pada novel Perjalanan Hati. Karena sikap Donna memudahkan Yudha menyelesaikan masalahnya dengan Maira. Jadi, Donna lah yang menurut saya menjadi kunci penyelesai konflik ini.
Oya, tentang Dody, kenapa harus menjadi pengidap hemofilia? Menurut saya terlalu dramatis. Dan ini membuat saya agak heran dengan keputusannya memilih diam dan tinggal di Australia. Bukankah saat-saat seperti itu justru butuh dukungan terutama dari orang yang punya hubungan paling dekat?
Novel ini memang agak berbeda dengan novel Riawani Elyta yang pernah saya baca. Dari pengakuan penulis di blog-nya, dia menggarap naskah ini dengan diksi yang lebih dalam. Oke, saya setuju dan saya bisa merasakannya.
Perkara cover, kali ini saya tak bisa komentar. Tidak jelek tapi juga tidak sangat menarik perhatian. Sudah, gitu aja #meme raditya dika
Wednesday, 26 June 2013
The Espressologist
The Espressologist: Temukan Cinta dalam Secangkir Kopi Favoritmu!
Penulis : Kristina Springer
Penerjemah: I Gusti Nyoman Ayu
Sukerti
Desainer sampul: iggafix
Cetakan I: Januari 2012
Penerbit: Qanita
ISBN: 978-602-9225-26-6
| doc.pribadi |
Jika kamu mendapati seseorang tengah
mencecap Large Nonfat Four-Shot Coffee Latte, jangan pernah memilihnya
menjadi pasangan. Menurut catatan Jane Turner, salah satu barista Wired Joe’s yang
masih duduk di kelas akhir SMA, kopi itu pilihan cowok jablay berotak ngeres
dan dangkal. Tingkat kecerdasan jongkok. Postur tubuh biasa-biasa saja dan
sangat perlu berolahraga. Punya penampilan yang urakan. Matanya jelalatan
memelototi cewek seksi yang barusan masuk. Lama-lama lehernya bakal patah
karena diputar untuk meliriknya. *uwo…uwo*
Jane Turner, yang sangaaat bosan mengikuti pelajaran di kelas, lebih suka membolos dan bekerja sebagai barista. Dia selalu mencatat kopi pilihan pelanggan dan semua tipe dan karakternya. Lama-lama, Jane bisa menebak kopi yang akan dipesan pelanggan sebelum dia mengatakannya. “Penelitiannya” dijadikan Jane sebagai proyek kecilnya. Hobi uniknya ini berlanjut hingga dia bisa menebak peminum kopi apa cocok berpasangan dengan peminum kopi tertentu. Filosofi Jane adalah “minuman pilihanmu mencerminkan siapa dirimu”. Mungkin karena dia lahir dari orang tua yang berjodoh karena kopi juga, makanya Jane punya aura kopi yang kental J
Jane Turner, yang sangaaat bosan mengikuti pelajaran di kelas, lebih suka membolos dan bekerja sebagai barista. Dia selalu mencatat kopi pilihan pelanggan dan semua tipe dan karakternya. Lama-lama, Jane bisa menebak kopi yang akan dipesan pelanggan sebelum dia mengatakannya. “Penelitiannya” dijadikan Jane sebagai proyek kecilnya. Hobi uniknya ini berlanjut hingga dia bisa menebak peminum kopi apa cocok berpasangan dengan peminum kopi tertentu. Filosofi Jane adalah “minuman pilihanmu mencerminkan siapa dirimu”. Mungkin karena dia lahir dari orang tua yang berjodoh karena kopi juga, makanya Jane punya aura kopi yang kental J
Proyek pertamanya yang berhasil adalah
menjodohkan antara pecinta kopi Medium
iced vanilla latte dengan medium dry
cappucinno. Dan itu antara Gavin (yang tampan dan baik hati) dan Simone (cewek
manis, terlihat pintar dan apa adanya. Gayanya asyik. Bajunya juga sempurna).
Lama-lama catatan rahasianya ini diketahui oleh Derek, bosnya. Tapi, justru dari sini muncul ide untuk membuatnya menjadi ajang promo. Dan di setiap malam Jum’at, Jane harus menjadi espressologist, menjodohkan seorang pelanggan dengan pelanggan lainnya didasarkan pada kopi mereka.
Konfliknya adalah, Jane sendiri
ternyata menyukai cowok yang sebenarnya kalau dia mau jujur tak cocok dengan kopinya.
Ceritanya memang asyik, seasyik
karakter Jane yang ceria, polos, jujur, easy going, dan tipe sahabat yang baik, meski sering kalah jika menghadapi tipe cewek sok cantik kayak Melissa.
Endingnya juga cukup mengejutkan,
paling tidak saya dibuat ragu saat menebak tentang Will (yang supertampan dan
jadi pelanggan setia Jane sampai-sampai kena tegur karena tanpa sadar dia memberi
kopi gratis seminggu sekali).
Setting yang digunakan benar-benar terbatas hanya di kedai kopi, sedikit di dalam kelas, lalu apartemen. Untunglah karena bahasanya mengalir, ini tak jadi masalah. Dan anehnya kenapa saya selalu membayangkan kalau kedai itu di bandara ya. Hah! Baru sadar karena sebelumnya saya memang mengedit naskah yang settingnya di bandara.
Perkara cover, sebenarnya saya suka. Tapi untuk ceritanya yang ceria dan masuk kategori YA, menurut saya agak terlalu serius. Jadi, saya kaget saat membaca halaman pertama. Nah, memang don't judge a book by its cover, tapi penting juga membuat cover yang sesuai dengan isinya, kan. Minimal, pembaca tidak salah kira.
Di akhir-akhir halaman, ada beberapa resep
kopi dari Wired Joe’s, obrolan dengan penulis, dan glosarium tentang
jenis-jenis kopi. Memang recommended banget untuk penyuka kopi tapi minim
pengetahuan tentang nama-nama kopi seperti saya.
NB. Kalau penyuka kopi instant (dengan
jenis apa saja yang tersedia di warung) kira-kira pasangan yang cocok penyuka
kopi apa, ya? Pinginnya, sih, yang suka medium toffee nut latte :p . Menurutmu, Jane?
Subscribe to:
Posts (Atom)
