Judul: Apapun Selain Hujan
Penulis: Orizuka
Editor: Yulliya
Penerbit: GagasMedia
Desainer sampul: Agung Nugroho
Jumlah halaman: 288
Cetakan: Pertama, 2016
ISBN: 979-780-850-5
Sinopsis:
Wira membenci hujan. Lebih tepatnya takut pada hujan. Hujan mengingatkannya pada satu hari ketika sebuah tragedi terjadi. Sedih, menyesal, takut membuat Wira melarikan diri dari orang-orang yang akan mengenalinya. Dia bersembunyi sekaligus berusaha melupakan kenangan buruk itu. Wira meninggalkan cita-citanya, gadis yang disayanginya, semuanya.
Sayang, hujan tetap turun di tempat Wira bersembunyi bahkan lebih sering. Dan pertemuannya dengan Kayla si calon dokter hewan yang berawal dari seekor kucing yang kuyup karena hujan mengubah segalanya.
Curhat Buku
Saya membeli buku ini sudah lama. Hanya beberapa saat setelah bukunya terbit dan masih ada di rak paling depan toko buku G**Media. Kebetulan saat itu sedang ada dicount 30 % untuk pengguna kartu BNI. Langsung saya sambarlah buku dari penulis favorit ini.
Kenapa baru sekarang menyelesaikan membacanya? Itu kebiasaan saya. Entah kenapa kalau baca buku dari penulis favorit saya jadi sayang kalau nanti tiba-tiba selesai. Makanya meski buku ini saya bawa ke mana-mana, tetap saja baru saya selesaikan kemarin.
REVIEW
Prolog novel ini memang sudah mengundang rasa ingin tahu dan tak sabar untuk membuka halaman berikutnya. Bab berikutnya dimulai dengan adegan Wira yang sudah berada di Fakultas Teknik Unibraw Malang. Wira sengaja melupakan semua kenangan buruk dan rasa bersalah, dengan mengambil kuliah di kota Malang. Kota yang menurutnya cukup jauh dari Jakarta untuk melarikan diri.
Kehilangan sahabat yang bahkan "disebabkan" oleh kita meski tak sengaja memang bisa menyebabkan trauma. Saat Faiz, sahabat dan partner Wira dalam bermain taekwondo pergi untuk selamanya, sejak saat itulah Wira takut pada hujan. Saat Faiz pergi, hujan sedang turun dengan deras. Maka setiap kali hujan mulai menitik, tubuh Wira gemetar oleh kenangan buruk itu.
Sayangnya, Wira justru harus bertemu dengan Kayla karena seekor kucing yang akhirnya dinamai Sarang. Kayla seorang taekwondoin dan itu membuat Wira seakan dipaksa membuka kenangan buruk saat SMA. Wira ingin menghindar tapi Kayla yang mengingatkannya pada sosok Nadine selalu datang. Dulu Nadine, Faiz, dan Wira adalah tiga sahabat yang tak terpisahkan. Mereka berdua selalu ada untuk Wira yang canggung menghadapi lingkungannya. Background hidup Wira sebagai anak tunggal dengan kedua orang tua yang jarang mengajaknya bicara semakin membuat Wira menjadi sosok yang tidak percaya diri.
Karakter Wira dan Kayla mirip karakter Aris dan Naina di novel Orizuka yang berjudul 17 Years of Love Song. Wira (dan Aris) sosok anak lelaki pendiam dan penurut dan cenderung murung, sementara Kayla (dan Naina) sosok gadis yang ceria, penuh semangat, dan selalu berinisiatif.
Karena bujukan Kayla, akhirnya Wira sedikit berubah bahkan bersedia masuk klub taekwondo.
Mulai bab ini semangat saya untuk melanjutkan membaca jadi drop. Sepanjang saya membaca novel Orizuka baru kali ini saya mengalaminya. Menurut saya, perubahan Wira terlalu drastis. Untuk trauma dan karakter yang digambarkan sejak awal, seharusnya Wira tak bisa begitu saja membuka rahasianya pada seorang Kayla. Mestinya ada proses yang lebih smooth sampai akhirnya Wira memiliki alasan yang lebih kuat untuk mau bercerita.
Syukurlah bab itu bisa saya lalui dan semangat untuk menyelesaikan kembali naik.
Untuk menambah konflik, Orizuka menghadirkan sosok Attar, cowok tegap tampan dan senior di club taekwondo. Wira, Kayla, Attar terlibat dalam cinta segitiga. Orizuka memang pintar meramu cerita sehingga kisah cinta segitiga yang diselipkan dalam novel ini meski mainstream tapi enak dinikmati.
Apapun selain hujan, ternyata adalah kalimat dalam penggalan adegan saat Kayla marah pada Wira. Untuk menebus kesalahannya, Wira berusaha meminta maaf. Saat itu hujan deras turun. Kayla berdiri di tengah hujan dan menantang Wira untuk bergabung dengannya sebagai tanda maaf.
"Apapun selain hujan," jawab Wira. Wira akan melakukan apa saja untuk meminta maaf, apapun itu asalkan tidak berada di bawah hujan.
Karena setting utama di Malang, jadi pembaca akan disuguhi beberapa dialog khas arek (orang) Malang.
Bagi saya sosok Nadine dan Kayla sama pentingnya bagi perubahan karakter Wira, jadi saya malah tidak merasa ada perbedaan signifikan siapapun yang dipilih oleh Wira.
Ada satu lagi yang sedikit dilewati Orizuka entah sengaja atau tidak yaitu tentang trauma Wira. Di halaman 252 tiba-tiba dituliskan bahwa dokter yang menangani Wira mengatakan bahwa kemungkinan Wira mengalami PTSD (Post Traumatic Stress Syndrome). Saya agak bingung, sih, karena sejak halaman awal tidak pernah disinggung kalau Wira pernah berada di bawah terapi dokter. Selain itu, adegan ini dibiarkan begitu saja. Jadi pembaca tidak tahu apakah setelah itu Wira harus terapi psikologis atau tidak.
Terlepas dari beberapa hal yang agak mengganggu --bagi saya-- tetapi lagi-lagi Orizuka berhasil membuat saya harus meraih tisu dan diam-diam menghapus air mata yang mengalir deras tanpa terasa saat adegan Wira menangis di rumah sakit setelah kena hajar habis-habisan dari lawan mainnya saat bertanding di Bandung.
Catatan Lain:
Sebagai orang yang sedang belajar menulis, tulisan Orizuka banyak memberi pelajaran misalnya bagaimana membuat semua adegan, tokoh, sekecil apapun perannya tetapi semua mendukung cerita. Misalnya tentang pukulan-pukulan yang diterima Wira saat di arena pertandingan, ternyata itu menjadi keywords dalam menyelesaikan masalah Wira dan traumanya. Bahkan itulah yang menjadi kunci utama dalam novel menyelesaikan novel Apapun Selain Hujan. Tepuk tangan untuk Orizuka. Kamu cerdas, gal!
Sunday, 16 October 2016
Saturday, 13 August 2016
Kopdar Akbar dan Ulang Tahun Kesembilan Goodreads Indonesia 2016
Foto-Makan-Foto-Nimbun Buku-Makan-Foto-Makan-Foto ... Terus Aja Begitu :D
![]() |
| Pasar Antik Triwindu: titik kumpul kopdar |
Kopdar Akbar sekaligus merayakan ulang tahun ke-9 Komunitas Goodreads Indonesia kali ini diadakan di Solo. Wuaah ... saya seneng banget, lah. Eh tapi acaranya seharian, sebagai emak-emak agak kepikiran juga gimana ngatur jadwalnya. Sempat mulai ragu, tapi tiba-tiba diinbox Mbak Sani. Baiklah, setelah tanya Alvina dan Bzee run down acara kopdar, akhirnya saya putuskan ikut dan segera transfer Rp100.000 ke panitia dan konfirmasi keikutsertaan.
Tiba-tiba sejak malam menjelang kopdar hujan turun. Bahkan pagi tanggal 13 Agustus 2016, hujan lumayan deras. Mulailah muncul rasa khawatir kalau hujan tak berhenti. Soalnya tempat ngumpul ada di area terbuka. Syukurlah pukul 8 pagi hujan tinggal menyisakan jejak basah di seluruh kota. Diantar ojek tercintah alias suami, saya menuju Ngarsuporo (pelataran parkir Pasar Triwindu) sebagai titik kumpul.
Sampai di sana, teman-teman yang datang duluan sudah action di depan kamera bareng-bareng. Tenang Buuk ntar poto sendiri.
Awalnya agak canggung gabung sama anak-anak muda segar penuh semangat itu. Berasa paling tua (memang, sih) dan banyak yang belum saya kenal, kecuali anak-anak Joglosemar yang sebagian besar sudah saya kenal dan sudah beberapa kali kopdar plus sering chat di grup wa. Sekitar 50 peserta datang dari 4 penjuru mata angin.
Setelah melakukan registrasi ala GRI saya disuruh memilih satu tote bag batik.
![]() |
| pingin, kan? |
Mulailah saling menyapa dan berkenalan. Tak lama seksi logistik alias Ross alias Ken Petung
datang membawa beberapa kardus botol air mineral dan berbungkus-bungkus
cabuk rambak dan karak. Oh, kirain kita makan di salah satu penjualnya langsung, lho. Makanya saya heran karena di area situ tak ada penjual makanan, kecuali penjual barang antik di dalam Pasar Triwindu.
Oke, mari mencari tempat duduk sendiri-sendiri lalu makan sambil mengobrol sambil action tiap kali ada kamera lewat. Pokoknya kalau kopdar itu acaranya makan, foto, nambah timbunan buku, makan, foto, nambah timbunan buku ... begitu terus.
![]() |
| cabuk rambak |
Pukul 9 lebih, rombongan yang datang dari Solo, Jogja, Semarang, Surabaya, Jakarta, Bekasi, Surabaya, Purworejo, Purwokerto, Bandung ini berjalan menuju Pura Mangkunegaran. Karena takut kecapekan, saya minta izin pulang dulu dan akan bergabung lagi saat acara inti di Rumah Rempah. Sesuai jadwal, setelah dari Pura Mangkunegaran, mereka akan balik ke Pasar Triwindu untuk foto-foto (lagi) dan belanja di Pasar Antik Triwindu, baru meluncur ke Rumah Rempah untuk ishoma dan acara inti. Bzee dan Mbak Sani sudah memberi ancer-ancer letak Rumah Rempah. Di Jl Adisucipto, dari hotel Lor In masih ke barat, setelah IHS (setelah hotel Loro Jonggrang, tambahan keterangan dari Mbak Sani) belok kiri. Oke, berarti tidak di pinggir jalan utama.
Saya berangkat ke Rumah Rempah--yang ternyata namanya Rempah Rumah Karya-- dari rumah pukul 1 siang dan yakin bakal telat. Apalagi ditambah acara salah belok, kebablasan, pakai GPS yang tak membantu, yang akhirnya memakai cara manual bin konvensional yaitu bertanya pada beberapa orang. Penjual lotis, tukang tambal ban, lalu penjual hik.
Voila akhirnya ketemu juga. Ya iyalah susah nemunya karena Hotel Loro Jonggrang yang jadi ancer-ancer tak ada papannya, begitu juga Rumah Rempah. Dan, setelah memastikan kalau rumah yang saya datangi benar (dengan bertanya pada pegawainya) saya masuk dan acara diskusi sudah berlangsung.
Mbak Sani langsung menyuruh saya makan nasi liwet atau selat solo dan Mbak Indah Darmastuti mengambilkan nasi liwet dan wedang beras kencur hangat plus mengangkatkan kursi buat saya. Duuh makasih ya Mbak. Maaf, lho, merepotkan.
![]() |
| nasi liwet |
Sambil makan sendiri karena yang lain sudah makan, saya mendengarkan pembicara. Karena terlambat dan nggak kebagian lembar ringkasan buku Serat Centhini jadi saya agak nggak nyambung. Hanya beberapa yang sempat saya tangkap bahwa bagi orang Solo memasak untuk tamu adalah salah satu bentuk penghormatan, sementara tidak begitu di Semarang. Komposisi makanan dipengaruhi juga oleh tingkat ekonomi sebuah wilayah. Misal untuk daerah yang berada di garis kemiskinan maka menu daging akan sangat minim. Berbeda dengan masyarakat Kudus misalnya yang menyajikan Soto dengan banyak daging karena tingkat ekonomi mereka --zaman dahulu-- lebih baik.
Dari pembicara, Bang Aldo--yang ternyata lulusan jurusan Ekonomi dari Amerika (benar nggak ya?)-- dan Mas Muhammad Fauzi, diharapkan kita mau mengangkat dan membudidayakan makanan tradisional Indonesia sehingga bisa sepopuler makanan Korea dan makanan luar negeri lainnya.
Dari pembicara, Bang Aldo--yang ternyata lulusan jurusan Ekonomi dari Amerika (benar nggak ya?)-- dan Mas Muhammad Fauzi, diharapkan kita mau mengangkat dan membudidayakan makanan tradisional Indonesia sehingga bisa sepopuler makanan Korea dan makanan luar negeri lainnya.
![]() |
| desain arsitektur atapnya unik |
Seperti biasa setelah itu ada sesi tanya jawab. Karena yang bertanya bakal dapat hadiah buku, jadi saya mencari-cari pertanyaan, dong (nggak mau rugi).
Acara paling seru adalah kuis dengan hadiah buku yang dipandu oleh Kak Harun dan Uum. Rulesnya adalah salah satu maju lalu memeragakan sesuai judul buku yang ada di daftar Uum. Peserta yang bisa menebak dengan benar berhak memilik satu buku yang ada sekalian mengenalkan diri lalu gantian memeragakan judul buku dengan gerakan tubuh. Begitu seterusnya.
Saya benar-benar heran karena selalu ada yang bisa menebak padahal cara mereka memeragakannya malah bikin ngakak duluan. Ada juga yang bisa nebak padahal belum diperagakan cuma dikasih clue sama Harun: 2 kata, pernah difilmkan. Haduuuh ... mereka pengunyah buku atau cenayang sebetulnya? Atau jangan-jangan dia banyak baca buku primbon atau buku Ronggowarsito, weruh sakdurunge winarah. #salim
Gerakan tubuh saya untuk menggambarkan judul buku Pangeran Kecil ternyata berhasil ditebak oleh si Dion dari Jogja.
Gerakan tubuh saya untuk menggambarkan judul buku Pangeran Kecil ternyata berhasil ditebak oleh si Dion dari Jogja.
Kali ini saya berhasil menebak 2 buku. Bekisar Merah dan Robohnya Suara Kami. Yaaayyyy! Dan inilah hasil buku yang bisa saya bawa pulang untuk menambah rak timbunan #plaks
![]() |
| ahseek, nambah timbunan ... eh |
Eh sebelum kuis tadi ada acara tiup lilin dan pemotongan kue ulang tahun Goodreads. Dan pukul 4 lebih acara pun diakhiri dengan foto ... foto ... foto ... foto ...
Terima kasih banyak untuk panitia kopdar akbar. Maaf ya saya nggak bantu-bantu padahal diadakan di Solo. Terima kasih untuk keseruannya.
Semoga teman-teman yang pada tepar segera segar kembali. Sampai jumpa lain kali!
![]() |
| fotografer difoto |
![]() |
| ada jajanan pasar |
Acara ini disponsori oleh Penerbit Gramedia dan Bentang Pustaka juga GagasMedia
Semoga IRF (Indonesia Readers Festival) sekali dua juga diadakan di Solo. Ya ya ya ....
The last but not least, sambil mengasah memori saya akan mencoba mengingat siapa saja yang datang dan dari mana:
SOLO:
Dokter Busyro aka Bzee
Ross aka Ken Petung
The last but not least, sambil mengasah memori saya akan mencoba mengingat siapa saja yang datang dan dari mana:
SOLO:
Dokter Busyro aka Bzee
Ross aka Ken Petung
Dani aka Perdani
Alvina (sayang dia cuma ikut acara pagi sampai siang)
Sulis
Sani B Kuncoro
Indah Darmastuti
Laura
Indah (Kusumodilagan -- kayaknya)
Tiwik
Ngadiyo
JOGJA:
Dion
Wardah
Andreas
MAGETAN:
Dince aka Dina (yang terlibat perdebatan denganku masalah pecel hahahaha ...)
SURABAYA
Selvi (ternyata dari JAKARTA hahaha)
SEMARANG
Lila
Tezar
Ika
Cyndi
PURWOREJO:
Nias
JAKARTA, BOGOR, BANDUNG, BEKASI
Harun
Uum (katanya dari Bekasi)
Miaaa ( huruf a nya harus 3. Kenapa? Hanya dia dan Tuhan yang tahu)
Aldo
Sekar (eh ada nama itu nggak ya?)
Ibu Tio aka Tukang Kue Keren (dari Bandung yang datang bawa 2 putrinya eh ternyata cuma bawa 1 *sungkem)
Bunga Mawar (aslinya siapa, lupa)
Melisa (sayangnya lupa yang mana padahal sempat kenalan) dan ternyata dari SURABAYA
YANG INI LUPA DARI MANA
Pra (dari SEMARANG)
Andrebebek atau bebekandre?(dari JOGJA)
Ghozy (dari SURABAYA)
Yaah ... lumayan lah memori saya, kan?
Alvina (sayang dia cuma ikut acara pagi sampai siang)
Sulis
Sani B Kuncoro
Indah Darmastuti
Laura
Indah (Kusumodilagan -- kayaknya)
Tiwik
Ngadiyo
JOGJA:
Dion
Wardah
Andreas
MAGETAN:
Dince aka Dina (yang terlibat perdebatan denganku masalah pecel hahahaha ...)
SURABAYA
Selvi (ternyata dari JAKARTA hahaha)
SEMARANG
Lila
Tezar
Ika
Cyndi
PURWOREJO:
Nias
JAKARTA, BOGOR, BANDUNG, BEKASI
Harun
Uum (katanya dari Bekasi)
Miaaa ( huruf a nya harus 3. Kenapa? Hanya dia dan Tuhan yang tahu)
Aldo
Sekar (eh ada nama itu nggak ya?)
Ibu Tio aka Tukang Kue Keren (dari Bandung yang datang bawa 2 putrinya eh ternyata cuma bawa 1 *sungkem)
Bunga Mawar (aslinya siapa, lupa)
Melisa (sayangnya lupa yang mana padahal sempat kenalan) dan ternyata dari SURABAYA
YANG INI LUPA DARI MANA
Pra (dari SEMARANG)
Ghozy (dari SURABAYA)
Yaah ... lumayan lah memori saya, kan?
Monday, 12 October 2015
Mobil, Bokap, Gue
![]() |
| cover |
Penulis: Halluna Lina
Penerbit: PlotPoint
ISBN: 978-602-9481-69-3
Terbit: Juli 2014
Tebal: 335 hal.
Harga: 59.000,-
Perjuangan Dinar Menyetir Mobil dan Hidupnya
Dalam hidup, manusia melewati tahapan demi tahapan. Remaja adalah tahapan yang sering mendapat perhatian ekstrabanyak. Mereka telah berkembang cara berpikirnya, tak lagi menelan mentah-mentah omongan orang tua. Mereka mulai kritis dan lebih percaya pada teman-teman sebaya karena dianggap lebih bisa memahami emosi mereka.
Karena kebutuhan inilah maka tercipta peer group, sekumpulan remaja sebaya yang memiliki hubungan erat dan saling tergantung. Dalam peer group, mereka berusaha menemukan identitas dirinya dan teman menjadi tolok ukur dalam menilai siapa dan bagaimana dirinya.
Peer group memang diperlukan bagi remaja untuk aktualisasi diri dan menambah wawasan. Namun, dalam kelompok ini kadang muncul dua hal: peer pressure negative dan peer pressure positive. Remaja yang cenderung labil ditambah hubungan yang tidak baik dengan orang tuanya, biasanya terjebak pada kelompok yang memberi pengaruh negatif pada dirinya.
Dinar, dalam novel ini adalah representasi dari remaja tersebut. Hubungan dengan ayahnya yang bak kucing dan anjing, membuat Dinar mencari kenyamanan melalui Geng Cantik, geng paling popular di SMA-nya, yang dipimpin Bianca. Demi lolos dari trial member, Dinar rela melakukan apa saja. Dinar merasa dirinya gadis yang terlalu biasa, sehingga dia harus melakukan sesuatu yang membuat Geng Cantik respect padanya.
Ada peer pressure negative yang mengubah Dinar yang baik dan penuh semangat juga apa adanya menjadi Dinar yang melakukan sesuatu demi pujian orang lain, demi menyenangkan Bianca dan Geng Cantik juga Bram. Bahkan Dinar tak bisa menentukan masa depan yang akan dipilihnya.
“Gue belum kepikiran mau jadi apa. Kira-kira kerja apa ya, yang menurut orang keren?” (h. 139)
“Sayang banget tahu nggak? Gue kagum sama lo. Lo itu pekerja keras, tapi lo nggak punya tujuan, kalaupun ada tujuannya juga salah. Kalau usaha keras cuma demi orang lain, itu bakalan sia-sia aja. Hidup kan nggak selalu buat nyenangin orang lain terus-terusan.”
Ini teguran Riko, cowok sekelas Dinar yang suka nyolot, nyindir, dan sok tahu tapi jago otomatif dan menolong Dinar agar bisa menyetir dengan cepat. (h. 167).
Demi menyenangkan Bianca dan teman-temannya, Dinar berani mencuri soal ulangan dari meja gurunya, dan mengaku jago menyetir. Dinar berhasil mendapat pujian sebagai gadis superb, cool, dan keren. Bahkan, dia berhasil menarik perhatian Bram, cowok tajir dan ganteng, juga pembalap.
Konsekuensi dari kebohongannya, Dinar semakin jauh dari Ayah sekaligus harus menutupi kebohongan dari depan Geng Cantik. Demi menjaga rahasia tentang dirinya yang sebenarnya tak bisa nyetir sama sekali, Dinar melakukan tindakan nekat hingga membahayakan dirinya sendiri dan membuat ayahnya makin marah. Tapi, Dinar tak kapok. Dia tetap rela meminta pada Ayah agar mengajarinya menyetir. Dinar yang suka ngeyel dan tak disiplin harus kuat menghadapi omelan demi omelan dari ayahnya yang galak, disiplin, dan superior. Semua demi Geng Cantik, demi pengakuan akan eksistensinya.
“Pokoknya Ayah gue itu beda. Hobi ngomel dan senang banget bikin gue gugup.” Perkataan Dinar pada Riko. (h. 138).
Tapi, dari sinilah, Dinar mulai memahami bagaimana Ayah yang sebenarnya, ketika diam-diam mendengar percakapan antara Ayah dan Ibu. “Ayah, tuh, khawatir, Bu, sama Dinar. Dinar bisa nggak ya, jadi orang sukses?” (h. 210)
Perasaan Dinar mulai terbelah. Apakah menuruti semua permintaan Geng Cantik dengan segala risikonya atau menjadi dirinya sendiri, tapi siap didepak dari Geng Cantik?
Sindiran-sindiran Riko selama ini yang membuat Dinar sebal dan keki tanpa sadar ikut memberi andil pada keputusan Dinar. Bahkan dengan jujur, Dinar mengakui di depan kelas, saat Pak Agus menyuruh semua murid menulis cita-cita mereka dan membacakan di depan kelas, kalau dia bingung mau jadi apa. Menurutnya semua profesi itu susah. Jadi presiden itu repot, jadi dokter hewan dia alergi kucing, jadi dokter bedah malah akan ninggalin gunting di tubuh pasien.
Tapi, ada kalimat yang dibaca Dinar di depan kelas yang tak hanya membuat terharu tapi juga membuat teman-temannya kagum akan kejujuran Dinar.
“Sekarang saya cuma kepengin bilang, saya memang belum tahu saya mau jadi apa. Namun, saya sudah tahu saya tidak ingin jadi orang seperti apa. Saya tidak mau jadi ‘orang-orangan’. Orang palsu. Orang yang bukan diri sendiri.” (h. 302)
Semua perubahan tentu saja membawa risiko. Jadi, Dinar harus kuat menghadapi ulah Bianca dan teman-temannya setelah itu.
Halluna Lina menyajikan novel dengan bahasa yang mengalir, ringan, dan nyaman diikuti sampai akhir. Banyak hal bisa dipetik dari setiap kejadian yang dialami Dinar. Bukan hanya tentang sikap Dinar dan Geng Cantik, tapi juga hubungan antara ayah-anak, dan bagaimana menjadi diri sendiri dan menghargai apa yang ada pada diri kita.
Cover dan judulnya unik, menjadi daya pikat tersendiri bagi pembaca. Selamat menikmati kisah cinta seorang ayah, cinta seorang anak, dan tentang cinta pertama.
Subscribe to:
Posts (Atom)











