Saturday, 8 February 2014

Mata yang Enak Dipandang

gambar dari goodread
Kumpulan 15 cerpen yang terserak di sejumlah media antara tahun 1983-1997
Terbit pertama kali oleh Gramedia tahun 2013
Desain sampul: eMTe
216 hlm; 20 cm

Saat Dion menawarkan buntelan di grup BBI, bertepatan saya membuka FB, sehingga dengan cepat saya dapat memilih buku ini. Jaminan nama pengarangnya membuat saya tak ragu, apalagi covernya yang kuning terang sangat tertangkap mata. Dan tentu saja judulnya yang biasa, berbentuk kalimat utuh, tak berima, dan menurut saya kurang puitis. Tetapi pada dasarnya Ahmad Tohari memang tidak pernah (setahu saya) menulis dengan kata-kata puitis, meliuk-liuk, sebelum sampai pada maksudnya. Ahmad Tohari itu apa adanya, dan karena itulah saya menyukai karya-karyanya.

Kisah pertama yang diberi judul (1) Mata yang Enak Dipandang seketika membuat hati saya tersinggung. Sungguh. Bayangkan saja bagaimana melalui tokoh Marta yang buta, Ahmad Tohari mempermalukan saya, mempermalukan mata saya yang berharga ini sebagai mata yang tak enak dipandang, karena beberapa kali saat naik kereta api merasa lebih nyaman dan berpihak pada peraturan yang melarang para pedagang, pengamen, apalagi pengemis "seperti Marta" berlalu-lalang di lorong kereta. Mata yang tak peduli, karena berada di kereta yang nyaman dan bersih, pada sosok-sosok Marta, yang menyipit saat melihat mereka.

(2) Bila Jebris Ada di Rumah Kami bercerita tentang Jebris, pelacur, yang tinggal di lahan yang sama dengan Ratib, seorang ustadz kampung. Sama seperti Sar, istri Ratib, saya juga deg-degan untuk mengetahui bagaimana pendapat dan sikap Ratib dengan keberadaan Jebris. Cara Ratib memandang persoalan ini menjadi pelajaran buat kita.

Cerpen keempat membuat saya terpaksa mengeluarkan satu kata yang kami tabukan di rumah, yaitu "Gillaaaaaa!" Berkisah tentang orang-orang yang datang ke rumah kita dengan maksud meminta sumbangan, entah untuk yayasan penderita cacat atau menjual barang-barang yang "ngaku"nya hasil buatan para difable. Mereka memang "mungkin" penipu. Tetapi (3) Penipu yang Keempat, penipu yang jelas lebih pandai itu ternyata adalah saya, bisa juga kamu, atau dia! Ahmad Tohari benar-benar membuat saya terperangah sekali lagi karena "kecaman"nya yang dengan semena-mena menelanjangi saya. Gila!

Pada kisah (4) Daruan, pembaca akan tahu  kisah seorang penulis yang puluhan karyanya tak juga tembus penerbit. Hingga suatu hari, atas kebaikan sahabatnya, Muji, Daruan akhirnya dapat melihat karyanya dalam bentuk buku. Penulis mana yang tak sumringah saat melihat karyanya akhirnya dibaca orang. Dan tentu saja seiring dengan itu, harapan akan masa depan yang cerah, tak lagi nebeng hidup pada istri akan segera terjadi. Itu mimpi dan harapan Daruan, dan tentu saja Daruan-Daruan yang lain. Saya dapat merasakan euforia Daruan saat menerima bukunya, serupa menimang bayi yang telah dikandungnya berbulan-bulan sengan susah payah, tak jarang harus begadang, lupa mandi, lupa makan, dan akhirnya lahir. Namun semua euforia itu pupus seketika. Harga diri Daruan yang hancur membuat saya harus selalu ingat untuk bernapas. Bukan saja karena bukunya tidak dijual di toko buku bergengsi, tetapi  juga ternyata masih utuh di tangan pedagang asongan, menjadi efek paling menyakitkan dari sebuah perjuangan panjang seorang Daruan (penulis).

Lagi-lagi Ahmad Tohari bercerita tentang kekalahan seorang laki-laki (suami). Dalam (5) Warung Penajem, Kartawi, petani dengan secuil lahan, itu mendapat imbas dari obsesi istrinya untuk menjadi orang kaya. Di cerpen ini, saya serasa ikut menjadi pelanggan Jum dan bergosip tentangnya, saking dekatnya tokoh cerita itu dalam kehidupan sehari-hari.

(6) Paman Doblo Merobek Layang-Layang, padahal dia adalah ikon seorang pahlawan di desanya. Jika mereka mengalami kesulitan maka Paman Doblo akan segera turun tangan dengan senyum yang selalu menghias wajahnya. Sayangnya, kalimat "Untung ada Paman Doblo", itu kini harus ditelan dengan susah dan sedih, semenjak Paman Doblo diangkat sebagai satpam di kilang minyak yang baru dibangun.

Ada sebuah kisah tentang seorang yang telah membunuh 99 orang. Dia pun bertobat dan mencari seseorang yang dapat menunjukkan jalan tobatnya. Namun, orang ke-100 ini tidak seperti yang dia harapkan sehingga dibunuhlah orang ini, dan genaplah dia membunuh 100 orang. Dengan penuh kesedihan, orang ini berjalan untuk menemukan seseorang yang dapat menuntunnya pada sebuah pertobatan. Sayangnya, sebelum dia sampai (bertemu) dengan orang alim tersebut, dia meninggal. Saat itulah malaikat rahmat dan malaikat azab berebut. (7) Kang Saripin Ingin Dikebiri, memiliki pesan yang sama. Lelaki paling konyol dan nekat yang mencari jalan keluar atas nafsunya yang tak dapat ditundukkan. Pesannya adalah "jangan sok menjadi panitia penghitung amal!"

Kisah selanjutnya adalah kisah tentang Kasim yang berusaha menyeberang jalan raya untuk menuju secuil sawahnya yang menunggu dipanen. Namun, arus mudik yang padat membuat Kasim harus menahan kesabaran. Berjam-jam dia menunggu kesempatan dari para pemudik yang hendak bersilaturahim dan bermaaf-maafan, untuk menyeberang. Bayangan akan burung pipit yang rakus menuai duluan, membuat Kasim berani melangkah dengan gagah menyeberang jalan raya. Untuk cerpen ini, sayang endingnya kurang menyentak. Mungkin karena terlalu berat muatan kritiknya, sehingga ketika (8) Akhirnya Kasim Menyeberang Jalan jadi terasa kurang menyentuh.

Pada (9) Sayur Bleketupuk, saya merasa mendapat pesan penting dari Ahmad Tohari melalui prasangka Parsih pada suaminya, Kang Dalbun. Janji Kang Dalbun untuk mengajak anak istrinya naik jaran undar, menjadi awal malapetaka di rumah mereka. Tragis.

Setelah kisah tragis tersebab ketidaksabaran dan prasangka Parsih, pada (10) Rusmi Ingin Pulang, sayangnya terasa datar. Ketakutan Kang Hamim akan kepulangan Rusmi, anaknya, yang menurut desas-desus menjadi pelacur di kota, membuatnya harus memastikan pada Pak RT bahwa anaknya diterima di kampung ini. Dan setelah itu memang tak terjadi apa-apa, selain kedatangan Rusmi yang disusul oleh lelaki baik dan tampak kaya.

(11) Dawir, Turah, dan Totol, tiga nama yang "aneh", juga kisah mereka bertiga yang tak kalah mengherankannya. Tiga sosok manusia yang saling mengikatkan diri di antara kardus-kardus bekas dan tempat sampah. Saya hanya bisa mendesah berat mengikuti kisah tiga tokoh ini.

Sementara Dawir, Turah, dan Totol yang tak tahu besok mau makan apa, sebaliknya Kang Narya memiliki (2) Harta Gantungan, berupa kerbau, yang akan digunakan sebagai imbalan untuk mengurus jenazahnya kelak. Trenyuh, yang saya rasakan saat membaca cerpen ini.

" ... yang gagah, yang cantik, yang mulus, yang bopeng, sama saja. Di mataku mereka akan segera berubah menjadi tengkorak dan tulang-tulang yang berjalan kian kemari ...." Itulah yang dilihat oleh mata Sardupi. Dia bahkan pernah dihajar oleh Pak Braja, hansip pasar, karena tertawa terbahak-bahak saat diajak bicara hansip itu. Masalahnya Sardupi tidak bisa menahan tawanya karena (13) Pemandangan Perut yang dilihatnya. Mata Sardupi, mata yang dapat melihat perut orang-orang berdasarkan tabiat mereka. Sebuah cerpen religius, dengan gaya supranatural.

Cerpen yang juga sama-sama religius, menampilkan hubungan transedental antara Markatab yang mendapat ucapan (14) Salam dari Para Penyangga Langit.

Berbeda dengan keempat belas cerpen di atas yang terdiri dari 9-10 halaman, di (15) Bulan Kuning Sudah Tenggelam, kita akan disuguhi sebuah novelet yang mengisahkan tentang Ayuning Rahadikusumah, anak angkat seorang bupati terhormat, yang harus menentukan pilihan antara ayah angkat yang telah melimpahinya dengan kasih sayang tak terkira atau Koswara, suami tercintanya. Kisah yang sangat menyentuh bagi kita yang memiliki orang tua yang kukuh tinggal di rumah mereka, sendirian, sementara kita berada nun di sana. Membawa serta mereka tak bisa, sementara kita pun punya sejuta satu alasan jika harus tinggal di rumah orang tua. Sebuah masalah pelik, karena dalam sebuah hadits disebutkan, dengan konteks bebas yang intinya "sungguh terlalu mereka yang tidak masuk surga sedang orang tuanya masih ada di sisi mereka". Sungguh sebuah dilema.

Lima belas cerpen yang saya beri 5 bintang ini tak salah menjadi pilihan saya di antara buku lain yang ditawarkan. Terima kasih telah memilih saya menjadi pemilik Mata yang Enak Dipandang.

4 comments:

  1. selamat, mba. udah kepilih jadi resensi pilihan Gramedia ;)

    ReplyDelete
  2. wow..ternyata review ini jdi resensi pilihan Gramedia. selamat mb rien ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha ... Ekiii makasih yo! :D Lagi hoki, nih ;)

      Delete

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak.
.