Showing posts with label Yang Menang-Menang. Show all posts
Showing posts with label Yang Menang-Menang. Show all posts

Tuesday, 8 July 2014

Limit, sebuah batas antara kau dan dia

          
               Judul            : Limit
Penulis          : Triani Retno
Penerbit        : Ice Cube-KPG
Jumlah Halaman: 189
ISBN              : 978-979-91-0678-0
Terbit              : Cetakan I, Februari 2014

Beberapa tahun terakhir ini kita sering mendengar istilah indigo children atau anak nila. Anak indigo adalah mereka yang memiliki kelebihan yang sangat spesifik dibanding anak-anak lainnya. Salah satu contoh adalah mereka memiliki kemampuan supranatural.
Beberapa pendapat menyebutkan bahwa ada satu kecerdasan lain selain 8 multiple intelligences, yaitu kecerdasan supranatural atau pseudoscience. Pada anak indigo, mereka memiliki kemampuan melihat hal-hal gaib, bahkan ada yang bisa berinteraksi dengan makhluk halus. Beberapa menyebutkan sebagai memiliki indra keenam.  

Limit adalah cerita tentang Keala, murid SMA yang dapat berinteraksi dengan makhluk lain. Sejak kepindahannya dari Banjarmasin ke Bandung, Keala beberapa kali mengalami gangguan kepala, seakan ditusuk jarum, dan mendengar berbagai suara berdengung di telinganya.

Keala makin galau karena nilai-nilai ulangannya hancur. Seandainya dulu Keala bukan si juara sekolah, si murid berprestasi, semua tak jadi masalah. Tapi, sejak kepindahannya dari Banjarmasin ke Bandung, dan sejak dia pindah sekolah ke SMA 79 Bandung, Keala si juara merasa jadi pecundang.

Bukan hanya malu pada diri sendiri, Keala lebih tak tega pada bundanya. Hidup Bunda sangat menderita sejak Ayah berubah hingga harus masuk penjara. Karena itu, Keala sangat ingin membuat Bunda bahagia. Bagaimana bisa kalau nilai ulangannya saja cuma empat koma. Satu lagi, Bunda dulu adalah salah satu murid pintar di sekolah ini!
Bunda bangga menjadi salah satu alumnusnya (hal. 22)
Aku? Apa aku bisa bangga? Apa sekolah ini bisa bangga punya murid seperti aku? Apa yang bisa dibanggakan dari aku? I’m nobody! (hal. 22)

Karena terus-menerus memikirkan susahnya bersaing dengan para the winner di SMA top seperti Kevin yang suka berkelahi tapi selalu sempurna untuk nilai Maematika, Arya pelajar teladan , atau Tasya yang tak hanya pintar tapi juga sangat cantik, Keala jadi sakit karena stres. Maag-nya bermasalah.
“Sakit maag nggak cuma karena terlambat atau nggak teratur makan, lho,” lanjut dr. Citra. “Bisa juga karena banyak pikiran dan stres.” (hal. 45)

Di saat hidup Keala jungkir balik bak roller coaster, muncul Eizel Augusta, cowok jangkung berkacamata yang siap menolong Keala. Kakak kelasnya yang cerdas dan penuh perhatian itu menyebabkan Keala berhasil move on dari nilai rapornya yang jelek.

Kevin, teman sekelas Keala yang punya otak cemerlang, diam-diam cemburu sehingga berniat mengetahui siapa si Eizel yang selalu diceritakan Keala. Dengan bantuan Ninna, sahabat Keala, Kevin menyelidiki Eizel Augusta yang telah berhasil mencuri hati Keala.
Nama Eizel Augusta tak ada dalam daftar absen semua kakak kelas mereka. Mungkinkah itu nama samaran? Kevin makin curiga kalau Eizel punya niat buruk pada Keala. Dia harus bertindak, demi Keala, cewek manis yang mencuri perhatiannya.
Siapa pun Eizel, berani macam-macam sama Keala, aku nggak segan-segan bikin kamu babak belur! (hal. 146). Itulah janji Kevin untuk Keala.

Tentu saja Keala jadi bingung. Tapi, Keala tetap percaya, Eizel tidak seperti yang dituduhkan Kevin. Apalagi, Eizel sering mengatakan “semua akan baik-baik saja, Ke” (hal 88). “Aku akan menunggu kamu di sini … Wherever you go, whatever you do, I’ll be right here waiting for you, whatever it takes or how my heart breaks, I will be right her waiting for you … (hal 89). Lagu milik Richard Marx yang baru didengar Keala dari bibir Eizel.
Endingnya cukup mengejutkan, meskipun di sepertiga bab terakhir saya sudah mulai bisa menebak siapa Eizel sebenarnya. 

Limit adalah novel teenlit yang terpilih sebagai salah satu dari 10 naskah pilihan editor di Lomba Novel Bluestroberi Penerbit Ice Cube-KPG. Berbeda dengan seri Bluestroberi lainnya yang memiliki cover berkesan girly, Limit tampil dengan font dan ilustrasi seperti komik.
Sedikit unik dari Lomba Novel Bluestroberi adalah mereka meminta sad ending dari para pesertanya. Karena itu, bagi yang suka hepi ending (kayak saya), pasti mikir dulu kalau mau baca. :)
Syukurlah meskipun sad ending, tapi Limit tidak bikin galau, dan saya suka penyelesaiannya.


Triani berhasil memberikan kisah Keala-Eizel, yang berpotensi membuat air mata keluar, sekaligus membuat novel ini terasa manis dan segar karena tokoh Ninna dan Kevin. Dialog-dialog dalam novel ini juga sering membuat saya senyum-senyum.
“Kalem, Ke! Gue cuna ngingetin. Nggak baek ngelamun di sini.”
“Oh, jadi bagusnya kalau ngelamun di mana?”
“Di hati aku aja,”Kevin tersenyum lebar. (hal. 100)

Hampir sembilan puluh persen, setting novel ini di sekolah SMA 79, tetapi tidak membuat pembaca bosan. Perpustakaan menjadi salah satu setting yang paling sering muncul. Perpustakaan sepertinya menjadi tempat favorit Triani, karena dia bahkan hafal nomor-nomor rak dan segala istilah di perpustakaan.
Saya tidak menemukan typo dari novel setebal 189 ini. Kesabaran dan ketelitian dari editor dan proofreader-nya patut diacungi jempol.

Beberapa pertanyaan yang mampir di kepala saya adalah tentang percakapan dan interaksi Keala dan Eizel. Apakah tak satu pun murid di sekolah tidak pernah memergoki Keala, mengingat jumlah murid SMA di Bandung ini tentu tidak sedikit, sehingga tak ada yang curiga dengan tingkah Keala?
Satu lagi kejangggalan yang saya rasakan adalah adegan Kevin marah-marah di perpustakaan, mengapa Pak Dede (petugas perpustakaan) atau yang lain seakan tidak tahu?

 Terlepas dari semua kelebihan dan beberapa kejanggalan, tapi Limit memiliki ide yang unik. Karena itulah, penulis kukuh mempertahankan Limit menjadi judul novelnya. Karena Limit memang didasarkan pada sebuah ide dasar tentang kalkulus. Limit fungsi. Mendekati. Batas. Mendekati tapi tak bisa meraih. Itulah Limit yang membuat kisah Keala dan Eizel menjadi unik.

Wednesday, 11 June 2014

(Bukan) Salah Waktu - Nastiti Denny

  Novel Pemenang "Lomba Novel Wanita dalam Cerita" oleh Bentang Pustaka
dibela-belain nanggung malu di depan penjaga kraton mangkunegaran :D

 Setelah beberapa bulan hiatus, akhirnya aku bisa posting lagi. Tapi, karena review kali ini aku ikutkan lomba, jadi postingannya saya letakkan di http://sapto-rini.blogspot.com/2014/06/bukan-salah-waktu-nastiti-denny.html



Tuesday, 18 February 2014

The Tale of Despereaux

Cerita tentang 
seekor tikus, seorang putri, 
sedikit sup, dan 
segulung benang
Pemenang Newberry Book 2004
Ditulis oleh Kate DiCamillo
Ilustrasi oleh Timothy Basil Ering
Alih bahasa oleh Diniarty Panda
Diterbitkan oleh Gramedia 2005


Buku Pertama
LAHIRNYA SI TIKUS
Dalam bagian ini kita akan membaca kisah lahirnya si Despereaux di sebuah 'rumah' di balik dinding-dinding kastil, dari seorang seekor tikus bernama Antoinette yang lebih mengingat 'tas dandanannya" daripada putra kecil yang baru dilahirkannya. Tikus kecil satu-satunya yang hidup di antara saudaranya yang lahir, yang mengecewakan, yang lahir dari ibu tikus Prancis yang datang ke kastil ini dengan bersembunyi di tas seorang diplomat. Despereaux, begitulah Antoinette menamakan anaknya, sebagai lambang atas berbagai kesedihan dan kemalangan di balik kastil itu.
Dan dimulailah kisah Depereaux Tilling yang bertubuh sangat kecil, dengan telinga yang sangat besar. Dia bukan hanya dapat bertahan hidup dengan tubuh sangat kecilnya, Despereaux bahkan menjadi tikus yang mabuk asmara terhadap Putri Pea, putri Raja Phillip dari Kerajaan Dor. Tikus kecil yang aneh, yang lebih suka membaca daripada mengerikiti kertasnya seperti saudara-saudaranya.

Buku Kedua
CHIAROSCURO
Jika Despereaux adalah tikus kastil yang punya derajat 'mulia' yang menyukai cahaya maka Roscuro adalah tikus got yang tinggal di ruang bawah tanah, yang tak peduli apakah ada cahaya atau gelap. Karena itulah ia diberi nama chiaroscuro. Tapi sejak dia menemukan tali panjang dan mengerikitinya, sehingga Gregory, pemilik tali, itu marah dan menyalakan api tepat di depan mata Roscuro, tiba-tiba saja Roscuro memiliki ketertarikan sangat pada segala yang ber'cahaya'. Cahaya adalah arti kehidupan, begitu pendapat Roscuro.
Dan sejak ia mencintai cahaya, sejak itu pula hidup Roscuro menderita. Tepat seperti perkataan sahabatnya, tikus tua Boticelli Remorso, bahwa arti kehidupan adalah kesedihan, penderitaan, dan kegelapan.

Buku Ketiga
Buset! 
Kisah Miggery Sow
Segenggam rokok, selembar taplak meja merah, dan seekor ayam betina, adalah penyebab Miggery Sow (Mig) akhirnya memiliki telinga serupa kembang kol yang menghiasi kedua telinganya. Ditinggal oleh mamanya untuk selamanya, akhirnya Mig yang kebingungan makin bingung ketika papanya pergi dengan segenggam rokok, selembar taplak meja merah yang melilit lehernya, dan seekor ayam betina terkepit di ketiaknya. Pergi meninggalkan Mig pada seorang Paman yang tak hanya mengubah telinganya menjadi kembang kol tapi sekaligus membuat Mig tak bisa mendengar jelas, sehingga Mig terbiasa berteriak jika bicara. Dan setelah melongo saat melihat rombongan istana dengan kereta kuda yang indah dan penumpang yang tak kalah indah, dimulailah petualangan Mig dan satu harapannya yang sangat mustahil terjadi. Buset!

Buku Keempat
Dalam Cahaya Lagi
Di bagian ini, kita akan menemukan semua tokoh dari ketiga cerita di atas saling bertemu, saling berinteraksi. Konflik memuncak di bagian ini. Konflik antara tikus dan manusia dan sup. Di bagian ini kita lebih banyak diajak melihat cahaya dan istana dan dapur yang beraroma lezat.  

Menyesal saya baru membaca kisah si tikus yang dimabuk asmara ini sekarang. Buku ini sudah berdebu saat akhirnya saya ikut TBRR Pile dan Baca Bareng BBI bulan Januari. Tapi, berhubung saya tidak mereview tepat waktu, jadilah saya ikutkan TBRR Pile saja.

Tertarik membeli karena ada tulisan Pemenang Newberry Book di sudut bawah, karena covernya yang berupa ilustrasi seekor tikus dengan benang merah melilit tubuhnya dan sebatang jarum terseret di samping tubuhnya, tentu saja tidak akan membuat tangan saya terulur untuk mengambilnya. Tikus, binatang menjijikkan bagi saya.

Tapi, Kate DiCamillo berhasil menyingkirkan rasa jijik itu melalui Despereaux selama membaca kisahnya. Yang ada justru takjub, penasaran, gemas, juga terharu. Bahkan saat Despereaux mencicipi sup dari koki dapur rasa jijik saya menjelma jadi kelegaan dan rasa hangat yang menguar dari kuah sup itu.
Kisah ini unik, dengan narasi yang cantik dan hangat karena penulis sering menyapa pambacanya (anak-anak) dengan kalimat-kalimat seperti:
                 Anak-anak, kau harus tahu bahwa takdir yang seru .... 
                Anak-anak aku harus melaporkan bahwa yang dilihat Furlough belumlah seberapa. 
Dan sapaan-sapaan langsung sepanjang cerita hingga penutupnya.

Saya benar-benar  iri karena Kate DiCamillo bisa bercerita tentang tikus sebagus ini. Melalui tokoh-tokoh di sini, kita akan belajar memahami alasan di balik perbuatan mereka masing-masing. Bahkan untuk tokoh antagonis (kalau bisa disebut demikian) seperti Roscuro dan Mig pun kita akan dibawa pada rasa simpati dan memahami perbuatan mereka, bahkan saya bisa memahami mengapa Mig punya impian yang menggelikan semua orang.

Pembagian buku ini menjadi 3 bagian, yang masing-masing menceritakan satu tokoh, membuat karakter tokoh menjadi kuat. Saya menyukai gaya penulisan ini. Fungsi lain dari pembagian ini ternyata dapat menimbulkan efek misteri, sehingga kita (saya) penasaran sekaligus kaget dan lega ketika menemukan korelasi kisah kain merah di penjara bawah tanah dan Mig.
 
Di bab lima puluh dua, satu bab sebelum penutupnya yang pendek, yang berjudul 'bahagia selamanya' saya dibuat kagum dengan cara Kate mengakhiri cerita bagi semua tokohnya. Bahagia selamanya, yang dibuat oleh penulis bukan bahagia ala Cinderella. Awalnya saya sempat deg-deg-an mengikuti kisah Despereaux dan cintanya pada Putri Pea. Bagaimana seekor tikus berpasangan dengan putri manusia? Tapi, bagaimana kalau si tikus patah hati karena perbedaan mereka, melihat apa yang telah ia lakukan demi Putri Pea. Dan ending di buku ini membuat saya termangu setelah menutup halaman terakhirnya. Penulis bisa membuat saya lega, dengan akhir setiap tokohnya, meski tidak harus seperti harapan mereka semula. Dan akhirnya saya dapat mengembuskan napas dengan lega.

Seperti yang dikatakan oleh Kate DiCamillo di web-nya, jika dia menyukai storytelling maka bagian penutup itu telah membuktikannya. Dan saya seperti mendengar seorang bunda yang mengakhiri kisahnya di samping putrinya yang menatapnya dengan mata bulat lebar, karena enggan berhenti mendengar suara merdunya.


Tentang Miggery Sow
Rupanya Mig menjadi tokoh yang paling disukai Syakira (anak saya). Saat itu, saya coba membacakan kepadanya dan dia dengan antusias mendengarkan. Bahkan kakaknya yang sedang belajar, ikut mendengarkan dan menuntut saya untuk menceritakan lagi nanti.  Deskripsi tentang Mig dengan telinga kembang kolnya dan kata 'buset" yang menjadi ciri khas Mig membuat Syakira terbahak-bahak. Bahkan Syakira (anak saya) meminta buku itu untuk dia baca sendiri.
Hah, tiba-tiba saya ingin sekali bisa menulis kisah semenarik cara Kate DiCamillo berkisah.

Kalimat-Kalimat yang Menarik

Sepanjang bukunya, kita akan menemukan banyak kalimat dan ungkapan yang menarik.Beberapa yang saya tulis di bawah ini.

Kalau jadi raja, kau boleh membuat peraturan konyol sebanyak yang kau mau. Itulah enaknya menjadi raja. (Ini tentang Raja Phillip yang memerintahkan agar semua tikus got dibunuh, dan larangannya memasak sup di seluruh kerajaan)

Cinta, seperti yang telah kita bicarakan di depan adalah sesuatu yang kuat, indah, konyol, mampu memindahkan gunung. Dan gulungan benang.

Cerita seperti cahaya.





Typo
Sebenarnya tidak terlalu mengganggu, tapi untuk penerbit Gramedia saya agak takjub jika ada typo
hal 143: taplak meja meja itu lagi  (harusnya kata 'meja' hanya satu)
hal 247: ... omonganmu yang ga-ga-gagap (gagap-gagap)
hal 267: "Bunuh aku," kata Roscuro. Ia jatuh berlutut di depan Roscuro (harusnya di depan Despereaux)

FILM

Ternyata sudah ada film animasinya *telat*. Sayangnya saya baru melihat trailernya dan langsung merasa tidak cocok dengan cerita di dalam bukunya. Misalnya Putri Pea, yang dalam bayangan saya masih imut dan dan berpipi gembul dan lembut dan ramah, di animasinya malah tampak dewasa dan jutek.
Begitu pula dengan Mig yang khas dengan telinga kembang kolnya, di film telinganya biasa-biasa saja.

Saat melihat Behind the Scene filmnya ternyata pengisi suara Putri Pea adalah Emma Watson, sedangkan Despereaux diisi oleh Matthew Broderick.
Selama ini saya melihat dubber biasanya hanya duduk atau berdiri di balik peralatannya (alat rekam) tapi saat melihat proses pengisian suara (istilanya apa sih? ) saya mendapat pengalaman baru. Saya baru tahu kalau para pengisi suara ternyata berakting sama dengan kisahnya. Jika harus melempar, dia melempar beneran dan blug! mengenai lawan mainnya :D
Begitu juga dengan gebrakan di meja, pukulan, lemparan alat-alat dapur, semua dilakukan oleh para pengisi suara. Dan suara yang dihasilkan memang menjadi sangat ekspresif. Ow... saya kagum dengan totalitas mereka, hanya untuk sebuah kisah seorang Despereaux, tikus kecil yang jatuh cinta pada Putri Pea :D

Monday, 23 July 2012

Pemenang Nobel Sastra 1901-2010

 Daftar Pemenang Nobel Kesusastraan 1901-201

2010 - Mario Vargas Llosa (Spanyol)
(belum ada)

2009 - Herta Muller (Rumania)
(belum ada)

2008 - Jean-Marie Gustave Le Clézio (Perancis)
(belum ada)

2007 - Doris Lessing (Inggris)
(belum ada)

2006 - Orhan Pamuk (Turki)
White Castle, Serambi 2007
My Name is Red, Serambi 2007
Snow, Serambi 2008
New Life, Serambi 2008
Istanbul, Serambi 2009

2005 - Harold Pinter (Inggris)
(belum ada)

2004 - Elfriede Jelinek (Austria)
Sang Guru Piano, KPG 2006

2003 - J. M. Coetzee (Afrika Selatan)
Jeritan Hati Nurani, Yayasan Obor Indonesia 1999
Kisah Hidup Michael K, Jalasutra 2003
Aib, Jalasutra 2005

2002 - Imre Kertesz (Hongaria)
Fateless, Bentang 2005

2001 - V. S. Naipaul (Inggris)
Sebuah Rumah Untuk Tuan Biswas, Jalasutra 2003
Mencari Titik Pusat, Sadasiva 2003

2000 - Gao Xingjian (Perancis)
Gunung Jiwa, Jalasutra 2003