Wednesday, 26 June 2013

The Espressologist

The Espressologist: Temukan Cinta dalam Secangkir Kopi Favoritmu!
Penulis : Kristina Springer
Penerjemah: I Gusti Nyoman Ayu Sukerti
Desainer sampul: iggafix
Cetakan I: Januari 2012
Penerbit: Qanita
ISBN: 978-602-9225-26-6

doc.pribadi
Jika kamu mendapati seseorang tengah mencecap Large Nonfat Four-Shot Coffee Latte, jangan pernah memilihnya menjadi pasangan. Menurut catatan Jane Turner, salah satu barista Wired Joe’s yang masih duduk di kelas akhir SMA, kopi itu pilihan cowok jablay berotak ngeres dan dangkal. Tingkat kecerdasan jongkok. Postur tubuh biasa-biasa saja dan sangat perlu berolahraga. Punya penampilan yang urakan. Matanya jelalatan memelototi cewek seksi yang barusan masuk. Lama-lama lehernya bakal patah karena diputar untuk meliriknya. *uwo…uwo*

Jane Turner, yang sangaaat bosan mengikuti pelajaran di kelas, lebih suka membolos dan bekerja sebagai barista. Dia selalu mencatat kopi pilihan pelanggan dan semua tipe dan karakternya. Lama-lama, Jane bisa menebak kopi yang akan dipesan pelanggan sebelum dia mengatakannya. “Penelitiannya” dijadikan Jane sebagai proyek kecilnya. Hobi uniknya ini berlanjut hingga dia bisa menebak peminum kopi apa cocok berpasangan dengan peminum kopi tertentu. Filosofi Jane adalah “minuman pilihanmu mencerminkan siapa dirimu”. Mungkin karena dia lahir dari orang tua yang berjodoh karena kopi juga, makanya Jane punya aura kopi yang kental J

Proyek pertamanya yang berhasil adalah menjodohkan antara pecinta kopi  Medium iced vanilla latte  dengan medium dry cappucinno. Dan itu antara Gavin (yang tampan dan baik hati) dan Simone (cewek manis, terlihat pintar dan apa adanya. Gayanya asyik. Bajunya juga sempurna).

Lama-lama catatan rahasianya ini diketahui oleh Derek, bosnya. Tapi, justru dari sini muncul ide untuk membuatnya menjadi ajang promo. Dan di setiap malam Jum’at, Jane harus menjadi  espressologist, menjodohkan seorang pelanggan dengan pelanggan lainnya didasarkan pada kopi mereka.
Konfliknya adalah, Jane sendiri ternyata menyukai cowok yang sebenarnya kalau dia mau jujur tak cocok dengan kopinya.

Ceritanya memang asyik, seasyik karakter Jane yang ceria, polos, jujur, easy going, dan tipe sahabat yang baik, meski sering kalah jika menghadapi tipe cewek sok cantik kayak Melissa.  

Endingnya juga cukup mengejutkan, paling tidak saya dibuat ragu saat menebak tentang Will (yang supertampan dan jadi pelanggan setia Jane sampai-sampai kena tegur karena tanpa sadar dia memberi kopi gratis seminggu sekali).

Setting yang digunakan benar-benar terbatas hanya di kedai kopi, sedikit di dalam kelas, lalu apartemen. Untunglah karena bahasanya mengalir, ini tak jadi masalah. Dan anehnya kenapa saya selalu membayangkan kalau kedai itu di bandara ya. Hah! Baru sadar karena sebelumnya saya memang mengedit naskah yang settingnya di bandara.

Perkara cover, sebenarnya saya suka. Tapi untuk ceritanya yang ceria dan masuk kategori YA, menurut saya agak terlalu serius. Jadi, saya kaget saat membaca halaman pertama. Nah, memang don't judge a book by its cover, tapi penting juga membuat cover yang sesuai dengan isinya, kan. Minimal, pembaca tidak salah kira.

 Di akhir-akhir halaman, ada beberapa resep kopi dari Wired Joe’s, obrolan dengan penulis, dan glosarium tentang jenis-jenis kopi. Memang recommended banget untuk penyuka kopi tapi minim pengetahuan tentang nama-nama kopi seperti saya. 

NB. Kalau penyuka kopi instant (dengan jenis apa saja yang tersedia di warung) kira-kira pasangan yang cocok penyuka kopi apa, ya? Pinginnya, sih, yang suka medium toffee nut latte :p . Menurutmu, Jane?

Thursday, 7 February 2013

Resensi Buku: Rumah Kecil di Rimba Besar

Rumah Kecil di Rimba Besar (Little House, #1)
sumber gambar: goodreads


Judul: Rumah Kecil di Rimba Besar #1 (Little House-Seri Laura)
Judul Asli: Little House in the Big Woods
Penulis: Laura Ingalls Wilder
Penerjemah: Djokolelono
Ilustrator: Garth Williams
Tebal: 216 hal.
Penerbit: Libri (pernah diterbitkan dengan judul yang sama oleh BPK Gunung Mulia)
Tahun Terbit: 2011 cet. I
Penghargaan: Laura Ingalls Wilder pernah mendapat Laura Ingalls Wilder Award tahun 1954 dan karyanya dengan judul Little House in the Big Woods ini mendapat Lewis Carroll Shelf Award di tahun 1958.

Dulu sekali, gadis berkepang yang tak pernah diam ini menjadi tokoh favoritku. Dialah Laura, yang diperankan oleh Melissa Gilbert. Lincah, pemberani, dan pintar, juga selalu ceria.  Saat itu hari Minggu adalah hari paling dinanti karena tayangan film ini di TVRI. Meski televisi saat itu hanya menunjukkan dua warna: hitam putih dengan tebaran semut kecil jika angin menggoyangkan antena yang dipasang dengan bambu tinggi-tinggi, kami tetap duduk manis menikmatinya hingga usai.

Tanpa disangka aku menemukan buku Little House in the Prairie di perpustakaan SMP-ku. Buku itu masih rapi, dan sepertinya akulah peminat pertamanya. Saat kelas kami mendapat giliran meminjam, serta merta kupilih buku itu.

Bertahun-tahun kemudian, aku mencari buku itu di toko karena ingin mengenang Laura, tapi tak pernah kutemukan. Syukurlah kini seri Laura bisa didapatkan dengan mudah.
Untuk seri pertamanya ini, jangan berharap akan menemukan konflik yang terjadi antara Laura dan teman-temannya, terutama si rambut bergelombang Nelly, yang cantik tapi judes.

Di seri ini, kita hanya akan menemukan kehidupan tenang Laura, Mary, Carrie bersama Pa dan Ma. Kehidupan yang menyenangkan dan damai di antara pohon-pohon besar, di pinggiran Rimba Besar, daerah Wisconsin, tahun 1870.

Rumah mereka dari balok kayu kelabu, dan makanan mereka tersedia di sekitarnya. Membayangkan cara mereka menimbun makanan untuk musim dingin sangat menyenangkan. Madu yang disimpan di dalam batang pohon yang dibentuk sedemikian rupa, labu-labu, kol, wortel, daging, mentega, dan segala macam persediaan makanan hasil buruan Pa yang ditimbun di loteng.
Cara mereka menabung makanan mengingatkanku pada novel klasik The Yearling.

Sama seperti masyarakat pedesaan Indonesia (khususnya Jawa Tengah) zaman dulu, yang biasanya mempunyai lumbung padi untuk persiapan jika musim panen berakhir. Di atas tungku dapur, bergantungan jagung (masih dengan kulitnya) juga labu (waluh), bahan makanan cadangan selain padi.

Dalam buku pertama seri Laura ini, cerita yang mengesankan adalah saat Pa kebingungan melawan beruang madu di malam hari, yang ternyata hanyalah tonggak kayu.
Jika di televisi, adegan paling mengesankan adalah cara mandi mereka, terutama Laura dan Mary. Biasanya kami akan tertawa terbahak jika melihat Laura diangkat oleh Pa, dicemplungkan ke dalam drum kayu sepinggang Pa yang dipenuhi air.

Kehidupan mereka yang sederhana, dekat dengan alam, mengambil sesuai kebutuhan, sungguh menerbangkanku ke masa kecil di desa tempat kelahiranku. Deskripsi alamnya yang detail hingga kita seakan bisa mencium harumnya gula maple (aku membayangkan gula jawa), cocok untuk anak umur berapa saja. Tetapi jika melihat teks, huruf, dan ketebalannya, sepertinya anak usia 9-10 tahun baru bisa melahapnya tuntas.
Oya, aku suka banget dengan model baju Laura dan topi lebarnya. Sayang sekali tak menemukan fotonya.
sumber foto: http://www.answers.com/topic/little-house-on-the-prairie-tv-series-1.
Pemeran dalam film:

  • Michael Landon as Charles Ingalls (1974–83)
  • Karen Grassle as Caroline Quiner Ingalls (1974–82)
  • Melissa Gilbert as Laura Ingalls Wilder (1974–83)
  • Melissa Sue Anderson as Mary Ingalls Kendall (1974–81)
  • Lindsay and Sidney Greenbush as Carrie Ingalls (1974–82)


  • Resensi ini aku ikutsertakan dalam RC Read a Long with Children Lit dengan tema Laura Ingalls 
    dan Fun Year With Children’s Literature : Fun Months 1 (tema award winner) di blog Bacaan B Zee.


    Kalian masih bisa ikut juga dalam challenge ini. Daftar saja di sini.

    Sunday, 3 February 2013

    Jurnal Jo vs So B. it

    So B. It (Biarkan Berlalu)
    sumber: goodreads
    Jurnal Jo
    sumber: goodreads



     Sering sekali, kan, kita menemukan cover buku yang mirip satu sama lain. Aku tidak hendak menjustifikasi atau menganggap itu buruk atau sebaliknya. Jujur saja aku sekadar tertarik dengan hal ini. Kalau bisa, sih, ingin tahu apakah memang sengaja dibuat mirip atau cover A menjadi ide dasar dari sang desainer cover saja atau bahkan sama sekali tak ada hubungannya, bahkan si desainer tak tahu menahu soal cover yang ternyata mirip itu.
    Misteri sebuah ide. Sama seperti konten sebuah novel, tak sekali dua kali saya menemukan hal-hal yang mirip, bahkan beberapa teman penulis pernah kaget karena ternyata apa yang ia tulis mirip dengan penulis yang lain, padahal ia sama sekali belum membaca atau mendengar cerita itu.
    Jadi begitulah sebuah ide, kita tak bisa begitu saja memberikan justifikasi bahwa si A mencontek si B. Jadi saya lebih suka jika menikmatinya saja sebagai sebuah kreativitas.

    Posting pertamaku tentang Cover Mirip adalah antara novel So B. it dan Jurnal Jo.
    Keduanya sama-sama novel teenlit terbitan Gramedia. Aku baru membaca Jurnal Jo. Ceritanya asyik, meskipun itu ditujukan untuk anak SMP (yeah ... pantas utk anakku beberapa tahun lagi :D ) tetapi aku bisa menikmatinya. Justru bisa digunakan sebagai pegangan menyelami dunia anak sekarang.

    Sayangnya So B. it tidak jadi aku beli, hanya kutimang-timang lalu kuletakkan kembali. Jika ketemu lagi mungkin sebaiknya aku beli untuk mengetahui apakah isinya pun mirip.