Tuesday, 25 October 2016

Surga Retak

Judul: Surga Retak
Penulis: Syahmedi Dean
Editor: Desmonia Ningrum
Penerbit: Gramedia
Ilustasi sampul: Iksaka Banu
Cetakan pertama, Juli 2013
Halaman: 488
ISBN: 978-979-22-9632-7

SINOPSIS

Anjani Suri dan Fatma (kembarannya) harus melintasi hutan di malam hari bersama Bapak. Suri harus memegang jaket bapak kuat-kuat agar tak terlempar dari sepeda motor. Sementara. Fatma yang sedang demam harus dijaga agar tetap duduk tegak.
Kemiskinan dan kebodohan yang membuat hidup mereka menderita. Bapak menjual istrinya di meja judi, hingga akhirnya sang istri melarikan diri ke China untuk bekerja. Suri dan Fatma hanya mendengar kabar dari para tetangga. Karena sedihnya, Fatma berjanji tak akan bicara sama sekali. Jadilah Fatma membisu sepanjang waktu.
Setelah menempuh perjalanan malam yang berat, mereka tiba di sebuah rumah kayu kecil, berlantai tanah, dan beratap rumbia. Suri tidak tahu mengapa mereka harus pergi. Meninggalkan rumah, sekolahnya, dan Murad, teman laki-laki yang padanyalah benih rasa cinta Suri tumbuh untuk yang pertama.
Sejak awal pindah, Suri sudah merasakan banyak keanehan di sekitarnya. Bapaknya lebih sering pergi. Ada perempuan lain bernama Tante Nur dan Rohana yang sebaya Suri, yang tiba-tiba menganggap mereka kerabat. Bahkan Bapak sering menginap di rumah Tante Nur. Suri dan Fatrma antara sedih dan nyaman. Sedih karena Bapak sudah mengkhianati ibu. Nyaman karena Tante Nur memperlakukan mereka seperti anak sendiri.
Pindah rumah ternyata tidak membuat kehidupan Suri dan Fatma membaik. Bahkan banyak kejadian mencekam di tepi perkebunan karet itu. Perkelahian hingga penembakan misterius. Orang-orang hanya bergantung pada Nek Ginthuk,  seorang wanita tua yang dipercaya dapat menyelesaikan segala persoalan masyarakat di kampung tersebut. Bahkan akhirnya Suri tinggal bersama Nek Ginthuk. Meski banyak orang yang merasa takut pada perempuan tua itu, tapi justru Suri merasa aman dan nyaman. Dari Nek Ginthuk, Suri belajar banyak hal. Suri melihat dunia yang lebih luas hingga berkenalan dengan Wilson, pemuda keturunan China. Wilson lah yang menolong Suri saat berada dalam bahaya. Saat itu, tiba-tiba ada segerombolan orang membunuh Bapak dan berniat membawa Suri. Kampung menjadi kacau. Nek Ginthuk segera menyuruh Suri lari menemui Wilson dan meminta bantuan. Agar lebih aman, Wilson membawa Suri ke rumah Tante Esther di Medan.
Dari sinilah kehidupan Suri berubah. Suri yang naif dan baik, seperti bola yang menggelinding mengikuti kontur tanah tempat dia berada. Menggelinding dari satu tempat ke tempat lain. Dari rumahnya yang tenang menuju rumah baru yang penuh tragedi, berpindah menuju Medan dengan kehidupan yang lebih modern, hingga tiba di negara Singapura dengan segala kemewahan dan kerahasiaannya.


REVIEW

Novel ini berlatar belakang di daerah perkebunan Deli. Mengisahkan kondisi masyarakat di masa orde baru, ketika perkebunan peninggalan Belanda menjadi rebutan para petinggi negara. Banyak peristiwa yang tak jelas ujung dan pangkalnya. Tiba-tiba ada pembunuhan, perampokan, hingga perseteruan menjelang pemilu. Keluarga Suri adalah salah satu contoh masyarakat yang menjadi korban keadaan chaos itu. Bapak mewakili sosok warga yang menggantungkan hidup dari berjudi. Kebiasaan yang ternyata merupakan peninggalan Belanda untuk membodohkan rakyat sekaligus merampok uang mereka diam-diam.
Selain perjudian, tanah Deli juga dipenuhi dengan pelacuran. Murad, anak laki-laki yang belum genap berusia 17 tahun adalah salah satu korban dari sebuah keluarga yang berantakan karena kemiskinan. Bapaknya pergi entah ke mana, dan ibunya karena harus bertahan hidup terpaksa menjual Murad pada para istri orang kaya.
Deli adalah emas bagi Belanda (dahulu) dan para pejabat, tetapi "neraka" bagi penduduk aslinya. Masyarakat Deli juga sangat kompleks karena Belanda mendatangkan orang-orang dari China, Bagelen (Jawa), juga orang-orang India ke tanah Deli.

Sejujurnya saya bingung mereview novel ini. Banyak sekali tokoh yang dilibatkan dalam cerita dan masing-masing tokoh memiliki kisah hidupnya sendiri-sendiri. Main Character memang Suri, tetapi saya justru tidak jatuh simpati pada sosok Suri. Tak ada daya juang dalam diri Suri yang cukup besar. Padahal dengan segala kelebihan yang dimilikinya dan juga perasaan benci, cinta, dan tipu daya orang-orang di sekelilingnya harusnya cukup membuat Suri lebih agresif mengubah nasib dan meraih mimpinya.
Suri seperti boneka yang keberatan peran. Dari peran anak yang ditinggal ibunya, memiliki bapak yang tak peduli, saudara kembar yang membisu, hingga dijadikan alat untuk menceritakan zaman penjajahan Belanda dengan "dibebani" kemampuan melihat dunia lain.  
Saya memang tidak menyukai kisah-kisah seperti itu, tetapi lebih disayangkan lagi, karena kemampuan Suri masuk ke dunia lain itu tidak menuju ke mana-mana. Jika dihilangkan pun tidak akan mempengaruhi jalan cerita karena tak ada hubungan dengan konflik yang dialami Suri dan juga tidak membawa penyelesaian. Mungkin akan lebih asyik jika cerita tentang Deli di masa penjajahan Belanda diungkapkan dari berbagai sudut pandang tokoh. Misal dari Nek Ginthuk atau dari Bapak.  

Saya hampir menyerah di halaman 200-an, tetapi saya berharap akan ada kejutan di halaman selanjutnya. Jadi, saya bertahan meski banyak yang hanya saya baca sekilas.  Setelah halaman 300-an, saya seperti membaca novel Bekisar Merah-nya Ahmad Tohari dengan ending yang lebih metropolis.
Karena penulisnya pernah menjadi wartawan fashion & lifestyle di majalah Femina maka tak kaget jika ada sentuhan fashion dan lifestyle era orde baru di novel Surga Retak. Tas dan sepatu branded ala Channel pun terselip dalam novel ini. Tak heran juga jika ada sosok macam Murad dan gay kita temui.
Jika Murad mengalami transformasi dalam hidupnya, begitu juga dengan Fatma, sayangnya transformasi Suri seakan-akan hanyalah kebetulan. Hanya seperti bola yang mengikuti kontur tanah tempatnya menggelinding.       
 Meski agak kecewa, tetapi saya jadi lebih tahu tentang Deli dan masyarakatnya juga intrik politik yang terjadi menjelang dan setelah kerusuhan Mei 98.  

CATATAN LAIN:

Covernya cukup artistik menurut saya. Font-nya tidak membuat sakit mata untuk novel setebal 488 halaman. Sayangnya, di halaman 240 bagian dalam buku langsung terbelah jadi dua. Hampir semua buku tebal terbitan Gramedia mengalami hal yang sama. Entah terbelah jadi dua atau kertasnya lepas di sana sini.

Saya membeli buku ini karena nama Syahmedi Dean. Saya tertarik dengan tulisannya sejak membaca salah satu dari novel tetralogi fashion-nya.  

Sunday, 16 October 2016

Apapun Selain Hujan

Judul: Apapun Selain Hujan
Penulis: Orizuka
Editor: Yulliya
Penerbit: GagasMedia
Desainer sampul: Agung Nugroho
Jumlah halaman: 288
Cetakan: Pertama, 2016
ISBN: 979-780-850-5

Sinopsis:

Wira membenci hujan. Lebih tepatnya takut pada hujan. Hujan mengingatkannya pada satu hari ketika sebuah tragedi terjadi. Sedih, menyesal, takut membuat Wira melarikan diri dari orang-orang yang akan mengenalinya. Dia bersembunyi sekaligus berusaha melupakan kenangan buruk itu. Wira meninggalkan cita-citanya, gadis yang disayanginya, semuanya.
Sayang, hujan tetap turun di tempat Wira bersembunyi bahkan lebih sering. Dan pertemuannya dengan Kayla si calon dokter hewan yang berawal dari seekor kucing yang kuyup karena hujan mengubah segalanya.

Curhat Buku

Saya membeli buku ini sudah lama. Hanya beberapa saat setelah bukunya terbit dan masih ada di rak paling depan toko buku G**Media. Kebetulan saat itu sedang ada dicount 30 % untuk pengguna kartu BNI. Langsung saya sambarlah buku dari penulis favorit ini.
Kenapa baru sekarang menyelesaikan membacanya? Itu kebiasaan saya. Entah kenapa kalau baca buku dari penulis favorit saya jadi sayang kalau nanti tiba-tiba selesai. Makanya meski buku ini saya bawa ke mana-mana, tetap saja baru saya selesaikan kemarin.

REVIEW

Prolog novel ini memang sudah mengundang rasa ingin tahu dan tak sabar untuk membuka halaman berikutnya. Bab berikutnya dimulai dengan adegan Wira yang sudah berada di Fakultas Teknik Unibraw Malang. Wira sengaja melupakan semua kenangan buruk dan rasa bersalah, dengan mengambil kuliah di kota Malang. Kota yang menurutnya cukup jauh dari Jakarta untuk melarikan diri.
Kehilangan sahabat yang bahkan "disebabkan" oleh kita meski tak sengaja memang bisa menyebabkan trauma. Saat Faiz, sahabat dan partner Wira dalam bermain taekwondo pergi untuk selamanya, sejak saat itulah Wira takut pada hujan. Saat Faiz pergi, hujan sedang turun dengan deras. Maka setiap kali hujan mulai menitik, tubuh Wira gemetar oleh kenangan buruk itu.

Sayangnya, Wira justru harus bertemu dengan Kayla karena seekor kucing yang akhirnya dinamai Sarang. Kayla seorang taekwondoin dan itu membuat Wira seakan dipaksa membuka kenangan buruk saat SMA. Wira ingin menghindar tapi Kayla yang mengingatkannya pada sosok Nadine selalu datang. Dulu Nadine, Faiz, dan Wira adalah tiga sahabat yang tak terpisahkan. Mereka berdua selalu ada untuk Wira yang canggung menghadapi lingkungannya. Background hidup Wira sebagai anak tunggal dengan kedua orang tua yang jarang mengajaknya bicara semakin membuat Wira menjadi sosok yang tidak percaya diri.

Karakter Wira dan Kayla mirip karakter Aris dan Naina di novel Orizuka yang berjudul 17 Years of Love Song. Wira (dan Aris) sosok anak lelaki pendiam dan penurut dan cenderung murung, sementara Kayla (dan Naina) sosok gadis yang ceria, penuh semangat, dan selalu berinisiatif.
Karena bujukan Kayla, akhirnya Wira sedikit berubah bahkan bersedia masuk klub taekwondo.

Mulai bab ini semangat saya untuk melanjutkan membaca jadi drop. Sepanjang saya membaca novel Orizuka baru kali ini saya mengalaminya. Menurut saya, perubahan Wira terlalu drastis. Untuk trauma dan karakter yang digambarkan sejak awal, seharusnya Wira tak bisa begitu saja membuka rahasianya pada seorang Kayla. Mestinya ada proses yang lebih smooth sampai akhirnya Wira memiliki alasan yang lebih kuat untuk mau bercerita.
Syukurlah bab itu bisa saya lalui dan semangat untuk menyelesaikan kembali naik.

Untuk menambah konflik, Orizuka menghadirkan sosok Attar, cowok tegap tampan dan senior di club taekwondo. Wira, Kayla, Attar terlibat dalam cinta segitiga. Orizuka memang pintar meramu cerita sehingga kisah cinta segitiga yang diselipkan dalam novel ini meski mainstream tapi enak dinikmati.
Apapun selain hujan, ternyata adalah kalimat dalam penggalan adegan saat Kayla marah pada Wira. Untuk menebus kesalahannya, Wira berusaha meminta maaf. Saat itu hujan deras turun. Kayla berdiri di tengah hujan dan menantang Wira untuk bergabung dengannya sebagai tanda maaf.
"Apapun selain hujan," jawab Wira. Wira akan melakukan apa saja untuk meminta maaf, apapun itu asalkan tidak berada di bawah hujan.

Karena setting utama di Malang, jadi pembaca akan disuguhi beberapa dialog khas arek (orang) Malang.

Bagi saya sosok Nadine dan Kayla sama pentingnya bagi perubahan karakter Wira, jadi saya malah tidak merasa ada perbedaan signifikan siapapun yang dipilih oleh Wira.

Ada satu lagi yang sedikit dilewati Orizuka entah sengaja atau tidak yaitu tentang trauma Wira. Di halaman 252 tiba-tiba dituliskan bahwa dokter yang menangani Wira mengatakan bahwa kemungkinan Wira mengalami PTSD (Post Traumatic Stress Syndrome). Saya agak bingung, sih, karena sejak halaman awal tidak pernah disinggung kalau Wira pernah berada di bawah terapi dokter. Selain itu, adegan ini dibiarkan begitu saja. Jadi pembaca tidak tahu apakah setelah itu Wira harus terapi psikologis atau tidak.

Terlepas dari beberapa hal yang agak mengganggu --bagi saya-- tetapi lagi-lagi Orizuka berhasil membuat saya harus meraih tisu dan diam-diam menghapus air mata yang mengalir deras tanpa terasa saat adegan Wira menangis di rumah sakit setelah kena hajar habis-habisan dari lawan mainnya saat bertanding di Bandung.

Catatan Lain:

Sebagai orang yang sedang belajar menulis, tulisan Orizuka banyak memberi pelajaran misalnya bagaimana membuat semua adegan, tokoh, sekecil apapun perannya tetapi semua mendukung cerita. Misalnya tentang pukulan-pukulan yang diterima Wira saat di arena pertandingan, ternyata itu menjadi keywords dalam menyelesaikan masalah Wira dan traumanya. Bahkan itulah yang menjadi kunci utama dalam novel menyelesaikan novel Apapun Selain Hujan. Tepuk tangan untuk Orizuka. Kamu cerdas, gal!   

Saturday, 13 August 2016

Kopdar Akbar dan Ulang Tahun Kesembilan Goodreads Indonesia 2016


Foto-Makan-Foto-Nimbun Buku-Makan-Foto-Makan-Foto ... Terus Aja Begitu :D
Pasar Antik Triwindu: titik kumpul kopdar
Kopdar Akbar sekaligus merayakan ulang tahun ke-9 Komunitas Goodreads Indonesia kali ini diadakan di Solo. Wuaah ... saya seneng banget, lah. Eh tapi acaranya seharian, sebagai emak-emak agak kepikiran juga gimana ngatur jadwalnya. Sempat mulai ragu, tapi tiba-tiba diinbox Mbak Sani. Baiklah, setelah tanya Alvina dan Bzee run down acara kopdar, akhirnya saya  putuskan ikut dan segera transfer Rp100.000 ke panitia dan konfirmasi keikutsertaan.

Tiba-tiba sejak malam menjelang kopdar hujan turun. Bahkan pagi tanggal 13 Agustus 2016, hujan lumayan deras. Mulailah muncul rasa khawatir kalau hujan tak berhenti. Soalnya tempat ngumpul ada di area terbuka. Syukurlah pukul 8 pagi hujan tinggal menyisakan jejak basah di seluruh kota. Diantar ojek tercintah alias suami, saya menuju Ngarsuporo (pelataran parkir Pasar Triwindu) sebagai titik kumpul.
Sampai di sana, teman-teman yang datang duluan sudah action di depan kamera bareng-bareng. Tenang Buuk ntar poto sendiri.

Awalnya agak canggung gabung sama anak-anak muda segar penuh semangat itu. Berasa paling tua (memang, sih) dan banyak yang belum saya kenal, kecuali anak-anak Joglosemar yang sebagian besar sudah saya kenal dan sudah beberapa kali kopdar plus sering chat di grup wa. Sekitar 50 peserta datang dari 4 penjuru mata angin.


Setelah melakukan registrasi ala GRI saya disuruh memilih satu tote bag batik.
pingin, kan?
Mulailah saling menyapa dan berkenalan. Tak lama seksi logistik alias Ross alias Ken Petung datang membawa beberapa kardus botol air mineral dan berbungkus-bungkus cabuk rambak dan karak. Oh, kirain kita makan di salah satu penjualnya langsung, lho. Makanya saya heran karena di area situ tak ada penjual makanan, kecuali penjual barang antik di dalam Pasar Triwindu.
Oke, mari mencari tempat duduk sendiri-sendiri lalu makan sambil mengobrol sambil action tiap kali ada kamera lewat. Pokoknya kalau kopdar itu acaranya makan, foto, nambah timbunan buku, makan, foto, nambah timbunan buku ... begitu terus.
cabuk rambak

Pukul 9 lebih, rombongan yang datang dari Solo, Jogja, Semarang, Surabaya, Jakarta, Bekasi, Surabaya, Purworejo, Purwokerto, Bandung ini berjalan menuju Pura Mangkunegaran. Karena takut kecapekan, saya minta izin pulang dulu dan akan bergabung lagi saat acara inti di Rumah Rempah. Sesuai jadwal, setelah dari Pura Mangkunegaran, mereka akan balik ke Pasar Triwindu untuk foto-foto (lagi) dan belanja di Pasar Antik Triwindu, baru meluncur ke Rumah Rempah untuk ishoma dan acara inti. Bzee dan Mbak Sani sudah memberi ancer-ancer letak Rumah Rempah. Di Jl Adisucipto, dari hotel Lor In masih ke barat, setelah IHS (setelah hotel Loro Jonggrang, tambahan keterangan dari Mbak Sani) belok kiri. Oke, berarti tidak di pinggir jalan utama.

Saya berangkat ke Rumah Rempah--yang ternyata namanya Rempah Rumah Karya-- dari rumah pukul 1 siang dan yakin bakal telat. Apalagi ditambah acara salah belok, kebablasan, pakai GPS yang tak membantu, yang akhirnya memakai cara manual bin konvensional yaitu bertanya pada beberapa orang. Penjual lotis, tukang tambal ban, lalu penjual hik. 

Voila akhirnya ketemu juga. Ya iyalah susah nemunya karena Hotel Loro Jonggrang yang jadi ancer-ancer tak ada papannya, begitu juga Rumah Rempah. Dan, setelah memastikan kalau rumah yang saya datangi benar (dengan bertanya pada pegawainya) saya masuk dan acara diskusi sudah berlangsung.

Mbak Sani langsung menyuruh saya makan nasi liwet atau selat solo dan Mbak Indah Darmastuti mengambilkan nasi liwet dan wedang beras kencur hangat plus mengangkatkan kursi buat saya. Duuh makasih ya Mbak. Maaf, lho, merepotkan.
nasi liwet
Sambil makan sendiri karena yang lain sudah makan, saya mendengarkan pembicara. Karena terlambat dan nggak kebagian lembar ringkasan buku Serat Centhini jadi saya agak nggak nyambung. Hanya beberapa yang sempat saya tangkap bahwa bagi orang Solo memasak untuk tamu adalah salah satu bentuk penghormatan, sementara tidak begitu di Semarang. Komposisi makanan dipengaruhi juga oleh tingkat ekonomi sebuah wilayah. Misal untuk daerah yang berada di garis kemiskinan maka menu daging akan sangat minim. Berbeda dengan masyarakat Kudus misalnya yang menyajikan Soto dengan banyak daging karena tingkat ekonomi mereka --zaman dahulu-- lebih baik.
Dari pembicara, Bang Aldo--yang ternyata lulusan jurusan Ekonomi dari Amerika (benar nggak ya?)-- dan Mas Muhammad Fauzi, diharapkan kita mau mengangkat dan membudidayakan makanan tradisional Indonesia sehingga bisa sepopuler makanan Korea dan makanan luar negeri lainnya.
desain arsitektur atapnya unik
Seperti biasa setelah itu ada sesi tanya jawab. Karena yang bertanya bakal dapat hadiah buku, jadi saya mencari-cari pertanyaan, dong (nggak mau rugi). 

Acara paling seru adalah kuis dengan hadiah buku yang dipandu oleh Kak Harun dan Uum. Rulesnya adalah salah satu maju lalu memeragakan sesuai judul buku yang ada di daftar Uum. Peserta yang bisa menebak dengan benar berhak memilik satu buku yang ada sekalian mengenalkan diri lalu gantian memeragakan judul buku dengan gerakan tubuh.  Begitu seterusnya. 
Saya benar-benar heran karena selalu ada yang bisa menebak padahal cara mereka memeragakannya malah bikin ngakak duluan.  Ada juga yang bisa nebak padahal belum diperagakan cuma dikasih clue sama Harun: 2 kata, pernah difilmkan. Haduuuh ... mereka pengunyah buku atau cenayang sebetulnya? Atau jangan-jangan dia banyak baca buku primbon atau buku Ronggowarsito, weruh sakdurunge winarah. #salim
Gerakan tubuh saya untuk menggambarkan judul buku Pangeran Kecil ternyata berhasil ditebak oleh si Dion dari Jogja.

Kali ini saya berhasil menebak 2 buku. Bekisar Merah dan Robohnya Suara Kami. Yaaayyyy! Dan inilah hasil buku yang bisa saya bawa pulang untuk menambah rak timbunan #plaks

ahseek, nambah timbunan ... eh
Eh sebelum kuis tadi ada acara tiup lilin dan pemotongan kue ulang tahun Goodreads. Dan pukul 4 lebih acara pun diakhiri dengan foto ... foto ... foto ... foto ... 

Terima kasih banyak untuk panitia kopdar akbar. Maaf ya saya nggak bantu-bantu padahal diadakan di Solo. Terima kasih untuk keseruannya. 

Semoga teman-teman yang pada tepar segera segar kembali.  Sampai jumpa lain kali!
fotografer difoto


ada jajanan pasar
Acara ini disponsori oleh Penerbit Gramedia dan Bentang Pustaka juga GagasMedia

Semoga IRF (Indonesia Readers Festival) sekali dua juga diadakan di Solo. Ya ya ya ....

The last but not least, sambil mengasah memori saya akan mencoba mengingat siapa saja yang datang dan dari mana:

SOLO:

Dokter Busyro aka Bzee
Ross aka Ken Petung
Dani aka Perdani
Alvina (sayang dia cuma ikut acara pagi sampai siang)
Sulis
Sani B Kuncoro
Indah Darmastuti
Laura
Indah (Kusumodilagan -- kayaknya)
Tiwik
Ngadiyo

JOGJA:

Dion
Wardah
Andreas

MAGETAN:
Dince aka Dina (yang terlibat perdebatan denganku masalah pecel hahahaha ...)

SURABAYA
Selvi (ternyata dari JAKARTA hahaha)

SEMARANG
Lila
Tezar
Ika
Cyndi

PURWOREJO:
Nias

JAKARTA, BOGOR, BANDUNG, BEKASI

Harun
Uum (katanya dari Bekasi)
Miaaa ( huruf a nya harus 3. Kenapa? Hanya dia dan Tuhan yang tahu)
Aldo
Sekar (eh ada nama itu nggak ya?)
Ibu Tio aka Tukang Kue Keren (dari Bandung yang datang bawa 2 putrinya eh ternyata cuma bawa 1 *sungkem)
Bunga Mawar (aslinya siapa, lupa)
Melisa (sayangnya lupa yang mana padahal sempat kenalan) dan ternyata dari SURABAYA

YANG INI LUPA DARI MANA

Pra (dari SEMARANG)
Andrebebek atau bebekandre?(dari JOGJA)
Ghozy (dari SURABAYA)

Yaah ... lumayan lah memori saya, kan?




Monday, 12 October 2015

Mobil, Bokap, Gue

aku, buku, dan kopi
cover
Judul: Mobil, Bokap. Gue
Penulis: Halluna Lina
Penerbit: PlotPoint
ISBN: 978-602-9481-69-3
Terbit: Juli 2014
Tebal: 335 hal.
Harga: 59.000,-
                                 Perjuangan Dinar Menyetir Mobil dan Hidupnya

Dalam hidup, manusia melewati tahapan demi tahapan. Remaja adalah tahapan yang sering mendapat perhatian ekstrabanyak. Mereka telah berkembang cara berpikirnya, tak lagi menelan mentah-mentah omongan orang tua. Mereka mulai kritis dan lebih percaya pada teman-teman sebaya karena dianggap lebih bisa memahami emosi mereka.

Karena kebutuhan inilah maka tercipta peer group, sekumpulan remaja sebaya yang memiliki hubungan erat dan saling tergantung. Dalam peer group, mereka berusaha menemukan identitas dirinya dan teman menjadi tolok ukur dalam  menilai siapa dan bagaimana dirinya.
Peer group memang diperlukan bagi remaja untuk aktualisasi diri dan menambah wawasan. Namun, dalam kelompok ini kadang muncul dua hal: peer pressure negative dan peer pressure positive. Remaja yang cenderung labil ditambah hubungan yang tidak baik dengan orang tuanya, biasanya terjebak pada kelompok yang memberi pengaruh negatif pada dirinya.

Dinar, dalam novel ini adalah representasi dari remaja tersebut. Hubungan dengan ayahnya yang bak kucing dan anjing, membuat Dinar mencari kenyamanan melalui Geng Cantik, geng paling popular di SMA-nya, yang dipimpin Bianca. Demi lolos dari trial member, Dinar rela melakukan apa saja. Dinar merasa dirinya gadis yang terlalu biasa, sehingga dia harus melakukan sesuatu yang membuat Geng Cantik respect padanya.
Ada peer pressure negative yang mengubah Dinar yang baik dan penuh semangat juga apa adanya menjadi Dinar yang melakukan sesuatu demi pujian orang lain, demi menyenangkan Bianca dan Geng Cantik juga Bram. Bahkan Dinar tak bisa menentukan masa depan yang akan dipilihnya.

“Gue belum kepikiran mau jadi apa. Kira-kira kerja apa ya, yang menurut orang keren?” (h. 139)

“Sayang banget tahu nggak? Gue kagum sama lo. Lo itu pekerja keras, tapi lo nggak punya tujuan, kalaupun ada tujuannya juga salah. Kalau usaha keras cuma demi orang lain, itu bakalan sia-sia aja. Hidup kan nggak selalu buat nyenangin orang lain terus-terusan.” 
Ini teguran Riko, cowok sekelas Dinar yang suka nyolot, nyindir, dan sok tahu tapi jago otomatif dan menolong Dinar agar bisa menyetir dengan cepat. (h. 167).

Demi menyenangkan Bianca dan teman-temannya, Dinar berani mencuri soal ulangan dari meja gurunya, dan mengaku jago menyetir. Dinar berhasil mendapat pujian sebagai gadis superb, cool, dan keren. Bahkan, dia berhasil menarik perhatian Bram, cowok tajir dan ganteng, juga pembalap.

Konsekuensi dari kebohongannya, Dinar semakin jauh dari Ayah sekaligus harus menutupi kebohongan dari depan Geng Cantik. Demi menjaga rahasia tentang dirinya yang sebenarnya tak bisa nyetir sama sekali, Dinar melakukan tindakan nekat hingga membahayakan dirinya sendiri dan membuat ayahnya makin marah. Tapi, Dinar tak kapok. Dia tetap rela meminta pada Ayah agar mengajarinya menyetir. Dinar yang suka ngeyel dan tak disiplin harus kuat menghadapi omelan demi omelan dari ayahnya yang galak, disiplin, dan superior. Semua demi Geng Cantik, demi pengakuan akan eksistensinya.

“Pokoknya Ayah gue itu beda. Hobi ngomel dan senang banget bikin gue gugup.” Perkataan Dinar pada Riko. (h. 138).

Tapi, dari sinilah, Dinar mulai memahami bagaimana Ayah yang sebenarnya, ketika diam-diam mendengar percakapan antara Ayah dan Ibu. “Ayah, tuh, khawatir, Bu, sama Dinar. Dinar bisa nggak ya, jadi orang sukses?” (h. 210)

Perasaan Dinar mulai terbelah. Apakah menuruti semua permintaan Geng Cantik dengan segala risikonya atau menjadi dirinya sendiri, tapi siap didepak dari Geng Cantik?
Sindiran-sindiran Riko selama ini yang membuat Dinar sebal dan keki tanpa sadar ikut memberi andil pada keputusan Dinar. Bahkan dengan jujur, Dinar mengakui di depan kelas, saat Pak Agus menyuruh semua murid menulis cita-cita mereka dan membacakan di depan kelas, kalau dia bingung mau jadi apa. Menurutnya semua profesi itu susah. Jadi presiden itu repot, jadi dokter hewan dia alergi kucing, jadi dokter bedah malah akan ninggalin gunting di tubuh pasien.
Tapi, ada kalimat yang dibaca Dinar di depan kelas yang tak hanya membuat terharu tapi juga membuat teman-temannya kagum akan kejujuran Dinar.

“Sekarang saya cuma kepengin bilang, saya memang belum tahu saya mau jadi apa. Namun, saya sudah tahu saya tidak ingin jadi orang seperti apa. Saya tidak mau jadi ‘orang-orangan’. Orang palsu. Orang yang bukan diri sendiri.” (h. 302)

Semua perubahan tentu saja membawa risiko. Jadi, Dinar harus kuat menghadapi ulah Bianca dan teman-temannya setelah itu.

Halluna Lina menyajikan novel dengan bahasa yang mengalir, ringan, dan nyaman diikuti sampai akhir. Banyak hal bisa dipetik dari setiap kejadian yang dialami Dinar. Bukan hanya tentang sikap Dinar dan Geng Cantik, tapi juga hubungan antara ayah-anak, dan bagaimana menjadi diri sendiri dan menghargai apa yang ada pada diri kita.
Cover dan judulnya unik, menjadi daya pikat tersendiri bagi pembaca. Selamat menikmati kisah cinta seorang ayah, cinta seorang anak, dan tentang cinta pertama.

Thursday, 2 July 2015

Header Baru

Ecie ... headernya berubah! Akhirnya saya dapat header baru sesuai konsep yang saya inginkan. Gratis pula.
Sudah lama dan berkali-kali  saya gonta ganti header tapi nggak ada yang benar-benar sreg.  Sering pula komposisinya tidak pas. Maklum gratisan. Beberapa waktu lalu, setelah baca masukan dari temen-temen yang ikut GA  tentang tampilan blog ini, niat saya makin kuat untuk mencari template berbayar.
Tiba-tiba ada teman saya, si Eki, yang baik hati, pemilik web Fardelyn Hacky, malah nawarin mau bikinin header. Saya pun memberi konsep padanya. Pokoknya sesuai judulnya ada gadis, kopi, dan buku. Eh, baru beberapa hari Eki sudah kirim hasil karyanya.
Bahagia ... akhirnya punya blog dengan sentuhan personal. Puas? Belum. Background masih kurang sreg. Sedikit demi sedikit saya akan berusaha memperbaiki blog ini. Bukan hanya dari tampilannya, tapi juga isinya. Semoga lebih banyak memberi manfaat buat pembaca.

Terima kasih, ya Eki, untuk header manisnya. Gratis pula.

Wednesday, 15 April 2015

THE WINNER of Spring of Love Giveaway

Heyyaa ... akhirnya saat yang paling ditunggu tiba. Pengumuman pemenang "SPRING OF LOVE GIVEAWAY"!

Awalnya agak ragu ada yang tertarik dengan GA yang baru pertama saya adakan ini. Ternyata ada lebih 20 yang ikut. Terima kasih terima kasih. Meskipun tak sebanyak peminat blog teman-teman yang lain, sih.
Nah, menentukan siapa pemenangnya cukup bikin galau. Apalagi pemenangnya hanya satu. Setelah membaca semua komentar, saya harus memilih komentar siapa saja yang sesuai persyaratan. Ada yang tidak mengucapkan selamat ultah untuk BBI, ada yang tidak menjawab salah satu pertanyaan saya. Dari komentar yang sesuai itu akhirnya saya undi. Supaya lebih adil, saya minta anak saya untuk mengambil secara acak satu nama. Dan yang dia ambil adalah nama ... jreng ... jreng .....


Selamat buat ABDURAAFI ANDRIAN!
Kamu mendapatkan Gloomy Gift bertanda tangan dan 3 novel lainnya. 
Saya tunggu konfirmasi kamu dalam waktu 2x24 jam sejak sekarang.

Sekali lagi terima kasih kepada teman-teman yang sudah berpartisipasi untuk meramaikan Giveaway saya yang pertama ini. Semoga saya bisa mengadakan GA berikutnya. 


Tuesday, 14 April 2015

Survivor in Death, J.D. Robb

Judul: Survivor in Death (Penyintas dalam Kematian) #seri 20
Penulis: J.D. Robb
Penerbit: Gramedia 
Penerjemah: Shandy Tan
Terbit: 2014
ISBN: 978-602-03-0915-6
582 hal.
Survivor in Death adalah buku J.D. Robb pertama yang saya baca. Awalnya ragu untuk mengambil buku ini dalam rangka posting bareng subgenre romantic suspense, kaena mengira ini subgenre pararom.. 
Buku ini adalah salah satu serial In Death, dan ini seri ke-20. Kemarin waktu di GM, ada beberapa pilihan buku seri ini. Karena belum pernah membaca seri ini, jadi saya mengandalkan blurbnya. Dan saya tertarik karena seri ini melibatkan anak kecil.
Setting waktu dalam novel ini adalah tahun 2050-an, dengan gambaran teknologi yang  sangat canggih. Misal komputer dengan sensor suara, mobil yang dapat terbang, manusia-manusia hologram, dan sistem komunikasi yang sangat efisien.

Tokoh utama dalam seri In Death adalah Letnan Eve Dalas (yang cantik, dingin, dan jiwa polisinya sangat tajam, sekaligus mengalami trauma) dan Roarke (yang sangat tampan, sangat cerdas, sangat kaya, sangat cinta pada sang Letnan, berambut panjang dan suka dikuncir #bikinklepek-klepek)
Survivor diterjemahkan dengan kata "penyintas". Karena penasaran dengan kata "penyintas" yang belum familiar, saya pun googling. Menurut artikata, penyintas adalah bertahan terus menerus. Wah, nambah kosakata baru nih.
 Oke, mari kita bahas kisah Letnan Eve Dallas kali ini.

Tidak ada perselingkuhan. Tidak ada catatan kriminal. Tidak ada DNA yang tertinggal. Tidak ada petunjuk apa pun. Kasus pembunuhan sadis keluarga Swisher akan merupakan pembunuhan sempurna... seandainya tidak ada gadis kecil yang bersembunyi dalam dapur gelap dan menyaksikan semuanya.

Letnan Eve Dallas tahu sang saksi tunggal, Nixie Swisher, belum luput dari bahaya karena cepat atau lambat pelaku akan menyadari kesalahan fatal tersebut. Dallas tahu dirinya harus menyelesaikan kasus ini sampai tuntas. Bukan hanya untuk Nixie. Bukan hanya untuk keadilan. Tapi juga untuk ketenangan batinnya sendiri yang terguncang oleh kenangan kelam dan ketakutan masa lalu seiring berlangsungnya penyelidikan tragedi ini.
Kisah dibuka oleh Nixie Swisher yang mengidam orange fizzy. Karena kesukaannya pada minuman ini, hingga Nixie mengenda-endap ke dapur di tengah malam. Saat itulah, Nixie melihat bayangan hitam yang menyebabkannya kehilangan semua orang yang ia sayangi, termasuk sahabatnya, Linnie, yang saat itu menginap di rumahnya.

Ketika Eve datang ke TKP, Nixie masih bersembunyi di dalam kamar mandi dengan tubuh gemetar hebat. Insting Eve mengatakan bahwa Nixie masih dalam bahaya. Karena itu, Eve menyembunyikannya di kastil Roarke (yang juga jadi tempat tinggal Eve) yang sangat terjamin keamanannya.
Eve tahu dia berhadapan dengan penjahat yang sangat kejam dan profesional. Maka dia mengerahkan semua anak buahnya untuk menelusuri motif pembunuhan tersebut. dalam masa penyelidikan itu, seorang petugas sosial meninggal, dan dua polisi anak buah Eve dihabisi. Eve makin murka. Di sinilah peran Roarke sangat dibutuhkan. Roarke bukan polisi, tapi sepertinya Eve diberi izin oleh atasannya untuk meminta bantuan Roarke, karena Roarke yang mantan pembunuh bayaran itu tahu seluk beluk kejahatan dan orang-orangnya.
Di rumah Roarke yang megah akan kita ketahui berbagai teknologi canggih. Tak hanya komputer, tapi tempat hiburan, dan ruang olahraga yang bisa memunculkan lawan main dalam bentuk manusia hologram hingga setting yang berubah-ubah dari dojo hingga tepi pantai yang indah. Untuk hal ini saya tak bisa membayangkan bagaimana caranya.
Tahap-tahap penyelidikan para polisi sangat menarik diikuti. Bagaiman mereka menghubungkan orang-orang dengan kasus yang terjadi dirangkai dengan asyik. Saya ikut menebak-nebak motif apa yang dimiliki si pembunuh. 
Dengan dialog-dialog yang mengalir, kadang lucu, kadang menyentuh pantaslah kalau banyak pembaca yang jadi fans seri In Death. Saya pun ketagihan ingin membaca urut dari seri pertama.
Letnan Eve Dallas digambarkan sebagai polisi yang sangat berdedikasi dan cerdas. Dia akan mengejar musuhnya seperti singa. Karena masa lalunya yang buruk, Eve menjadi dingin dan takut berhadapan dengan anak kecil, seperti Nixie. 
Nixie Swisher digambarkan sebagai anak kecil berumur 10 tahun yang cantik, pemberani, kuat, dan cerdas. Nixie, karena didikan yang baik, menjelma menjadi gadis kecil yang penuh kasih sayang dan dewasa.
Sedangkan Roarke adalah sosok suami idaman, baik secara fisik maupun kepribadian. Perhatiannya pada Eve benar-benar membuat hati berdesir.
 
Sejujurnya saya bingung apa lagi yang harus saya tulis untuk review ini. Pokoknya, saya tak rugi membeli buku ini, meski harganya lumayan.
Salah satu adegan menegangkan tapi saya tertawa dan sangat berkesan adalah ketika Eve memancing tersangka di jalan raya. Eve memerintahkan Trueheart untuk turun dari mobil dan membeli minuman.  Eve ingin meyakinkan bahwa mobil van di belakangnya memang membuntuti. Setelah Trueheart masuk mobil, Eve bermanuver untuk mengikuti mobil van itu. Mereka akhirnya berkejaran di jalan dan udara. Meliuk-liuk hingga mengacaukan lalu lintas. Tersangka sempat menembakkan senjata ke mobil Eve. Sayangnya, Eve kehilangan jejak. Dalam kondisi marah, jantung Eve berhenti berdetak ketika melihat baju Trueheart dipenuhi cairan merah. Eve mengira Trueheart terkena tembakan, ternyata fanta yang dibelinya tumpah ketika Eve bermanuver.

Adegan-adegan menegangkan, lucu, romantis, dibumbui dialog-dialog kasar Eve dan polisi lainnya bertebaran di buku ini.Dan itu bikin nagih.
Begitu saja deh reviewnya.  Meskipun di bab awal cukup mengerikan dan saya tak berani membacanya saat sendirian, tapi akhirnya saya menuntaskan baca dengan puas.

ULTAH BBI ke-4

Selamat Ulang Tahun BBI yang ke-4!
 Selamat ulang tahun Bebi. Semoga makin banyak orang yang cinta membaca buku. Meski baru 4 tahun, tapi ternyata membermu sudah mencapai 200-an. Dan tentu kita berharap akan terus bertambah. Sayangnya, selama 4 tahun ini, tak banyak event yang saya ikut terlibat di dalamnya. Review buku saya pun hanya beberapa. Tapi, bukan berarti Bebi tak memberikan arti bagi hidup ini. Bahkan banyak hal yang membuat saya berubah karena Bebi.
  
Apa Perubahan yang Terjadi pada Diri Ini?

Pertama, Bebi telah menampar saya dalam masalah editing melalui blog salah satu membernya (sakitnya tuh di sini). Dari postingan itu, saya tahu ternyata editing itu sama penting dengan unsur buku lainnya. Hasil editan saya yang dicacah-cacah membuat saya berjanji untuk bekerja lebih baik lagi.

Kedua, Bebi membuat saya tahu cara menulis novel. Jadi, karena seringnya saya membaca review teman-teman, ternyata menjadi modal saya menulis yang baik. Saya jadi tahu apa yang harus dihindari penulis, buku-buku apa yang bisa saya jadikan referensi. Meskipun baru 3 biji buku solo yang saya tulis, tapi semua tak lepas dari jasa bebi.

Ketiga, punya banyak teman, yang baik hati pinjemin buku dan memberi tahu di mana obral buku sedang berlangsung.

Keempat, mungkin ini salah satu efek yang kurang baik, karena Bebi membuat rumah penuh timbunan buku #salahkanBebisaja #plak

Kelima, saya jadi tahu berbagai genre buku, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan buku. Sebelumnya saya hanya pembaca polos. Membaca ya membaca saja. Tak memperhatikan apapun selain isinya. Bahkan saya sering melupakan penulisnya. Bebi mengajarkan saya untuk detail, hingga memperhatikan ISBN.

Jadi, begitulah perubahan yang terjadi selama 4 tahun ini, Beb. Pokoknya doa terbaik untuk Bebi di tahun ke-4 ini.
member BBI Solo

Monday, 13 April 2015

Around the Genres: 101 Subgenre Romance-Romantic Suspense


Di postingan sebelumnya saya sudah membahas sedikit tentang definisi romance fiction. Yang jelas romance fiction is smart, fresh, and diverse (seperti kata myRWA). Genre ini memiliki dua elemen paling mendasar yaitu:  fokus pada kisah cinta dan kepuasan emosi dan optimistic ending.

Romance Fiction, memiliki banyak sekali subgenre.
-Adventure Romance
-Paranormal Romance
-Historical Romance
-Western Romance
-Erotic Romance
-Contemporary Romance
-Chic-lit
-Fantasy Roamnce
-Romantic Suspense
-dll.
Bisa lihat di sini.

Kali ini saya akan membahas subgenre ROMANTIC SUSPENSE yang jadi favorit saya setelah historical romance. Di goodreads, ada perdebatan tentang genre suspense ini. Apa bedanya dengan thriller, criime, dan mystery? Saya jadi bingung juga akhirnya.
Menurut writersdigest, Romantic Suspense: a novel in which an admirable heroine is pitted against some evil force (but in which the romantic aspect still maintains priority).
Setuju deh dengan definisinya, karena buku-buku yang saya baca selama ini --dan itu masih sedikit--sesuai dengan apa yang didefiniskan writersdigest tersebut.
Sampai saat ini saya baru baca buku-bukunya Linda Howard (lagi?), Nora Roberts, dan satu buku JD Robb. Kalau mau tahu lebih banyak buku-buku jenis ini bisa lihat di goodreads.


Mengapa saya suka Romantic Suspence?
Mungkin karena sejak kecil saya suka buku-buku detektif karangan Enyd Blyton, Alfred Hitchcock, Agatha Christie, lalu mengenal Sydney Sheldon dan John Grisam. Kemudian ketika menemukan tulisan Linda Howard, akhirnya ketagihan dengan subgenre ini. Bertepatan saat itu saya lagi jatuh cinta sama novel-novel genre romance. Beruntung pula cover-cover novel ini tidak mengundang pelototan karena tidak menampilkan otot pria dan perut penggilesan bajunya atau pose 'hawt' pria dan wanita.
Tokoh-tokoh dalam sugbenre ini biasanya polisi, agen CIA dan mantannya, detektif. Intrik-intrik kejahatan yang melibatkan CIA sangat asyik untuk diikuti. Kalau pernah membaca buku MOSSAD, semua intriknya mirip.


Efek buruk (atau malah bagus?), saya jadi tidak gampang percaya dengan berita di media tentang kasus-kasus kejahatan  yang terjadi di tingkat atas. Karena tidak menutup kemungkinan banyak rekayasa yang dilakukan untuk kepentingan politis.
Meskipun buku-buku fiksi itu adalah imajinasi, tapi bagaimanapun, sebuah karya (dalam hal ini tulisan) itu adalah cermin masyarakatnya.

Untuk subgenre ini, biasanya akan terjadi hubungan romantis selama mengusut kasus. Beberapa buku menceritakan kisah cinta antara polisi (agen, detektif) dengan tokoh yang diselamatkan. Beberapa lagi mengisahkan tentang korban sandera yang jatuh cinta pada penyanderanya. Dalam psikologi lebih dikenal istilah Sindrom Stockholm. 

Baca juga postingan teman-teman tentang subgenre romance lainnya:.

Wednesday, 1 April 2015

Spring of Love Giveaway


Wowowo ... ini pertama kalinya saya mengadakan giveaway. Selama ini lebih sering jadi pemburu buntelan. Jadi, mumpung ada event untuk meramaikan ultah BBI ke-4, saya semangat untuk ikut bagi-bagi, dong. Ini sebagai bukti loyalitas saya pada BBI yang telah berjasa meluaskan wawasan saya tentang buku. Aye!

Nah, Giveaway ini berlangsung mulai tanggal 1-13 April. Pengumuman pemenang pada tanggal 15 April 2015.
Hadiah yang saya berikan untuk GA pertama ini sampai saya bela-belain beli buku ke penulisnya langsung supaya dapat tanda tangan, lho. Plus beberapa koleksi pribadi yang saya beli dobel, baik secara sengaja atau tidak.
Maaf, untuk kali ini hanya ada satu pemenang.

Ini hadiahnya:

1. Ping, A Message from Borneo karya Shabrina WS dan Riawani Elyta
2. Izmi dan Lila karya Riawani Elyta
3. Zona @Last karya Dewie Sekar 
4. Gloomy Gift karya Rhein Fathia + tanda tangan.

Karena tak ada makan siang gratis, jadi ada beberapa pertanyaan dan syarat untuk mengikuti dan menjadi pemenangnya. Nggak susah, kok.

Pertanyaannya adalah:

1. Siapa penulis romance favorit saya? Sebutkan 2 nama. Satu dari subgenre metropop, satu dari romantic suspense. (Ada di salah satu postingan saya, kok)
2. Penulis Romance yang paling kamu sukai siapa? Boleh dong cerita sedikit ke saya.
3. Tulis saran kamu untuk blog saya ini. Terserah kalian, bebas.

Ini Syarat Utamanya:

1. Follow blog ini melalui GFC atau email (supaya saya semangat ngeblog, hihihi).
2. Share GA ini ke akun sosmed kalian.

3. Jawab semua pertanyaan melalui kolom komentar. 
Format:
Nama, Email, dan Id twitter
Nama untuk memfollow GFC/email
Link Share Giveaway 
Ucapan selamat ultah utk BBI.
Jawaban 3 pertanyaan di atas

4. Alamat pengiriman hadiah untuk pemenang hanya di Indonesia.
5. Pemenang diberi waktu hingga 2x24 jam untuk menghubungi saya melalui email atau twitter. Jika lebih dari batas waktu, saya akan memilih pemenang lainnya.
6. Keputusan pemenang di tangan saya dan tidak boleh diganggu gugat.

Oke, selamat mengikuti Giveaway ini. Ikuti juga GA yang diadakan teman-teman saya lainnya di sini.

Playing Around with Romance: Your Very First Romance Book

Sore yang panas. Semoga hati tetap dingin. Tanggal 1 April, saatnya kita mulai bermain-main dengan romance. Kali ini, saya akan menceritakan tentang buku romance pertama yang saya baca.
Sebenarnya saya lupa-lupa ingat. Kalau tidak salah ketika saya SMA, saya mulai membaca buku-buku Mira W, Marga T, atau Ike Soepomo..
Novel yang masih saya ingat adalah Kabut Sutra Ungu karya Ike Soepomo. Tapi jangan tanya bagaimana ceritanya, karena saya lupa.

gambar dari www.amartapura.com

.Di antara masa itu saya juga membaca novel Karmila yang pernah dibuat sinetronnya di televisi dan Badai Pasti Berlalu. Badai pasti berlalu juga telah difilmkan dengan Cristine Hakim sebagai bintangnya.
Setelah itu, saya vakum membaca buku romance dan lebih tertarik membaca buku-buku nonfiksi dan novel sastra.
Ketertarikan saya terhadap novel romance bangkit ketika booming novel-novel FLP. Beberapa di antaranya adalah karya Asma Nadia dan Izzatul Jannah. Hingga akhirnya saya sampai pada titikjenuh dan kembali memilih bacaan nonfiksi.  Ketika Ayat-Ayat Cinta karya Habiburahman El-Shirazy ramai dibicarakan, saya menuntaskan rasa penasaran untuk membeli dan membacanya.
gambar dari kedai muslim.com
Ternyata minat saya pada buku romance naik turun. Sekitar tahun 2010, saya mengenal novel-novel metropop dari rental buku yang jadi langganan saya. Penulis metropop yang paling saya suka adalah Retni SB, yang sayangnya sekarang jarang mengeluarkan novel barunya.


Sejak saat itu minat baca saya pada buku romance tidak berhenti hingga sekarang. Hampir semua subgenre romance saya nikmati, kecuali fantasy dan paranormal romance. Untuk saat ini subgenre romantic suspense paling saya minati, terutama buku-buku Linda Howard.
Novel LH yang paling berkesan.


Kalau kalian, buku romance pertama apa yang kalian baca?  Jangan lupa ikut GA yang saya posting setelah ini.

Tengok juga postingan  teman-teman dari ordo romance ya.

Tuesday, 31 March 2015

RATU SALJU, Cinta yang Melelehkan Kebekuan

Judul: Ratu Salju
Penulis: H.C. Andersen
Penerbit : Atria
Penerjemah: Ambhita Dhyaningrum
Penyunting: Jia Effendi
Terbit: Maret 2015
ISBN : 978-602-71458-2-5

Tokoh: Kay (anak laki-laki), Gerda (anak perempuan), Ratu Salju, rusa kutub, peri Lapland, gadis perampok.

Siapa, sih, yang tak kenal H.C. Andersen? Dongeng-dongengnya sangat terkenal. Dari mulai Gadis Korek Api, Thumbellina, Si Itik Buruk Rupa (Ugly Duckling), hingga Little Mermaid dan masih banyak lagi.

The Snow Queen atau Ratu Salju, salah satu karyanya yang ditulis pada tahun 1844. Selain Ratu Salju, ada 9 dongeng lain karangan Andersen dalam buku ini.

Ratu Salju bercerita tentang persahabatan antara Kay dan Gerda. Karena sangat akrabnya, mereka seperti kakak adik. Mereka berdua menyukai bunga mawar.
Hingga suatu hari, Kay melihat seorang putri di balik jendela kacanya di musim salju. Keesokan harinya, ketika sedang bermain dengan Gerda, tiba-tiba ada sesuatu masuk ke mata Kay. Seketika itu, pandangan Kay berubaha. Dia tak lagi menganggap mawar adalah bunga yang indah. Begitu juga hal-hal lainnya. Kay suka mengolok-olok orang dan menirukan tingkah mereka.
Benda yang masuk ke dalam mata Kay sebenarnya adalah kepingan cermin milik Goblin jahat. Jika serpihan itu masuk ke hati manusia, akibatnya sangat mengerikan. Hati mereka akan berubah menjadi sebongkah es.

Gerda sangat sedih. Dia tak tahu mengapa Kay yang baik hati berubah nakal. Bahkan Kay meninggalkan Gerda dan memilih bermain dengan anak-anak laki-laki lain di lapangan. Mereka bermain kereta luncur.
Kay ingin menunjukkan pada semua temannya kalau kereta luncurnya yang paling hebat dan cepat.
Saat itulah Ratu Salju muncul dan membawa Kay dengan kereta luncurnya ke suatu tempat.
Gerda mencari Kay, tapi semua orang menganggap Kay telah meninggal karena jatuh ke sungai di pinggir kota.
Gerda yakin Kay tidak meninggal. Akhirnya Gerda bertekad mencari Kay. Di sepanjang perjalanan banyak sekali rintangan yang dihadapi Gerda. Hanyut ke sungai yang deras, bertemu penyihir yang menghapus ingatan Gerda tentang Kay, bertemu gadis perampok, dan lain-lain.
Tapi, melihat ketulusan, tekad, dan kepolosan Gerda, banyak makhluk  yang bersedia membantu.  Seekor rusa kutub bersedia membawa Gerda menuju Kutub Utara, di pulau Spitzbergen tempat tinggal Ratu Salju.
Ilustrasi dalam buku
Dengan bantuan peri Lapland, Gerda berhasil menemukan Kay, sahabat tercintanya. Tapi, Kay seperti patung, diam kaku. Gerda menangis sambil memeluk Kay. Air mata Gerda mengalir dan menyentuh dada Kay.

Film Adaptasi: FROZEN

Tokoh: Elsa, Anna, Kristoff, Sven, Olaf, Pangeran Hans, troll

Dongeng Ratu Salju inilah yang mengilhami film animasi 3D FROZEN. Diproduksi tahun 2013 oleh Walt Disney.
Saya lebih dulu melihat filmnya daripada bukunya.
Frozen menceritakan tentang Elsa dan Anna, kakak adik, putri Kerajaan Arandelle. Diawali dengan hubungan kakak adik yang saling menyayangi. Ketika sedang bermain salju, Elsa yang memiliki kemampuan sihir, melempar salju terlalu keras sehingga membuat Anna jatuh pingsan.
Mama dan Papa mereka (ratu dan raja Arandelle) menyalahkan Elsa. Untunglah Anna dapat disembuhkan oleh troll. Sementara Elsa, oleh kedua orang tua mereka dikurung di dalam istana. Kedua tangannya yang memiliki kekuatan mengubah semua benda menjadi es ditutup sarung tangan. Semua itu dilakukan agar orang lain tidak celaka, sekaligus menyembunyikan rahasia Elsa. Elsa harus jadi putri yang sempurna karena dia calon ratu di Arandelle.

sumber: popsugar.com
Karena tak tahu rahasia Elsa, Anna menjadi sedih karena tak lagi bisa bermain dengan kakaknya. Dia mengira Elsa menjauhinya dengan sengaja.
Hingga tibalah saatnya bagi Elsa untuk acara pemahkotaan. Setelah bertahun-tahun disembunyikan, akhirnya Elsa keluar. Pintu gerbang istana yang tertutup akhirnya dibuka.
Semua rakyat menyambut gembira, terutama Anna.
Tapi dari sinilah semua tragedi dimulai.
 Anna, yang polos, jatuh cinta pada Pangeran Hans, dari kerjaan Isle. Mereka meminta restu Elsa untuk menikah. Elsa menolak karena Anna baru saja bertemu dengan Hans.
Mereka berdua akhirnya bertengkar. Tanpa sengaja, Anna menarik sarung tangan Elsa. Mereka berdua terus bertengkar, hingga kemarahan Elsa tak bisa ditahan. Dia mengayunkan tangannya, dan seketika sekitarnya membeku.

Semua orang kaget dan menganggap Elsa adalah monster. Elsa berlari keluar istana. Anna yang merasa bersalah mengejarnya. Dia menitipkan Kerajaan pada Pangeran Hans.
Dalam pengejaran itulah Anna bertemu dengan Kristoff, Sven (rusa kutub milik Kristoff, dan Olaf (manusia salju).
Adegan-adegannya sangat menarik. Lucu, segar, dan menyentuh. Istana es yang dibangun Elsa sangat indah, begitu juga gaun yang dipakainya.


Dibandingkan dengan bukunya, saya lebih bisa menikmati filmnya. Di dalam buku Ratu Salju, perjalanan Gerda menemukan Kay sangat panjang dan membuat saya agak bosan. Konflik di dalam bukunya juga hanya satu, fokus pada usaha pencarian Kay oleh Gerda.
Sementara di dalam film Frozen, konflik berkembang. Ada subkonflik, yaitu Pangeran Hans dan keinginannya terhadap Kerajaan Arandelle. Ada juga pedagang oportunis, yang membuat film ini bikin penonton geli.

Saya seperti menemukan kisah Snow White di cerita H.C. Andersen, ketika Anna hampir membeku karena Elsa memukul Anna. Satu-satunya cara untuk memulihkan Anna adalah ciuman cinta sejati.
Di dalam buku pun dikisahkan tentang ciuman Gerda yang melelehkan kebekuan Kay.
Seperti kisah Snow White yang tertidur dan hanya bisa bangun oleh ciuman cinta sejati, dan lebih mirip lagi dengan film Snow White and Huntsman.  

Soundtrack film Frozen, Let It Go, yang dinyanyikan Idina Menzel, yang sekaligus sebagai pengisi suara Elsa, semakin membuat film ini banyak disukai.
Meskipun ini dongeng, yang hampir selalu dikonotasikan sebagai cerita anak-anak, tapi saya mendampingi anak-anak ketika menontonnya.

Inti dari kisah Ratu Salju dan Frozen adalah bahwa hanya cinta sejati yang dapat mencairkan kebekuan hati.
Kebekuan pikiran gampang diubah, tapi kalau kebekuan hati, hanya cinta yang bisa.
scene Anna-Kristoff-Olaf yang lucu tapi menyentuh.
sumber gambar: rockinmama.net

sumber bacaan:
http://id.wikipedia.org/wiki/Hans_Christian_Andersen
http://id.wikipedia.org/wiki/Frozen_%28film_2013%29


Thursday, 19 March 2015

(EVENT) Playing Around with Romance

Hello ... pencinta buku [dan kopi] ....
Karena bulan April adalah hari penting bagi Blogger Buku Indonesia, jadi saya ingin berkontribusi untuk ikut merayakannya. Selain itu, agar eksisitensi saya sebagai salah satu anggota BBI tetap diakui. #pamrih
Nah, untuk merayakan ultah BBI di bulan April, kita mengadakan ini ...
Begini, Teman. Dalam event ini BBI dibagi dalam beberapa kelompok genre buku. Masing-masing memilih genre yang paling disukai. Akhirnya terbentuklah 3 kelompok. Kelompok Genre Romance, Genre ScieFic-Fantasy, dan Genre Child.Lit dan YA.
Sudah bisa ditebak saya masuk kelompok mana, kan. Ya iyalah baca judul postinyannya sudah kelihatan, kok. #nyengir

Kelompok Romance terdiri dari 15 peserta. Ini daftar teman-teman pencinta romance:

Afifah Mazaya | Lady's Book Notes @ theladybooks.blogspot.com

Ajen Angelina | Ajen dan Buku yang Dibacanya @ ajendanbuku.blogspot.com

Alluna Maharani | Clair de Lune @ slytherinlegacy.blogspot.com

Angela Noviana | Harlequin Romance @ resensiharlequin.com 
Lilis | Purple Bookish @ bacabuk.blogspot.com

Perdani | Melihat Kembali @ sekotakceritaseusaibaca.wordpress.com

Dinoy | Dinoy's Books Review @ dinoybooksreview.wordpress.com

Meliana | Bookish Roomie @ bookish-roomie.blogspot.com
Nina | The Book Addict Diaries @ thebookaddictdiaries.blogspot.com
Phie | Harlequin Romance resensiharlequin.com
Putri Utama | Read, Review, Romance @ read-book-and-review.blogspot.com
Siro | Review Siro @ review-siro.blogspot.com
Sulis | Kubikel Romance @ kubikelromance.com
Viona | StarKing's Library @ starlibrary.wordpress.com
Ira Elvira | Bacaan Saya @ irasbook.blogspot.com



... sekilas tentang romance ...

Novel romance adalah novel yang fokus pada kisah manusia (laki-laki dan perempuan) dalam menggapai kebahagiaan melalui hubungan cinta dua manusia dan berakhir bahagia.
Mungkin ada sebagian orang yang menganggap remeh genre ini. Haa? Romance? Hanya kisah cinta-cintaan aja.Padahal nggak juga lho.
Baiklah, supaya kalian lebih tahu lagi ada apa di genre romance ini, kalian bisa mengikuti jadwal posting teman-teman saya yang tergabung dalam Kelompok Romance.

Jadi, selama bulan April nanti, kalian bisa bermain-main dalam dunia romance yang hangat dan asyik. #kediptjantik

Nah, supaya lebih asyik dan seru, kami akan mengadakan GIVEAWAY! Yeeyy! Pasti ini yang paling  ditunggu, kan?

Tunggu tanggal 1 April saat Giveaway  digelar. Kalau kalian menemukan banner seperti di bawah ini, berarti GA sedang berlangsung. Are You Really the One?


Jadi, ikuti blog kami, supaya tidak ketinggalan info dan hadiahnya. Hadiahnya apa? Sstt... masih rahasia. Tapi setiap bloghost akan memberikan hadiah masing-masing. Wuaa! Insya Allah hadiahnya keren-keren, kok. Siap-siap, ya! 
Eits ... jangan lupa kunjungi juga blog-blog di bawah ini.